Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
Calon Mantu


__ADS_3

Setibaku di rumah Fanny, aku melihat motor Angga sedang terparkir di halaman. Angga adalah kakak Fanny, dia biasanya jarang pulang ke rumah, dan dalam satu tahun, Angga biasanya pulang tiga atau empat kali, atau kalau ada sesuatu. Angga bekerja di luar kota, dan mengharuskan dia tinggal jauh dari rumah. Kali ini Angga pulang, pasti ada sesuatu yang serius, deh!


Aku masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil nama "bibi Rita" berulang kali. Begitu aku membuka pintu, mataku langsung tertuju ke arah dapur yang sedang ramai.


Dekorasi ruang tamu bibi Rita dengan dapur bersebelahan, dan tidak ada sekat pemisah. Jadi begitu masuk, aku langsung tahu kalau bibi sedang sibuk di dapur bersama bik Iyem, dan seorang gadis muda yang bukan anaknya.


"Bibi Rita lagi masak apa nih, baunya enak banget!"


"Eh, Putri! Kamu tidak kerja?"


"Libur, bik."


"Bibi Rita lagi masak sayur cap cay, iga panggang, udang asam manis, dan beberapa masakan kesukaan Angga yang lain."


Aku hanya manggut-manggut saja, menuruti yang di katakan bibi Rita sambil mencicipi masakannya yang baru matang.


"Kalau kamu mau cari Fanny, dia ada di kamarnya." Tanpa di kasih tahu, bibi Rita mengerti kalau aku datang untuk mencari putrinya, Fanny.


Aku memutuskan untuk tetap tinggal di dapur membantu bibi Rita dalam mempersiapkan makan siang. Aku langsung mengupas mentimun yang ada di keranjang tanpa instruksi dengan menggunakan peeler.


"Angga dan paman mana, bik?" tanyaku sambil fokus mengupas mentimun.


"Pamanmu belum pulang dari sekolah, sedangkan Angga, bibi suruh beli kecap manis di warung depan."


"Oh!" kataku pelan. Tak lama kemudian, bibi Rita malah memegang tanganku yang sedang membawa peeler. Bibi Rita mencoba untuk menghentikanku untuk membantunya.


"Bentar lagi Angga datang bantu bibi, kamu ke atas cari Fanny saja, ya! " jawab bibi santai.


Bukannya pergi, aku malah melirik gadis cantik yang sedang membantu bibi Rita mengupas bawang selain bik Iyem.


"Siapa dia, bik?" tanyaku pelan.

__ADS_1


"Pacarnya Angga," bisik bibi Rita.


"Oh!! Calon mantu toh! Makanya Putri di usir dari dapur, nih!" lirikku.


"Iya deh! Selamat main masak-masakan sama calon menantu tercinta ya, bik!" dengan suara lantang.


Pipi gadis itu pun memerah mendengar celotehku. Aku pun terpaksa meninggalkan mereka, dan menuju kamar Fanny yang ada di lantai dua. Sebenarnya usiaku, dan Angga sebaya, tetapi aku lebih dekat dengan Fanny ketimbang Angga.


"Nih, tasmu!!"


Aku melempar tas Fanny ke tempat tidur, dan merebahkan tubuhku di sampingnya. Sedangkan Fanny masih asyik bermain game online.


Hmmmm!


Tanpa sadar, aku mendesah panjang seolah-olah baru mengalami hal yang berat.


"Kamu kenapa, kak?"


"Ndak ada kok, cuma ketemu mantan tadi," jawabku malas.


"Idih...idih! Amit- amit deh!" sahutku kesal.


Mengungkit tentang Sang Jiwa, membuat hatiku kacau. Aku pun langsung tidur membelakangi Fanny.


"Gimana dengan yang di India itu, kak?"


Tiba-tiba Fanny mengalihkan topik lain, karena dia tidak mau melihatku jutek terus.


"Jarang ada persahabatan antara cewek sama cowok, loh!" imbuh Fanny sambil memegang hpnya.


"Tapi, buktinya kami bisa melakukannya hingga sekarang", jawabku cepat.

__ADS_1


"Syukurlah! Kalau jatuh cinta, mah! Mampus loh!"


Seketika aku langsung membalikkan badan, dan melihat Fanny yang sedang asyik bermain.


"Kamu lagi ngatain aku, Fanny?" tatapku tajam.


"Eh..! Bukan kak! Aku lagi bunuh musuh nih," jawab Fanny sungkan.


"Dia sudah kerja?" Kali ini Fanny bertanya dengan serius kepadaku, dan menutup gamenya.


"Dia masih kuliah."


"Tanya sama dia, kak! Kalau orang tuanya ada jodohin dia tidak?" tanya Fanny lagi.


Kami berdua tahu tentang perjodohan yang ada di India, dan aku cukup tertekan dengan pertanyaan yang aku tidak paham. Hubunganku dengan Raj selama ini murni hanya sebatas teman saja, dan aku tidak memiliki perasaan yang spesial pada Raj.


"Dia bilang sih, tidak! Tapi dia juga tidak akan menolak kalau di jodohin katanya, mana dia anak cowok satu-satunya lagi," kataku menjelaskan.


"Wah!! Pastinya di jodohin tuh, mending mundur saja sekarang, kak."


"Ngomong apaan sih, kita cuma temenan doang, kok." Aku melempar bantal yang aku tidurin ke arah wajah Fanny dengan lembut.


Ha... ha... ha


"Temen atau temen, kak!"


Kini Fanny membalas lemparanku tadi ke arah wajahku. Alhasil, kami pun melakukan perang bantal dan tertawa lepas.


Jam menunjukkan pukul satu siang, waktu makan siang telah tiba. Tidak terasa aku sudah mengobrol dengan Fanny cukup lama di dalam kamar.


"Fanny, Putri, ayo turun! Kita makan bareng!" teriak bibi Rita dari lantai bawah.

__ADS_1


Aku dan Fanny langsung berhenti bermain, dan bergegas turun ke bawah dengan riang.


Bersambung.......


__ADS_2