
"Dewi..." Ibu Rahma yang terkejut, pagi-pagi sudah melihat sosok Dewi baru datang ke rumahnya di jemput oleh Satrio.
"Iya Tante, sekalian Dewi mau pamit untuk balik ke kotanya Dewi. Dan kita bertemu di hari pernikahan nanti," jawab Dewi setelah mencium punggung tangan calon ibu mertuanya, berikut cium pipi kanan dan pipi kiri ibu Rahma.
"Iya sayang," jawab ibu Rahma senang. "Kita sarapan bersama yuk," ajak ibu Rahma ramah menyambut Dewi. Rasa canggung diantara mereka sirna. Begitu juga dengan Dewi yang diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga calon mertua.
"Iya Tante."
"Di antar ke Bandara dengan Satrio kan?"
"Iya Tante."
Mereka semua kemudian makan pagi bersama. Namun Dewi sepertinya sibuk mengecek dua sikut milik calon suaminya.
"Kenapa itu sikut kamu?" tanya ibu Rahma.
"Nggak apa-apa ma," jawab Satrio.
Namun berbeda dengan Dewi yang memilih bicara apa ada nya. "Itu, kemarin istrinya kak Dewa hampir tertabrak sepeda motor. Jadi Satrio berlari dan menarik Mega hingga keduanya terpental di aspal jalan. Begini deh jadinya." Dewi menjelaskan.
"Astaghfirullah... kok bisa?" imbuh ibu Rahma dengan menggeser dua matanya ke arah Mega. "Lain kali kamu lebih waspada Mega," imbuh ibu Rahma yang membuat Mega menghentikan sejenak sarapan pagi nya.
"Iya ma."
"Kamu juga Satrio, kamu itu mau menikah. Jangan sampai kamu kenapa-napa." Ibu Rahma yang mulai khawatir.
"Iya ma, ini cuma lecet sedikit kok. Lagi pula juga udah di obati Dewi. Palingan nanti sore juga sudah kering, besok sembuh," jawab Satrio ringan.
.
.
Satu bulan kemudian.
Dewa mengungkit masalah permintaan Sheila sendiri tentang pemberhentian kerja nya. "Kamu masih ingat kan, permintaan kamu sendiri dimana akhir bulan ini adalah hari terakhir kamu bekerja di sini."
Sheila pikir Dewa akan lupa, prasangka nya salah dan kini permintaannya sendiri menjadi bumerang baginya.
Terpaksa, Sheila harus melakukan cara terakhir ini untuk supaya Dewa terpergok oleh Mega dengan sendirinya.
__ADS_1
Mendengar apa kata Dewa, Sheila langsung pura-pura pingsan. Dan benar saja, Dewa terlihat panik memanggil-manggil nama nya dan menepuk pipi Sheila.
Menyuruh salah satu staf hotel untuk menyiapkan salah satu kamar untuk memeriksa Sheila karena sebentar lagi dia akan menghubungi dokter Farhan.
Sedangkan di lain tempat, Mega menerima pesan singkat dimana foto suaminya tengah menggendong Sheila dan membaringkan nya di salah satu kamar hotel.
Ya, Sheila menyuruh salah seorang cleaning servis sebelumnya. Dengan diiming-imingi sejumlah uang, bertugas hanya mengambil gambar seperti yang tengah di lakukan dan mengirimnya ke sebuah nomor yang sudah di perintahkan Sheila, baginya menguntungkan karena uang yang didapatnya lebih dari gajinya satu bulan.
"Sheila..." lirih Mega yang langsung berlari keluar kamar dan menuju hotel Mediterania.
Tidak peduli menabrak bahu Satrio saat mereka berpapasan jalan di dalam rumah. Mega tampak marah dan membuat Satrio bertanya dalam hati ada apa dengan Mega?
"Mama aku ikut," teriak Rania yang berlari ke posisi mama nya.
"Rania di rumah sebentar ya, mama ada urusan sayang," bujuk Mega dengan lembut kepada putrinya.
"Rania..." panggil ibu Rahma. "Rania di rumah sama Oma, kita lanjutkan main nya ya."
Rania kemudian berdiri di depan Oma nya.
"Kamu mau kemana, Mega?"
"Kamu kenapa? Kok nangis?"
"Nanti saja ma aku ceritanya, sekarang Mega berangkat." Mega tampak buru-buru segera keluar dan menghampiri taksi online. "Kita ke hotel Mediterania ya pak," perintah Mega kepada supir taksi online yang ditumpangi.
"Baik mbak."
