Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
TEGANG


__ADS_3

Setibaku di rumah, kulihat ada mobil paman Aska terparkir di depan rumah, begitu pula dengan motor Angga. Hm... Sepertinya rumah ramai nih! Benar saja, begitu aku masuk ruang tamu, ponakanku si Vina sudah menangis saja dipelukan ibunya. Entah apa yang membuatnya gadis kecil, yang baru berusia tujuh bulan itu menangis, hingga bibi Rita tampak kewalahan mendiamkannya.


Ning nang ning nang ning nung.... Itulah lagu andalan bibi Rita kalau menghadapi anak kecil yang sedang menangis.


Sedangkan dari dapur, ibu datang sambil membawa nampan yang berisi beberapa cangkir kopi dan sekotak biskuit kering. Sepertinya paman Aska dan yang lainnya baru tiba beberapa menit yang lalu sebelum aku.


Aku yang baru datang, langsung menghampiri mereka. "Wah, sudah lama kita tidak ngumpul bareng kayak gini!"


Aku langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan ayah, sedangkan paman Aska duduk di sebelah ayah.


Paman, ayah, dan Angga menatapku dengan tajam. Bahkan mereka tidak membalas sapaku. Seolah-olah aku telah melakukan kejahatan yang luar biasa dan berada di depan hakim yang menunggu putusan hukuman.


Ada apa, ya? Kenapa mereka terlihat menakutkan begitu. Salahku dimana, ya? Gunggamku dalam hati.


"Kamu dari mana, Putri?" tanya paman Aska. Ia tampak berbeda dari biasanya. Aura matanya yang tertutup kaca minus memancarkan kemarahan, dan tangannya yang dikepal seolah-olah sedang berusaha untuk meredam kemarahannya.


Dengan polosnya, aku menjawab. "Rumah sakit, paman."


"Kamu habis jenguk si brengsek itu, kan!" ujar paman Aska dengan nada tinggi.


Tersentak aku terkejut mendengarnya, aku langsung menatap wajah paman yang murka. Fikirku menerawang, bagaimana paman bisa mengetahuiny? Saat kuhendak mencari semua jawabannya dari Angga. Ia malah diam membisu, dan menghindari tatapanku.

__ADS_1


Selama ini, aku memang sering curhat sama Angga mengenai hubunganku dengan Raj, tetapi aku tidak menyangka bahwa ia akan menceritakannya pada paman dan kedua orang tuaku. Padahal selama ini, Angga selalu menjaga semua rahasiaku. Aku cukup terkejut dengan semua yang terjadi, tapi aku juga perlu waktu untuk menceritakan semua, apalagi kini kami benar-benar telah putus.


"Paman, sebenarnya aku....'


Plak...


Paman Aska bangkit dari tempat duduknya dan langsung menampar pipiku. Kejadiannya begitu cepat hingga aku tak dapat menghindarinya. Aku benar-benar tak menyangka bahwa paman Aska tega menamparku dengan keras di depan kedua orang tuaku.


Seketika suasana menjadi hening, bahkan Vina berhenti menangis mendengar suara tamparan itu. Sejenak, aku sempat menjadi pusat perhatian bagi semua orang.


Ayah dan ibu terdiam seribu bahasa. Apa mungkin mereka mengetahui hubunganku dengan Raj? Fikirku keras.


Suasana menjadi tampak mencekam dengan tatapan kedua orang tuaku yang sinis. Mereka tampak tak perduli kalau paman Aska menamparku dihadapan mereka.


"Kenapa kamu merendahkan harga diri kamu seperti ini, nak?" tanya ibu kecewa. Wanita paruh baya yang kupanggil "Ibu" selama ini terlihat terluka. Bukan karena luka goresan luar, tetapi sayatan hati yang tanpa sengaja kutorehkan kepadanya. Sedangkan ayah juga memperlihatkan wajah yang sama dengan ibu. Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja setelah melihat wajah kedua orang tuaku.


"Kenapa nangis?" kritik paman Aska. Dari nada suaranya terdengar rasa amarah dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu.


"Seharusnya kamu sadar, saat melakukannya sebelumnya. Kamu bukan anak kecil lagi, Putri." Paman Aska sudah tidak dapat membendung kekecewaannya padaku.


"Sekarang umur kamu sudah menginjak kepala tiga, tapi kedua orang tua kamu tetap tidak mau memaksa kamu untuk cepat-cepat menikah. Paman kira, kamu akan mencari pria yang baik. Tetapi kamu malah main-main dengan pria yang tidak jelas dan bahkan telah menjadi milik wanita lain. Paman kecewa, Putri!"

__ADS_1


Aku tidak bisa membantah semua yang dikatakan paman Aska kepadaku. Apalagi Raj kini telah kembali ke negaranya dengan menggantung harapanku. Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini, tapi rasa cintaku yang begitu besar kepada Raj membuatku buta dan tidak sadar kalau telah melanggar batas.


Aku menundukan kepalaku dan hanya melihat kedua kakiku yang basah akan air mataku. Tubuhku pasrah mau dihukum bagaimana sama paman Aska, dan mulutku terbungkam, seolah-olah mengiyakan semua yang dikatakan paman kepadaku.


Ayah langsung menghampiriku dan merangkulku. Dalam dekapannya yang hangat, aku menangis.


"Maafin Putri, Ayah..." isakku berat.


Ayah hanya menepuk punggungku dengan lembut dan berusaha menenangkanku. "Sudah,nak!"


Aku malah menangis dengan keras dalam pelukan ayah, dan menyesali semua yang telah terjadi. Angga dan paman Aska tampak muak akan suara tangisanku, dan memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu. Kini hanya ada ayah, dan ibu yang menemaniku. Orang yang selama ini aku lukai.


Tak lama kemudian, ibu datang menghampiri kmi, dan berkata. "Ibu dan ayah tidak marah sama kamu, nak!"


Sesekali ibu melihat wajah ayah, sambil menganggukan kepala. Tampaknya komunikasi kedua orang tuaku bukab hanya berbicara secara visual tetapi juga dengan batin. Mungkin ini yang dinamakan belahan jiwa yang saling mengerti satu sama lain.


"Jodoh dan karier ada di tangan Tuhan. Jadi ayah dan ibu tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, nak!" Setelah memberikan wejangan, ibu merangkulku, dan aku terbenam dalam dekapan hangat mereka. Cinta dari orang tua yang tulus dan hangat.


"Kami ingin melihat kamu bahagia, Putri!" bisik ayah. Bahkan ibu pun mengatakan hal yang sama dan mengulangi ucapan ayah. Disisi lain, aku merasa bahagia mendapatkan orang tua yang sangat mengerti aku.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2