
'' ra..., aku mohon jangan seperti ini '' panggil Riko
'' kamu jahat '' sahut Mayra sambil terus berlari meninggalkan Riko yang hanya bisa pasrah menatap punggung Mayra
sesampainya dirumah Mayra menutup pintu dan bersandar dibalik pintu tersebut.
'' kenapa...?? baru saja aku menemukan teman, sekarang ia harus pergi '' ucap Mayra lirih
Maya yang mendengar suara pintu pun keluar dari dapur, ia kaget saat melihat kondisi Mayra yang terduduk dilantai dan menangis.
Maya yang khawatir itu pun menghampiri Mayra '' ada apa kak.. '' tanya Maya sambil berjongkok didepan Mayra
'' Riko jahat bu... dia jahat '' sahut Mayra lemah
Maya terkejut mendengar perkataan putrinya pun berpikiran buruk pada riko, '' apa yang terjadi nak... '' ucap Maya sambil memeriksa keadaan Mayra
Maya berpikir jika Riko berbuat tidak senonoh kepada Mayra dan ia tidak bisa terima jika hal itu terjadi pada putrinya.
'' katakan pada ibu nak, apa yang terjadi dan dimana Riko ibu mau bicara dengan nya '' tanya Maya panik
Mayra pun tersentak dari kesedihannya saat mendengar suara panik sang ibu.
dan ia tahu jika ibunya pasti berpikir yang tidak-tidak tentang keadaan nya saat ini.
'' ibu... jangan panik, semua tidak seperti yang ibu pikirkan '' ucap nya lemah
Maya menyerngit heran, jelas keadaan Mayra saat ini sedang tidak baik tapi mengapa Mayra malah berkata begitu.
'' katakan nak..., apa dia mengancam mu '' selidik Maya lagi
'' tidak ada apa-apa bu..., Riko tidak seperti yang ibu pikirkan '' sahutnya lirih
'' lalu apa yang terjadi nak..., kamu ceritakan pada ibu '' kata Maya dengan suara pelan, agar putrinya tidak merasa tertekan dengan sikap paniknya.
Mayra mengangkat wajahnya menatap sendu kepada ibunya. '' bu... Riko akan pergi, ia akan keluar negri untuk melanjutkan studinya '' ujar Mayra
Maya bernafas lega ternyata yang terjadi tidak seburuk yang ia pikirkan tadi.
'' bagus dong nak... jika Riko melanjutkan studinya. lalu kenapa kakak sedih begini '' tanya Maya bingung
'' ibu kan tahu..., jika kakak baru saja ingin membuka hati tapi... '' Mayra tidak sanggup melanjutkan kata-katanya
'' lalu kenapa kak... apa kakak mencintai nak Riko '' tanya Maya
Mayra sendiri tidak bisa menjawab karena ia juga bingung dengan sikap nya.
__ADS_1
may yang mengerti dengan keadaan putri nya pun tidak ingin memaksa nya untuk menjawab.
'' ya sudah, sekarang nak Riko ada dimana '' tanya Maya
Mayra teringat jika Riko berada diluar dan mungkin ia belum pergi, karena melihat sikap Mayra seperti ini.
'' Riko masih didepan bu... '' Mayra pun bangkit dari duduknya untuk melihat Riko dari jendela
Mayra terkejut saat melihat mobil Riko sudah tidak ada dihalaman rumah nya.
'' Riko sudah pergi bu..., mungkin ia sedang buru-buru, kakak kekamar dulu ya Bu '' ucap Mayra meninggalkan ibunya.
Maya hanya bisa sedih menatap putrinya tersebut. '' bang... kasihan Mayra '' ucap Maya seolah sang suami ada bersama nya.
Maya selalu berkata seperti itu jika menyangkut anak-anak nya, karena dengan begitu bisa menghilangkan sedikit kekhawatiran nya.
Mayra berbaring dikamar nya memandangi langit-langit kamar yang berwarna abu-abu itu.
