
Saat kuterbangun di pagi hari, yang pertama kuambil adalah handphone. Aku lihat Raj telah membaca pesanku, tapi Raj tidak membalas pesanku sama sekali.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Raj tidak merespon? Padahal kami sangat menantikan saat ini tiba!"
Tak lama kemudian, Fanny menelpon untuk mengajakku ke kantor Imigrasi. Karena ini pertama kalinya aku jalan-jalan ke luar negeri, jadi aku harus membuat paspor dan visa terlebih dahulu.
Baru pukul delapan pagi, sedangkan aku sudah siap untuk berangkat ke rumah Fanny.
Brummmmm
Ada suara motor di depan rumahku.
"Kak putri, ayo!" dengan suara keras.
Dari suaranya, itu adalah Fanny. Biasanya aku yang selalu menjemput dia kemana-mana. Tumben sekali Fanny memiliki inisiatif untuk menjemputku duluan. Dalam liburan kali ini, kelihatannya Fanny lebih semangat daripada aku.
"Tumben kamu yang jemput, Fanny?" tanyaku penasaran.
"Iya kak putri, pagi-pagi mama cerewet banget, harus bantuin kak putri ngurus paspor dan visa kalau ndak nanti bla...bla...blaaaa".
__ADS_1
Sepertinya kali ini Fanny terpaksa menjemputku karena bibi Rita. Terlihat dari raut wajahnya yang masih cemberut.
"Ayoooo!!" ajakku tanpa basa-basi.
Setiba di kantor Imigrasi, ternyata cukup ramai. Ada yang mengurus visa untuk para TKI dan TKW. Untung saja, ada satpam yang membantu kami harus kemana.
"Selamat pagi,bu! Ada yang bisa saya bantu?" sapa satpam itu.
"Aku mau mengurus visa, pak" jawabku.
Satpam itu membawakanku formulir yang harus aku isi. Sedangkan Fanny hanya ikut menemani saja, paspor dan visa Fanny sudah diurus oleh paman Aska, tinggal menunggu aku saja.
Aku mendapatkan nomor antrian 125B dan kami menunggu kurang lebih empat puluh menit untuk mendapatkan giliran. Kebetulan hari ini banyak yang mengantri di bagian yang aku tuju.
...*****...
Saat antrianku di panggil, aku langsung ke loket. Aku menyerahkan semua persyaratan yang di minta. Mulai dari pas foto, foto copy KTP, Akta lahir, kartu keluarga dan formulir yang aku isi semua.
Aku kira akan selesai begitu saja setelah memberikan berkas. Ternyata harus di interview dulu, mengenai rencana kami mau ke mana saja? Sudah menghubungi travel agen atau belum? tanggal berangkat dan bla bla blaaaa.
__ADS_1
Setelah prosesi yang melelahkan, aku harus menerima bhwa harus menunggu empat hari lagi untuk mendapat persetujuan.
Aihhh, mengurus paspor dan visa membuat kepalaku pusing.
Untuk menenangkan kepala kami yang mumet, aku dan Fanny jalan-jalan ke Mall. Kami belanja habis-habisan. Baju baru dan cemilan, adalah hal yang wajib kami buru.
Belanja adalah kegiatan yang membuat kaum hawa lupa waktu, bahkan dapat menghilangkan stres. Tak heran, kalau wajah kami tampak ceria sambil membawa tas belanjaan kami.
"Nak, kamu sudah makan? kalau belum nanti ibu akan buatkan kamu mie".
"Tidak usah bu, tadi aku dan Fanny sudah makan di Mall tadi", jawabku cepat.
Setibaku di kamar, aku langsung meletakkan barang belanjaanku di atas meja dan langsung merebahkan badanku di atas kasur.
Seketika aku langsung teringat dengan Raj. Saat aku chek whatsappku, ternyata Raj tidak memberi balasan apapun pada pesanku kemarin.
"Sesibuk itukah Raj, hingga ia tidak sempat untuk membalas pesanku!" gunggamku dalam hati.
Bersambung.............
__ADS_1