Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
Nasi Bungkus


__ADS_3

Dokter dan dua orang perawat datang mengelilingi Raj. Mereka menggunakan alat kejut untuk membuat detak jantung Raj kembali normal. Aku yang melihat kejadian itu, terasa hampa hingga jantungku pun terasa mati untuk sesaat. Seiring irama jantung Raj yang berdetak, irama jantungku pun berangsur-angsur selaras dengannya.


Aku merasa sedikit lega setelah mengetahui bahwa Raj masih bersamaku. Kupegang tangannya yang lemah, tanpa berkata apapun. Aku tak ingin membuat Raj syok akan suaraku seperti tadi.


"Tolong beri pasiennya istirahat," kata salah satu perawat disana.


Sebenarnya aku enggan untuk meninggalkan Raj, tapi demi kesembuhan Raj, aku terpaksa pergi. Aku dan juga kedua orang tua Raj keluar dari ruangan itu. Hanya ada perawat dan dokter saja yang menemani Raj di dalam.


Dari bilik kaca, aku melihat Raj masih terbaring lemah, lengkap dengan alat medis. Hati ini teriris-iris oleh pisau melihatnya. Tanpa sadar bongkahan bening menetes dari pelupuk mataku.


tap ... tap ...tap...


Suara langkah kaki mendekatiku, dan sebuah tangan memegang bahuku. Aku menoleh dan melihat ayah Raj sedang menatapku.


"Ayo duduk!" kata Ayah Raj dengan bahasa Inggris.


Aku mengusap air mataku dan mengikutinya duduk dibangku yang ada di depan kamar ICU. Aku fikir Ayah Raj ingin berbicara denganku, ternyata tidak. Sedangkan aku tidak tahu harus bicara apa pada mereka. Saat itu, jam telah menunjukkanpukul enam sore, aku ingat kedua orang tua Raj pasti belum makan.


Alu memberanikan diri untuk menyapa mereka. "Maaf, bapak dan ibu mau makan apa?"


"Tidak, terimakasih," jawab Ayah Raj menggunakan bahasa asing. Sedangkan ibu Raj tampak menunduk dan menangis.


Ah! Benar-benar canggung. Sebenarnya aku sangat ingin dekat dengan mereka, tapi ngomong sepatah kata saja susah. Apa karena perbedaan waktu di India dengan disini berbeda, ya? Hingga mereka ngomong gitu.


Saat itu, aku langsung membuat keputusan untuk membelikan mereka makanan, dan langsung meluncur ke restaurant vegetarian tempat favorite Raj. Disana aku memesan tiga bungkus makanan dan minuman untuk kami bertiga.


Tak berselang beberapa lam, pesananku akhirnya selesai dan aku membayar tagihan di kasir.


Dengan senyum yang lebar, ksir itu berkata. "Kenapa datang sendirian, kak? Raj mana?" tanya kasir itu sambil menyodorkan pesananku.


"Raj sakit," jawabku cepat.


"Semoga cepat sembuh, ya! Dan salam buat Raj," kata kasir itu lagi.

__ADS_1


"Iya, nanti aku sampaikan." Aku meyodorkan beberapa uang pada kasir itu untuk membayar pesananku.


Disela-sela ia menghitung uang yang aku berikan, kasir itu malah bercerita mengenai Raj yang tak pernah kuduga.


"Setiap kali kemari, kak Raj sering cerita tentang kak Putri, serta sedih saat mendengar gosip kakak di swalayan. Padahal dia kesana hanya ingin melepas kerinduannya. Pria yang tulus seperti kak Raj ndak boleh dilepas, kak!" saran kasir itu.


"Terimakasih."


Aku berusaha untuk tetap tenang dihadapan mereka, walaupun hatiku menjerit. Aku menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum aku mengendarai motor. Sulit untukku, saat kutahu bahwa Raj selama ini masih mencintaiku meski sikapnya dingin dan menjauhiku.


Setelah merasa tenang, barulah aku ke rumah sakit menemui kedua orang tua Raj. Aku berusaha untuk tegar dihadapan mereka dan tak menunjukkan kesedihanku lagi.


"Saya bawakan makanan, semoga suka! Raj selalu makan makanan ini saat berada disini," kataku dengan bahasa Inggris. Aku meyodorkan bungkusan itu pada ibu Raj.


