
Tepat pukul tujuh malam, bibi Rita dan Fanny tiba di rumah membawa koper. Mulai malam ini, bibi Rita dan Fanny akan menginap dan tidur di kamarku.Sedangkan aku sementara tidur bersama adikku Rico.
Saat tiba, wajah bibi Rita tampak sedih, bahkan beberapa butir air matanya masih tertinggal di pelupuk mata indahnya. Kondisi Fanny juga sama, untung saja saat mengendarai mobil tidak terjadi sesuatu pada mereka.
Aku menghampiri mereka dan membantu membawakan koper mereka ke kamarku. Sedangkan Fanny memapah bibi Rita mengikutiku. Tak lama kemudian, ibu datang membawa beberapa air gelasan dan menaruhnya di atas meja.
"Kak Aska, pasti bisa melewatinya kak Rita, kamu yang sabar, ya!"
Ibu mengelus pundak bibi Rita dengan lembut. Sedangkan Fanny tampak syok melihat ayahnya diisolasi di depan kedua matanya. Aku hanya bisa memberikan pelukan hangat padanya.
"Kak Rita, Fanny, bibi sudah menyiapkan makan malam yang enak, ayo kita keluar!" Ajak ibu.
Tiba-tiba Fanny melepas pelukanku.
"Tidak bik, Fanny tidak lapar".
Aku tahu mereka masih sedih, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka kelaparan. Aku menarik tangan Fanny dan bibi Rita ke ruang makan.
Aku menarik kursi dan mempersilahkan mereka duduk. Bahkan aku menuangkan nasi dan lauk ke piring saji.
"Ibu sudah capek memasak dari tadi untuk kalian, setidaknya cicipilah!"
__ADS_1
Semua pelayanan yang aku lakukandari tadi sia-sia saja. Mereka hanya memandangi makanan yang ada di depan meja.
"Jika kak Aska melihat kalian seperti ini, dia pasti marah! Lagi pula kak Aska masih hidup tapi sikap kalian seperti dia sudah tiada".
Ayahku mencoba untuk membujuk mereka, tapi mereka malah menangis hingga membuat nafsu makan kami hilang. Dengan geram, aku langsung vc Angga dan mengaduka sikap mereka.
"Mama, Fanny jangan membuat paman dan bibi kesulitan di sana, papa juga baru saja selesai makan malam dan istirahat. Kalian juga harus kuat demi papa".
Setelah dibujuk Angga, akhirnya mereka pun makan. Selain menemani mereka berdua, aku juga mengirimi Raj video lucu untuk menghiburnya. Dalam sehari, aku berkabar tiga sampai empat kali sehari untuk melihat perkembangan kondisi Raj.
...*****...
Tak terasa sudah satu minggu Fanny dan bibi Rita tinggal di rumahku, dan sudah beradaptasi dengan suasana rumah. Tiba-tiba Angga memberi kabar bahwa paman Aska dinyatakan negatif pada test pertama, dan keesokan harinya akan dilakukan test sweb yang kedua.
Malam harinya, aku susah tidur dibuat mereka. Aku mengerti mereka merindukan paman Aska, bukan berarti mereka harus mengekspresikan rasa rindu mereka dengan menangis di tengah malam. Membuat bulu kudukku merinding saja.
tok....tok...tok...
"Bibi, Fanny????"
Aku membuka pintu kamarku dengan kondisi setengah sadar.
__ADS_1
"Ada apa, putri?"Tanya bibi Rita terkejut.
"Tolong jangan berisik, aku ndak bisa tidur, bik!"
"Maaf putri, kalau bibi sudah menggangu tidur kamu".
Aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku.
...********...
Saat aku bangun hingga berangkat kerja, bibi Rita dan Fanny masih belum bangun, maklum mereka vc sampai suduh tadi.
Saat aku pulang kerja pukul tiga sore, bibi Rita dan Fanny sedang bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan ayah, ibu dan Rico juga berada di depan rumah mengantar kepergian mereka.
"Bibi Rita, Fanny, kalian mau ke mana?"
"Kami mau pulang, nak! Pamanmu Aska tidak terkena corona tetapi memang murni karena penyakit asmanya yang sedang kumat".
"Syukurlah kalau begitu, bik! Aku juga ikut senang mendengarnya".
Setelah berpamitan dengan kami, bibi Rita dan Fanny pergi meninggalkan kami. Sekarang rumah ini kembali normal seperti sebelumnya tanpa ada kehebohan dari mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG..............