Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
MAKAN BERSAMA


__ADS_3

Aku dan ibu menuju ruang makan. Di sana bibi Rita dan bik Iyem sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Semua orang telah hadir dengan lengkap di sana.


Angga tampak tak memperdulikan kehadiranku dan malah sibuk mengelus perut istrinya yang sedang hamil besar.


Malam itu tak ada satu orang pun yang bertanya akan kondisiku ataupun membicarakan tentang India.


Sepertinya mereka sengaja tak membahasnya untuk menjaga suasana hatiku. Makanan di bagikan, dan Fanny langsung mengomentari masakan ibuku.


"Wah!! Kangen banget makan masakan bibi"


"Makanlah pelan - pelan, kata ibuku.


Fanny tampak tak perduli dan mengambil semua jenis masakan yang ada di meja makan dan memakannya dengan rakus.


Husssh!


"Kamu itu cewek, bukan babi!" Kata Angga sambil menjitak kening adiknya dengan lembut.


"Banyak bacot! Makan!"


Fanny langsung menyuapi Angga dengan udang asam manis yang ada di piring makannya.


"Jarang - jarang ada tukang suap gratisan!" Cibir Angga.


Fanny tampak emosi dan menaruh banyak sambal di dalam tumpukan nasi kemudian berusaha menyuapi Angga dengan paksa.


Dengan lihai Angga menghindari suapan adiknya dengan berbagai jurus.


Suasana makan bersama keluarga begitu hangat hari ini. Kami makan sambil bercanda dan saling ledek layaknya anak kecil. Fanny dan Angga kalau bertemu selalu bertengkar seperti kucing dan anjing, tetapi mereka saling rindukan setiap saat. Tanpa sadar aku pun tertawa melihat kekonyolan mereka berdua.


"Diam!!" Bentak paman Aska.


Suasana kala itu langsung berubah drastis. Kami semua terdiam dan mulai makan dengan tenang.


"Angga kamu sebentar lagi menjadi seorang ayah, tapi sikap kamu masih saja seperti anak kecil!"


"Maaf, pa!"


"Sudahlah ka, sekali - kali kan tidak pa-pa. Jangan terlalu keras sama anak!" Kata ayah menasehati paman Aska.


"Iya pa, ayo kita makan semua, nanti keburu dingin", ajak bibi Rita.


Paman Aska tak berkata sepatah kata pun, dan mulai memakan masakan yang ada di piring makannya. Kami yang lainnya pun makan dengan tenang.


Saat semuanya selesai makan, aku dan bik Iyem mengambil piring kotor dari meja dan membawanya ke dapur. Sedangkan Angga tampak memapah istrinya yang sedang hamil tua untuk berdiri dari kursi makan.


...****...

__ADS_1


Aaaahhhh!!!


Suara teriakan Mita yang meringis kesakitan mendapat perhatian dari semua orang yang ada di sana.


"Ada apa, nak?" Tanya bibi Rita yang tampak mengkhawatirkan menantunya.


"Perutku sakit sekali, ma! Sepertinya mau melahirkan", jawab Mita.


Bibi Rita langsung menghampiri menantunya dan memapahnya.


"Angga cepat nyalakan mobilnya, kita harus segera ke rumah sakit!"


"Baik, ma! Jawab Angga dengan cepat dan langsung melesat ke parkiran mobil.


Kami langsung membagi tugas menjadi dua kelompok tanpa arahan. Ada yang mengntar Mita ke rumah sakit sedangkan aku, Fanny dan ayah membawa barang - barang yang kiranya di perlukan di rumah sakit nanti.


Berhubung kami tidak bisa menetir mobil, jadi kami menggunakan dua motor untuk pergi ke BTN Angga. Setelah menikah, Angga memang telah menetapkan untuk hidup mandiri dan membangun bahtera rumah tangga tanpa campur tangan orang tua.


Memang bagus sih, tapi di saat seperti ini perlu adanya dukungan dari pihak keluarga.


Setiba di BTN Gunung Sari, kami langsung menggeledah kamar Angga dan mengambil tas serta selimut yang akan di pakai. Setelah di rasa semua yang perlu di bawa klop, kami pun buru - buru menuju rumah sakit.


