
Hari ini dokter sudah mengizinkan aku untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Aku fikir akan lama di rumah sakit, tapi sehari setelah oprasi dokter sudah mengizinkan aku untuk pulang karena kondisi badanku yang bagus.
Setelah mengurus administrasi, ayah membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang. Aku senang sekali dapat cepat pulang walaupun pelayanan rumah sakit bagus.
Setiba di rumah, ternyata ibuku dan adikku Rico sudah keluar menyambut kepulanganku.
"Akhirnya kamu pulang, nak".
"Iya, bu".
Aku memeluk ibuku dan mengelus rambut adikku Rico dengan lembut. Aku di papah oleh ibu dan adikku masuk ke rumah sedangkan ayah membawa barang bawaanku.
Tak lama kemudian, paman Aska datang sekeluarga kecuali Angga. Seketika rumah menjadi ramai. Fanny langsung menemuiku di kamar.
"Kak putri, gimana oprasinya? Sakit ndak?"
"Kakak dibius mana terasa sakit".
"Kak Angga sebenarnya mau datang juga, tapi dia sudah janji jauh-jauh hari untuk mencoba baju pengantin dan sekaligus foto prewidding. Ndak papa kan, kak?"
"Ndak papa kok, malah aku senang kakakmu Angga sebentar lagi mau menikah".
Pantas saja Angga ndak datang, ternyata dia sibuk hari ini.
__ADS_1
Setelah berbincang dengan ibu, bibi Rita masuk ke kamarku dan membawakan aku sebuah kotak kue.
"Bibi sengaja membawakan kamu kue apam kesukaanmu".
Bibi Rita memang perhatian, dia sangat tahu kue kesukaanku padahal aku tidak pernah memberi tahunya.
Bibi Rita membukakan kotak kue yang berisikan kue apam dan meletakkannya di meja kamarku.
Aku tak sungkan untuk mengambil kue apam yang ada di atas meja dan memakannya di depan mereka.
Mereka berada di rumah cukup lama, hingga jam makan malam pun tiba. Hari ini ibu memasak makanan lebih besar dari biasanya, karena sepertinya ia tahu kalau paman Aska sekeluarga akan datang.
Setelah makan malam, mereka mersenda gurau mengenai masa pacaran orang tua kami di ruang tamu. Kami para anak-anak hanya sebagai nyamuk mendengar ocehan mereka.
"Gimana pemotretannya nak, sudah selesai?"
Ibu langsung menyapa Angga yang baru datang dengan pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya.
"Sudah, bik. Tadi saat pulang ke rumah sepi jadi Angga langsung ke sini".
"Ken bisa telpon nak", sahut ibu.
"Sekalian lihat putri, bik".
__ADS_1
Aku melihat wajah Angga dan tunangannya tampak lelah. Sepertinya pemotretannya cukup lama dan menguras tenaga mereka berdua.
Tak samapai lima menit, ibu datang dari dapur membawakan Angga dan tunangannya air jeruk dan biskuit.
"Minum dulu, nak!!"
"Terima kasih, bik".
Angga dan tunangannya langsung mengambil just jeruk langsung dari tangan ibu. Mereka langsung meminumnya setengah gelas sekali teguk.
"Kamu hebat putri, kamu rela di potong ususnya, sedangkan aku, donor darah saja takut".
ha...ha...haaaa
Walaupun Angga telah kehilangan tenaga seharian, tapi dia tetaplah jahil seperti biasanya. Dia suka menggodaku dan membuatku kesal. Menyesal aku mengkhawatirkan dia karena capek.
Malam semakin larut dan mereka pun berpamitan pulang. Rumah terasa sepi kembali tanpa mereka.
Sebelum tidur, aku mengkhabari Raj tentang kepulanganku ke rumah. Seperti biasa, dia hanya membalasku dengan satu kata "Good".
Akhir-akhir ini Raj semakin malas membalas pesanku karena sibuk dengan perkuliahannya. Aku dengar dalam masa pademi, mereka mendapatkan banyak tugas dari biasanya, dan aku harus mengerti dia.
BERSAMBUNG..............
__ADS_1