
Aku tidak habis fikir dengan Raj. Aku sudah berusaha untuk menghubungi dia dalam seminggu ini tapi tak ada jawaban. Telpon tidak diangkat, sms tidak di balas. Maunya Raj apa sih?
Inginku batalkan rencana pergi ke India tapi aku sungkan dengan paman Aska yng sudah membelikanku tiket gratis.
Hari ini adalah hari keberangkatan kami menuju India. Tiket pesawat, paspor, visa, pakaian, cemilan dan beberapa lembar uang Rupee telah aku bawa semua. Hanya saja keinginanku untuk ke India memudar karena Raj tidak mengankat telponku.
Ayah, ibu, dan adikku Rico ikut mengantar kepergianku ke bandara bersama rombongan keluarga paman Aska.
Di dalam mobil, aku terus saja melihat handphoneku. Gelisah memikirkan Raj. Ibu yang saat itu duduk di sampingku khawatir melihatku melamun sendiri.
"Nak, kamu harus ingat kalau tidak boleh menyusahkan paman dan bibimu disana".
"Baik bu," jawabku cepat.
Saat di bandara, aku memeluk ibu dan ayah secara bergiliran sebelum naik pesawat. Mereka melambaikan tangan kepadaku hingga kami tak tampak lagi dari hadapannya. Kulihat ibu tampak menahan air mata saat aku masuk pesawat. Berpisah dengan orang yang paling kita sayangi memang menyedihkan, tapi perjalanan ini sangat penting bagiku.
Saat di pesawat, aku duduk di sebelah Fanny. Sedangkan paman dan bibi ada di depan kami. Baru lima menit duduk di pesawat, aku sudah ingin ke toilet. Aku tidak terbiasa dengan udara AC yang begitu dingin. Mana tempat dudukku jauh dari toilet.
__ADS_1
...*******...
Pesawat yang kami tumpangi ternyata tidak bisa langsung membawa kami langsung ke India, harus transit terlebih dahulu. Ada yang bilang bahwa transit artinya pesawat sedang mengisi bahan bakar. Untung saja transitnya di pulau Bali, jadi dekat.
Setiba di bandara Ngurah Rai, rasanya senang banget dapat menghirup udara segar. Tapi sayangnya kami tidak mempunyai waktu untuk jalan-jalan di pulau Dewata itu. Kami hanya bisa keliling bandara saja sambil menunggu pesawat yang akan kami tumpangi siap.
Aku benar-benar mati kebosanan karena saking lamanya menunggu. Isengnya aku malah membuat video saat aku berada di bandara, bahkan mengirimkannya pada Raj.
Walaupun aku tahu Raj tidak akan memperdulikan pesanku lagi, setidaknya aku tidak ingkar janji padanya untuk datang. Disaat yang sama, Fanny melihatku memposting video itu pada Raj.
"Ciyeeeee!! yang tidak sabaran mau ketemu!" ledek Fanny.
"Dia pasti balas kok, percayalah!"
Fanny tampaknya mengetahui kisah percintaanku dari Angga. Jangan- jangan paman dan bibi juga sudah tahu.
...******...
__ADS_1
Setelah dua jam lamanya menunggu , akhirnya kami masuk pesawat yang akan membawa kami ke India.
Begitu masuk pesawat wajahku sudah dongkol, tidak enak dilihat. Kali ini kami akan berada di pesawat selama empat jam. Tanpa boleh main hp dan udara AC yang dingin.
Baru satu jam setelah lepas landas rasanya seperti berabad- abad. Tiba- tiba perutku terasa mual dan dalam hitungan detik aku mulai muntah. Untung saja saat muntah aku langsung mengambil kantong muntah yang sudah disiapkan di depan kursi.
Denagn siaga seorang pramugari datang membantu. Tak lama kemudian, Fanny ikut muntah. Sialnya, Fanny muntah di celana jeansku dan bukan di kantong muntah.
Aku dipapah oleh pramugari ke toilet untuk membersihkan diri. Sayangnya semua pakaianku ada di bagasi, jadi terpaksa aku harus menggunakan celana bekas muntahan itu hingga sampai di India.
Saat aku kembali ke tempat duduk, aku lihat Fanny tampak sedih meliht celanaku yang basah.
"Maaf, kak putri!!"
Fanny memegang kedua telinganya dengan ekspresi menyesal.
"Tidak papa kok, Fanny!" jawabku santai.
__ADS_1
Aku duduk di tempat dudukku dan mencoba untuk tidur.
Bersambung.............