'' kenapa Riko pergi, apa ia pergi karena aku menolaknya '' ucap Mayra pelan
puas memandangi langit-langit kamarnya Mayra bangkit untuk membersihkan tubuhnya kekamar mandi.
saat Mayra berada dikamar mandi ponselnya terus saja berdering dan tidak berhenti hingga beberapa kali berbunyi.
sementara diseberang sana yang menelpon merasa khawatir, karena Mayra tak kunjung menjawab panggilannya.
dalam kebingungannya pintu kamar Riko diketuk dari luar. '' masuk '' sahut riko dari dalam
'' sayang kamu belum minum obat seharian ini Lo '' ucap mama nya sambil membawa segelas air dan obat diatas nampan.
'' iya ma... nanti Riko akan minum, mama taruh saja di sana '' ucap nya sekilas memandang wajah mamanya.
'' kamu kenapa sayang? sedari kamu pulang tadi kelihatan kamu tidak baik '' tanya nya khawatir
'' ma... aku sudah menyampaikan perasaan ku padanya, tapi... '' Riko berat untuk mengatakan bahwa ia ditolak oleh Mayra
mama Riko yang melihat kesedihan diwajah putra nya pun tahu, jika Mayra tidak menerima riko.
'' kamu tidak usah sedih sayang... '' ucap nya mendekati Riko dan mengusap bahu putra nya
Riko hanya bisa mengganguk menjawab mamanya.
'' ya sudah mama keluar dulu ya, kamu jangan lupa minum obat '' kata Silvia, ia keluar dari kamar sang putra agar Riko bisa menenangkan diri.
Riko meletakkan ponselnya diatas ranjang dan berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
ia lupa jika harus segera meminum obatnya sesuai perintah ibunya tadi.
puasa berlama-lama dikamar mandi Riko pun keluar dari sana dengan keadaan sudah segar, namu ia merasakan nyeri dibagian dadanya.
Riko hanya mengusap dadanya untuk mengurangi rasa nyerinya. ia memakai pakaian rumahnya.
dan kembali berbaring di ranjang karena dada Riko bukan hanya nyeri tapi ia juga merasa sesak dan keringat dingin mengucur di dahinya.
sudah lama sekali Riko tidak merasakan sakit seperti ini, ia berusaha untuk tetap tenang dan mengatur nafasnya.
ia melupakan pesan mamanya untuk segera meminum obatnya yang ada diatas meja.
Riko berusaha untuk bangkit ingin meminjam obat yang diberikan mama nya tadi.
dengan tangan gemetar ia mencoba membuka tutup obat tersebut, namun tidak juga berhasil.
Riko mencoba meraih gelas dimeja karena ia merasa lehernya seperti tercekat.
dengan tangan yang gemetar dan nafas yang berat Riko meminum air itu.
setelah dirasa cukup Riko kembali mencoba membuka obatnya, namun sayang obat tersebut malah terjatuh dan bertebaran diatas lantai.
Riko hanya bisa menatap pasrah obatnya yang berserakan itu, ia membuka laci untuk mencari alat bantu pernapasan nya.
setelah dapat Riko terduduk dilantai sambil menghirup kuat dengan mengunakan alat bantu tersebut.
itu tak cukup membantu dirinya, Riko terus saja mengusap dadanya yang terasa sangat berat.
dalam keadaan seperti itu, ponsel Riko yang berada diatas ranjang berbunyi. ia tidak bisa bangkit untuk bisa melihat panggilan yang masuk.
matanya hanya bisa menatap dari kejauhan pada ponselnya yang tidak berhenti berdering.
hingga tiba-tiba pandangan Riko pun mulai gelap dan perlahan tubuh lemah nya jatuh dilantai yang beralaskan karpet tebal tersebut.
Mayra diseberang sana pun heran karena Riko tidak menjawab panggilan nya. '' apa Riko kesal terhadap ku, karena aku tidak menjawab panggilan nya tadi '' ucap mayra Abul mengigit jarinya.
'' labuh baik aku kirimkan pesan saja agar Riko mau menjawab telepon ku. sekalian aku ingin minta maaf pada Riko '' ucap mayra,
tangannya mulai mengetikan pesan pada riko, dan meminta maaf karena tidak menjawab panggilan dari riko.
karena saat Riko menelpon dirinya sedang berada dikamar mandi.
'' kenapa belum dibaca juga '' ujar mayra sambil terus mondar-mandir mengingit jarinya.
entah perasaan apa ini, ia sangat merasa bersalah pada riko. karena melihat begitu banyak panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
terimakasih sudah mampir
jangan lupa tinggalkan jejak ya..