Tidak lama Mega sampai dan langsung menuju ke sebuah kamar yang dikirimkan lewat pesan singkat ke ponsel nya.
Berbeda dengan Sheila yang pura-pura pingsan. Dia langsung memeluk Dewa erat.
"Apa-apa an kamu Sheila? Lepaskan!" Dua tangan Dewa yang berusaha melepaskan pelukan Sheila.
"Dewa, apa kamu tidak sadar sama sekali?" lirih Sheila menatap laki-laki itu sangat dekat dan belum melepas pelukannya.
Dewa di buat terkejut, hingga lupa berontak dan kedua tangan Sheila hanya merenggang namun masih memeluk pria di depannya. Kedua retina mereka bertatap sangat dekat.
"Sadar? Sadar apa?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa melihat dari bola mata ku?" tanya Sheila penuh teka-teki bagi Dewa.
"Apa? Apa maksud kamu Sheila?" Nafas Dewa terdengar berat dan berantakan.
"Aku sudah lama mencintai kamu. Mungkin saat kamu masih dengan Arumi. Selama ini aku mencintai kamu dalam diam." Sheila menjelaskan satu persatu perasaannya.
Dewa tertawa kecil. "Apa-apa an ini? Kamu sedang bercanda kan Sheila?"
"Apa wajah ku terlihat tidak serius?"
Dewa mendengus kasar.
"Apa menurut mu semua serba kebetulan?" Sheila yang perlahan membuka satu persatu langkah nya mendekat ke Dewa.
"Aku masih tidak mengerti dengan semua yang baru saja kamu katakan." tegas Dewa pelan dan terlihat bingung.
"Kedatangan ku ke hotel Mediterania, melamar pekerjaan menjadi resepsionis..."
Dewa dengan cepat memangkas semua pernyataan Sheila. "Cerita kamu yang fiktif tentang hutang ayah kamu, Gaston dan jangan-jangan malam itu..." Dewa yang marah lalu bangkit berdiri dengan melepas kedua tangan Sheila. Namun apa yang dilihatnya membuatnya melotot dan ternganga.
Mega sudah berdiri sejak tadi di dekat mereka. Kedua pipi nya sudah basah sedari tadi. Mendengar semua dengan sangat jelas apa yang Sheila coba ungkapkan tentang isi hatinya yang mencintai suaminya dalam diam selama ini. "Malam itu apa?" tanya Mega ingin tahu kelanjutan kaya yang coba disembunyikan keduanya dari dia. Bibirnya bergetar menahan tangis dan kecewa dalam waktu bersamaan. Tidak menyangka jika Dewa akan sangat melukai perasaan nya seperti ini.
"Sayang..." lirih Dewa yang tubuhnya tak berotot detik itu juga. Kekuatan pada kakinya lemas seketika tatkala melihat istrinya sudah berdiri di dekat nya dan Sheila. Dan sudah dapat dipastikan, jika Mega mendengar semua nya. Melihat istrinya sudah basah pipinya, Dewa ingin memeluknya dan meminta maaf. Namun Mega memilih lari dan pergi dengan tangis terisak-isak.
"Sayang... Sayang..." panggil Dewa yang berlari mengejar Mega. Namun langkah nya kalah cepat dan Mega asal naik mobil yang ternyata adalah Satrio.
Ya, sengaja Satrio membuntuti Mega. Karena takut terjadi apa-apa dengan wanita itu, setelah mendengar mama nya bertanya mengapa Mega pergi ke hotel kakak nya dalam keadaan menangis.
Mega bahkan belum sadar jika mobil yang ditumpangi adalah mobil Satrio. Wanita itu menangis sesenggukan di kursi belakang. Banyak kali, Satrio melihati wanita itu dari spion depan di atas dashboard.
Setelah berjalan cukup jauh. Mobil pun berhenti. Mega agak lama baru tersadar, jika ternyata mobil yang ditumpangi membawanya ke telaga biru.
"Kok bapak tahu, tujuan ku kesini," ucap nya terjeda dari kata ke kata selanjutnya.
Tidak malah menjawab. Satrio malah turun dan membukakan pintu untuk Mega. "Aku bukan pak supir taksi online mu," jawab Satrio yang membuat Mega terkejut.
Ya, Mega mengira yang ditumpanginya adalah taksi online yang dia pesan tadi. Meskipun mustahil, padahal jelas-jelas dia sudah membayarnya. Pikirnya taksi online tersebut mungkin masih menunggu nya dan belum pergi.
"Satrio..." lirihnya dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
BERSAMBUNG