Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
KAK FAJAR


__ADS_3

Ayah dan ibu menyambut kedatangan kak Fajar dengan hangat di ruang tamu. Sedangkan adikku Rico sudah tidur pulas di kamarnya. Aku menyungguhkan tiga cangkir teh hangat dan sepiring biskuit di tas meja sebelum ikut nimbrung bersama mereka.


"Putriku memang keras kepala, tetapi ia memiliki hati yang lembut," kata Ayah yang mencoba menyanjungku di depan kak Fajar.


"Saya tahu, pak! Karena hal itu juga saya jatuh cinta pada Putri."


Mereka mulai membicarakan aku, padahal aku jels-jelas ada di depan mereka. Hatiku saat ini geram pada kak Fajar, Baru pertama kali aku ketemu sama abang jago pembohong, kalau saat ini dia menjadi seorang aktor, dia pasti bisa mengalahkan Reza Rahadian.


Selagi mereka berbicara, aku hanya diam dan mendengarkan saja.


"Apakah kamu serius sama Putri?" tanya Ayah lagi.


"Saya sangat serius, pak!" jawab kak Fajar santai.


"Kalau begitu, kapan rencana kalian untuk menikah?"


"Ayah!!!" sahutku keras.


"Nak, ini semua perlu diperjelas. Kamu diam saja, ya! kata Ibu yang mencoba untuk menghentikanku berbicara lebih lanjut.


Oh Tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Aku belum menerima kak Fajar menjadi pacarku, tetapi kedua orangtuaku sekarang sedang membicarakan pernikahanku. Bagaimana aku bisa diam? Ini semua menyangkut masa depanku! Hidupku!


"Ayah, ini terlalu cepat...."


"Cepat atau lambat, semua ini perlu dibicarakan, nak." Ayah menyambung kalimatku dengan kehendaknya sendiri.


Dengan cepat, kak Fajar menjawab pertanyaan ayahku. "Saya siap kapan saja, pak! Saya hanya menunggu kepastian dari anak bapak, Putri. Kalau perlu besok kami akan menikah, saya siap!"


"Cukup kak, ini bukan lelucon!"


Telingaku cukup pedas mendengar semua kepalsuan ini, kini sudah saatnya aku akan menggungkapkan semua yang ada di hatiku.


"Apa maksudmu dengan lelucon, nak?" tanya Ibu binggung.


"Aku belum menerima kak Fajar menjadi pacarku. Bagaimana mungkin aku menerima dia untuk menikah denganku!"


Ayah dan Ibu saling pandang, tampaknya mereka syok akan penjelasanku yang begitu mendadak dan tidak masuk akal bagi mereka.


"Ibu dan ayah kira kalian sudah..." sahut Ibu pelan.


Kini kak Fajar langsung berdiri dari tempat duduknya sambil menatapku tajam. Ia tampak marah padaku.


"Memangnya kenapa kalau kita membicarakannya lebih awal, Putri?"


"Ini bukan negosiasi kita tadi, kak!" protesku.


"Cukup!" bentak Ayah.

__ADS_1


Ayah menatap kami dengan serius. Di usianya yang kini telah menginjak paruh baya, ia tampak sangat bersabar akan tingkahku. Ia memeganggi dadanya beberapa kali untuk menenangkan jantungnya untuk tidak melonjak setelah mendengar penjelasanku nanti.


"Kalian duduklah dulu, dan jelaskan inti masalahnya pada kami," sahut Ayah lagi.


"Inti masalahnya ada pada anak anda sendiri!" jawab kak Fajar ketus.


Di saat itu, aku sempat berfikir untuk menceritakan kisahku dengan Raj dan tentang yang aku rasakan saat ini.


"Putri katakan sesuatu, nak?"


"Ayah, aku tidak mencintai kak Fajar sama sekali! Aku sudah menolaknya sejak pertama ia mulai tertarik padaku."


"Ibu sudah mengatakan padamu untuk menghargai seseorang, nak!"


Ibu tampak kecewa akan sikapku malam itu, ini semua salah, tapi itu semua bukanlah kesalahanku.


Dengan berlinang air mata, ku berusaha untuk menjelaskannya pada ayah dan ibuku.


"Maafkan Putri, bu! Aku benar-benar tidak bisa mencintai kak Fajar."


Kak Fajar menatapku dengan tatapan yang menghina. "Hey! Harusnya kamu bersyukur karena hanya kakak yang dapat menerima kamu apa adanya, Putri! Memangnya ada laki-laki lain yang mau menerima perawan tua seperti kamu!"


