Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
Nomor Hp


__ADS_3

Sudah dua tahun aku putus dengan mantan pacarku, dan belum move on hingga saat ini. Padahal, aku cukup sering berkenalan dengan pria baru akhir-akhir ini. Seolah-olah ada dinding dihatiku yang tidak bisa kubuka.


Namaku Putri, aku hanyalah pegawai swalayan biasa. Usiaku kini hampir dua puluh sembilan tahun dan masih jomblo. Aku memiliki paras yang cantik dan mudah bergaul.


Tetapi, sebenarnya aku tidak mengerti arti sebuah cinta. Semua laki-laki yang menembakku, aku terima begitu saja. Bagiku, cinta itu ada karena kita telah terbiasa dengannya.


Ternyata semua anggapanku itu salah, dan membuat hubunganku dengan para mantan terasa hambar.


Kini, aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan seorang laki-laki. Tentunya dengan perasaan cinta di dalamnya. Pria yang mampu membuat jantungku berdebar hanya dengan menatap wajahnya saja, atau mendengar khabarnya.


Diusiaku yang tidak muda lagi, aku masih suka bermain game online. Permainan yang saat ini aku gandrungi adalah Ludo Game.


Permainannya cukup sederhana dan mudah dimengerti. Jadi, aku cukup antusias memainkannya di waktu senggang.


Aku lebih suka bermain dengan battel shift, karena lawannya cuma satu. Di tengah permainan berlangsung, lawan mainku mengirim chat padaku.


"Hai! Namaku Raj Kumar dari India. Kalau kamu?"


"Hai! Aku Putri, dari Indonesia."


"Senang berkenalan denganmu!"


"Senang juga kerkenalan denganmu!" balasku.


Aku bermain game sambil chatting, itu cukup membuat konsentrasiku terbelah dua. Apalagi, aku bukan tipe orang yang mengetik pesan dengan cepat.

__ADS_1


Kerap kali aku tidak memperhatikan strateginya saat membalas chat, dan terkecoh hingga hampir saja membuatku kalah.


Selain jago main, Raj juga cukup sopan saat chattingan, dan akhirnya kami memutuskan untuk saling bertukar nomor handphone. Saat itu, aku cukup kagum dengan permainannya, dan iseng menanyakan identitasnya lebih dalam.


Begitu aku mengetahui usianya jauh lebih muda dariku. Disaat yang sama, aku merasa menyesal karena sudah terlanjur memberikan no. handphoneku. Jadi, setelah ia mengkonfirmasi nomor Whatsappku, aku langsung menghapus percakapan itu, tanpa menyimpan nomornya terlebih dahulu.


...******...


Dua minggu kemudian, Raj mengirimiku pesan, dan menanyakan kabarku dengan menggunakan bahasa Inggris. Saat itu, aku benar-benar lupa dia. Aku pun menanyakan ulang tentang dirinya.


"Raj, berapa umurmu?" tanyaku sambil mengingat-ingat siapa pria yang saat ini aku ajak chatting.


"19 tahun," jawab Raj.


"Hah!"


Terbesit dalam benakku, untuk membuatnya menjauh dariku. Dengan kejam aku mengetik.


"Aku lebih tua dari kamu, lebih baik kamu mencari orang lain saja."


Raj malah membalas pesanku kurang dari satu menit. "Teman tidak mengenal usia, aku merasa nyaman denganmu! Maukah kamu menjadi temanku?"


"Oke!" jawabku asal.


Akhirnya aku pun pasrah menerima dia, dan meminta fotonya.

__ADS_1


Ding! Suara pesan masuk.


Tak berselang lama, Raj mengirimiku beberapa fotonya. Sumpah! Dia itu ganteng banget. Apalagi dia mempunyai lesung pipit di bibir bawah, dan dagunya yang membuat aku terpesona.


"Foto kamu mana?" tanya Raj balik.


Saat itu, aku ingin menguji Raj sekali lagi, dengan memberikan foto cewek jelek yang kuunggah dari Google. Aku ingin dia pergi menjauh dariku, karena aku tidak ingin berurusan dengan bocah.


"Aku jelek, apa kamu masih mau menjadi temanku?" tanyaku menguji.


Raj langsung membalas pesanku dengan cepat. Ia tampak tak terpengaruh dengan paras jelek yang kuberikan. "Iya! Apapun yang terjadi, kita adalah teman."


Aaaahhh! Aku tidak peduli lagi! Emangnya apa sih, yang kamu lihat dari aku, Raj?


Pertanyaan itu sempat terbesit dalam hatiku, tapi tak pernah kuungkapkan padanya.


Aku sudah berusaha keras agar ia pergi menjauh dariku, tetapi ia malah semakin lengket seperti lem. Walaupun saat chatting, ia terlihat dewasa, tapi image brondong tidak bisa dipungkiri. Aku harap, hubungan ini murni hanya sebuah teman biasa.


Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat dari hari ke hari. Kami saling sherring mengenai budaya masing-masing, atau sekedar menyapa saja.


Kami tidak pernah menyatakan perasaan cinta sedikit pun, atau chatting yang berbau romantis. Entah mengapa, kedekatan kami justru begitu dalam, tidak kalah dengan orang pacaran pada umumnya.


Kami saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Mengetahui apa yang kami sukai dan tidak kami sukai. Bahkan sering bersanda gurau bersama. Kini, chattingan bersama Raj adalah sesuatu yang selalu kunanti. Padahal, dulunya aku begitu keras ingin menjauhinya.


Seiring berjalannya waktu, aku merasa nyaman bersama Raj. Bahkan aku dapat menjadi diriku sendiri dalam hubungan ini. Hubungan yang aku sendiri tidak tahu akan dibawa kemana.

__ADS_1


Bersambung .................


__ADS_2