"Terimakasih," jawabnya. Ibu Raj meletakkan makanan itu dikursi kosong yang ada disebelahnya.


Aku duduk disamping mereka sambil menunggu Raj siuman. Aku dan kedua orang tua Raj tak banyak bicara, mungkin karena bahasa kami yang berbeda. Maklumlah, namanya juga bukan bahasa Ibu.


Kring... kring... kring...


Ibu sangat mengkhawatirkan keberadaanku. Maklumlah, putrinya yang masih berkeliaran diluar rumah sampai jam delapan malam tanpa kabar sedikitpun. Aku berbicara panjang lebar ditelpon mengenai Raj yang saat itu aku kenalkan sebagai temanku, dan ia sedang mengalami kecelakaan.


Setelah menutup telpon, aku langsung pamit pada orang tua Raj, karena titah ibu yang mengharuskan aku untuk pulang.


Setiba di rumah, aku langsung mandi dan makan malam bersama keluarga yang lain. Saat makan, aku menceritakan mengenai kondisi Raj yang kritis kepada orang tuaku.


"Bu, malam ini boleh ndak Putri menginap di rumah sakit?"


"Bukankah, temanmu itu punya keluarga, nak?" tanya Ibu balik.


"Iya, bu! Cuma temanku itu, bukan asal sini. Jadi kasian keluarganya kebingungan," rengekku.


"Tapi, besok pulang dari kerja, harus ke rumah dulu," jawab ibu.

__ADS_1


"Baik bu!"


Cepat-cepat aku menyelesaikan makan malamku, terus bersiap-siap. Aku membawa tas ransel yang berisi pakaian seragam yang akan aku gunakan besok serta perlengkapan mandi.


Untung saja, ledua orang tuaku mengerti akan keinginanku untuk dapat menemani Raj di rumah sakit. Saat aku hendak balik ke sana, sudah jam setengah sepuluh malam. Jadi, Ayah yang mengantarku sampai depan rumah sakit.


Setiba di depan ICU, kedua orang tua Raj tampak duduk menunggu perkembangan Raj. Kini raut wajah mereka tampak lelah menunggu Raj yang belum sadarkan diri selama tiga hari. Lingkaran mata mereka semakin menghitam saja, yang menandakan mereka tidak cukup istirahat.


Aku menaruh tas ranselku disamping mereka. "Kalian istirahat saja, biar aku yang menjaga Raj disini, kataku dengan menggunakan bahasa Inggris.


Untuk beberapa saat mereka saling pandang,. Kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala mereka secara miring dari atas ke bawah. Yang saat itu aku artikan "Iya."


Mereka langsung menggelar tikar plastik dan tak lama kemudian mereka tertidur. Tampaknya mereka sangat kelelahan dalam menjaga Raj.


Aku masuk ke ruang ICU, dan duduk disamping Raj. Sesekali aku mengelus pipi Raj yang penuh dengan bulu. Kini brewok Raj lebih panjang dari terakhir kali kami bertemu. Memegang tangannya yang besar dengan bebas, tanpa takut dimarahin.


a Raj yang panjang dan keriting dengan jariku, Raj menatapku. Spontan aku teriak "Hantu!" Teriakanku mengagetkan para perawat yang ada di ruangan itu. "Ada apa mbak?" tanya perawat itu.


"Si...siluman!" teriakku sambil menunjuk Raj.


"Si-um-an!" kata perawat itu membenarkan. Perawat itu langsung memeriksa Raj yang baru saja sadar.


Aduh! Kok aku parno gitu sih, saat tahu Raj sudah sadar. Harusnya aku senang.


"Putri, kamu disini sendirian?" tanya Raj.


"Kedua orang tua kamu ada diluar sedang tidur," jawabku.


"Biarkan mereka istirahat," kata Raj lagi.


Tampaknya Raj tidak marah padaku dengan yang kulakukan tadi atau mengusirku keluar. Dengan percaya diri, aku mendekati Raj dan menggenggam tangannya sambil tersenyum.


Saat itu, kami tidak perduli lagi dengan perbedaan yang selama ini memisahkan kami. Yang aku tahu saat ini adalah aku sedang bersama orang yang aku cintai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2