Bughhh!


Ayah mendorong kak Fajar ke sofa dengan keras. Tampaknya Ayah sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Sedangkan ibu mencoba untuk menghentikan ayah sekuat tenaga dengan memegang tanganAyah yang masih mencengkram kerah baju kak Fajar.


"Tenang Ayah! Tolong tenagkanan dirimu, ya!" pinta ibu.


"Pergi dari sini!" sahut Ayah.


Setelah lepas dari cengkraman Ayah, kak Fajar langsung meninggalkan rumah dengan terburu-buru dan tanpa sepatah katapun.


Setelah kak Fajar pergi, Ayah dan Ibu pun meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Mereka juga tak ingin berbicara padaku saat ini.


...****...


Saat sarapan, Ayah dan Ibu masih tidak mau berbicara padaku. Aku mengerti mereka masih kesal kepadaku.


Dengan santai aku mengucapkan salam kepada mereka berdua dan sarapan bersama seperti tak pernah terjadi apapun semalam.


Saat aku tiba di tempat kerja, seperti biasa teman-temanku mulai mengosipiku dan menghindariku seolah-olah aku memiliki sebuah penyakit yang mematikan.


Aku tidak perduli dengan semua yang mereka gosipkan kepadaku di belakang. Seperti biasa, aku menyapa dan tersenyum kepada orang yang menatapku dengan rendah.


Tapi beda halnya dengan Nana, begitu bertemu ia langsung menyeretku menuju toilet wanita.


"Apa yang kamu lakukan disini, Pitri?" tanya Nana dengan pelan dan melihat sekeliling.

__ADS_1


"Kerjaaa!" jawabku polos.


"Apa kamu tidak tahu kabar terbaru?"


"Apa??" tanyaku binggung.


"Cowok yang nembak kamu semalam, ternyata balikan sama mantan istrinya lagi," bisik Nana di telingaku.


"Bagus dong! Perlu dirayakan itu," sahutku ceria.


Nana menatapku dengan wajah cemberut, seolah-olah ia marah akan sikapku yang cuek. "Put, kalau kamu mau menangis, bebih baik sekarang! Buruan deh!"


"Apaan sih! Denger kabar bagus begini, kok kamu suruh aku menangis! Ndak lucu tahu!"


Aku melangkahkan kakiku menuju pintu toilet dan hendak untuk meninggalkan Nana.


"Apa kamu tahu! Siapa istri kak Fajar?"


Nana berusaha menghentikan langkahku yang ingin meninggalkannya. Aku berbalik dan bilang " Ndak!"


"Dia manajer kita, ibu Komala!" teriak Nana histeris.


"Itu bukan urusanku," jawabku cuek.


Nana tampak kesal kepadaku. Ia menarik tanganku hingga aku bertatap muka dengannya.


"Apa kamu tidak tahu, yang mereka gosipkan tentang kamu?"


Saat itu aku hanya diam membisu menunggu penjelasan dari Nana. Selama ini, aku tidak mau perduli dengan semua kata orang, tpi melalui Nana, aku tahu semua yang mereka katakan tentang aku.


"Mereka mengganggap kamu sebagai pelakor! Sekarang kamu masuk daftar hitam deretan orang yang akan dipecat.


Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pelakor, padahal kak Fajar'lah yang mengejar-ngejar aku. Sekarang aku akan dipecat karena hal yang tak masuk akal ini!


Yang benar saja! Bagaimana aku membuat mereka percaya, kalau semua ini bukan salahku.


Kulihat kekawatiran yang mendalam pada wajah sahabatku Nana. Ia tampak cemas akan nasib burukku. Dengan refleks, aku memeluk sahabatku Nana dan berkata. "Tenang saja, na! Aku akan menemui menejer Komala dan menjelskan semuanya."


"Apa kamu gila, Putri?"


"Cuma ini satu-satunya jalan untuk mengakhiri kesalah pahaman diantara kami."


Aku membulatkan tekat untuk menghadapi semua masalah yang terjadi, dan bukan menghindarinya.


"Kalau begitu, aku temani," sahut Nana.


Hanya Nana satu-satunya sahabatku yang begitu perduli kepadaku. Dengan senyum, aku berkata pada Nana. " Baiklah!"

__ADS_1


Bersambung


Perlahan ayah melepaskan cengkramannya pada kak Fajar.


__ADS_2