Setiba di rumah sakit ternyata Mita masih di ruang perawatan, sambil menunggu bukaan bayinya belum mencapai untuk melahirkan. Aku dan Fanny mendekati Mita yang di temani oleh Angga.


"Kak Angga, aku sudah membawa tasnya", kata Fanny yang sedang menyerahkan tas pada Angga.


Angga tampak khawatir akan istrinya yang meringis kesakitan. Untuk pertama kalinya aku melihat perjuangan seorang ibu untuk dapat bertahan demi bayinya.


Aku terkesima dengan pemandangan itu hingga tanpa sadar melamun di hadapan mereka.


Tiba - tiba ibuku menepuk punggungku dengan lembut dari belakang.


"Ada apa, nak?"


"Ternyata melahirkan sakit ya, bu! Kalau aku akan melahirkan pasti akan mengalami yang di rasakan oleh Mita saat ini"


"Itu sudah kodratnya wanita. Semua perempuan di seluruh dunia akan mengalami hal yang sama, nak!"


"Maafkan putri yang banyak salah sama ibu!" Kataku sambil memeluk ibu.


Tak lama kemudian, perawat datang dan membawa Mita ke ruang bersalin. Sedangkan kami semua menunggu di luar dengan cemas.


Malam itu, kami benar - benar tidak bisa istirahat. Kami mencemaskan keadaan Mita yang pertama kalinya melahirkan dan juga cucu pertama dari paman Aska, yang nantinya akan menjadi keponakanku.


Badan terasa berat, sebenarnya aku masih lelah dengan perjalanan pesawat tadi. Melihat kecemasan Angga yang mondar - mandir di hadapan kami, aku merasa malu untuk pulang dan istirahat sendirian sedangkan semua keluargaku sedang berkumpul di sini.


"Tenanglah nga, Mita dan anakmu pasti baik - baik saja", kata ayah yang mencoba menenangkan Angga.

__ADS_1


"Benar yang di katakan pamanmu itu, kamu tenanglah sedikit! Kita doakan Mita dan bayinya selamat", sambung paman Aska.


"Baik, pa!"


Angga duduk di ruang tunggu bersama yang lainnya. Di saat seperti ini aku tak bisa berkata apapun untuk menenangkan Angga. Sedangkan aku sendiri sama tegangnya dengan Angga. Mengharapkan semuanya berjalan dengan lancar.


Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruang bersalin menemui kami.


"Siapa yang bernama Angga?" Tanya perawat itu.


Angga langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Anda ikut saya ke dalam", kata perawat itu.


Angga masuk ke ruang bersalin, sedangkan ayah dan paman Aska saling pandang satu sama lainnya. Tampak wajah mereka semakin pucat.


Kami belum mendengar suara tangisan bayi dari tadi, tetapi Angga di minta untuk masuk ke ruang bersalin setelah Mita berada di dalam selama tiga puluh menit.


Kami semua telah berfikiran negatif dan mencoba mengkuatkan diri saat mendengar berita buruk nanti.


Bibi Rita tampak menangis, mengkhawatirkan keselamataan menantunya di dalam. Sedangkan ibu mencoba menenangkannya. Kami mencoba untuk saling mengkuatkan satu sama lain. Hanya cinta dari keluargalah yang mampu membuat kami kuat.


Jam telah menunjukkan tengah malam, sudah satu setengah jam Mita dan Angga berada di ruang bersalin.


Oeeekkkk Oeeekkk


Suara tangisan bayi menghilangkan kecemasan kami. Bibi Rita yang awalnya menangis, kini telah tersenyum kembali.


Ia mengusap air matanya dan memeluk paman yang sedang berdiri di depan pintu bersalin.


Tak lama kemudian, Angga keluar dari ruang bersalin dengan wajah bersedih.


"Ada apa, nak?" Tanya paman Aska khawatir.


Kami pun mengerumuni Angga dan mencari tahu tentang yang terjadi di dalam.


"Akhirnya anakku lahir, pa! Dia bayi yang cantik".


"Lantas bagaimana keadaan Mita?" Tanya paman lagi.


"Ibu dan anaknya selamat kok, pa!"


"Sukurlah!!" Kata paman lagi.


Malam ini sangat melelahkan bagi kami tapi juga malam yang membahagiakan. Kini bertambah satu orang lagi keluarga kami.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2