
Pagi-pagi buta, aku sudah di bangunkan oleh pegawai hotel. Mataku masih terasa berat karena tidur terlalu malam. Dengan malas aku mengangkat telpon yang kebetulan berada di sebelah tempat tidurku.
"Selamat pagi, nona."
Resipsionis itu menyakapu dengan ramah.
"Maaf, ada tamu yang sedang mencari nona Putri dan sekarang berada di lobby".
"Baiklah, nanti saya akan ke sana," jawabku cepat dan mengakhiri percakapan telpon itu.
Jam dinding menunjukan pukul enam waktu setempat. Saat itu, nyawaku belum terkumpul semua dan lemas. Aku bisa menebak bahwa yang ada di lobi hotel adalah Sacin.
Sacin adalah teman chat Indiaku selain Raj. Hanya saja aku tidak memiliki perasaan apapun padanya seperti yang aku rasakan pada Raj. Sacin sering curhat padaku mengenai kekasihnya dan dia juga orang yang pernah menyarankan aku untuk putus dengan Raj di awal karena perbedaan kami yang begitu besar, kini ia dan juga Angga malah mendukung kami untuk bersama.
"Sepagi ini Sacin datang curhat, mampus deh telingaku!" gunggamku.
Aku langsung mengganti pakaianku dengan yang baru dan sedikit berdandan yang simple.
Saat aku hendak mau turun ke lobby, Fanny bangun dari tidurnya dan melihatku telah berdandan cantik.
"Mau ke mana kak Putri?" jawab Fanny dengan suara yang serak.
"Lobby, ada teman kakak datang".
"Hmmmmm, cowok India yang kakak taksir itu ya?"
__ADS_1
"Bukan!!" Dia cuma teman biasa saja kok".
"Kalau gitu, kenalin dong kak!"
"Iya!!" jawabku cepat.
Aku langsung menuju lobby hotel dengan menggunakan lift yang ada. Dengan adanya lift, aku langsung tiba dengan sekejap.
Tinggggg.......
Suara bel lift berbunyi menandakan aku telah tiba di tujuan. Begitu aku keluar dari lift, aku langsung di peluk oleh seorang pria India yang belum sempat aku lihat wajahnya.
Saat itu aku merasa kaget dan juga marah. Belum ada dua puluh empat jam aku di India, sudah ada orang yang sembrono main peluk saja.
"Baby....!"
Suara pria yang tak asing itu menghentikan tanganku untuk mendorongnya dan malah merangkul punggungnya yang lebar dengan kedua tanganku.
Perlahan Raj melepaskan pelukannya dan membenturkan dahinya di depan dahiku dengan lembut sambil berkata "I miss you, baby".
Seketika air mataku pecah saat itu juga. Perasaan bahagia yang tak terbayangkan menyelimuti hatiku.
Kini giliranku yaang memiliki inisiatif untuk memeluk dan mencium pipinya yang masih terasa dingin.
Tak sengaja mataku menuju meja resipsionis dan melihat mereka tampak menikmati tontonan gratis yang mengharukan. Saat itu, aku benar- benar merasa malu dan langsung melepaskan pelukanku pada Raj.
__ADS_1
Aku menarik tangan Raj menuju kolam renang yang ada di taman belakang hotel.
"Ayo ikut aku!!"
Raj tampak patuh dan mengikutiku dari belakang.
Saat aku merasa tempatnya agak aman dan tidak ada orang yang mengganggu kami, aku mulai melambatkan ritme kakiku dan berjalan di samping Raj dengan bergandengan tangan.
"Kamu kapan tiba di sini?" tanyaku lembut.
"Tadi malam!" jawab Raj polos.
Aku langsung menghentikan langkahku tanpa melepaskan tangan Raj. Saat langkah Raj terasa berat, ia menoleh padaku dengan tatapan keingintahuan.
"Kenapa kamu ndak telpon aku semalam!!" jawabku kesal.
"Saat itu aku fikir kamu sudah tidur, baby!"
"Terus kamu tidur dimana semalam?" tanyaku serius.
"Aku tidur di parkiran hotel"
Aku menarik tangan Raj dan menciumnya. Ciuman pertama saat hubungan kami jalin sejak lima tahun yang lalu.
Bersambung..............
__ADS_1