Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
SUASANA HATI


__ADS_3

Cuti telah berakhir, aku harus bekerja seperti biasanya. Ingin rasanya aku menambah cuti lagi, tapi bos pasti akan marah. Setelah pulang dari rumah sakit kemarin, aku malah tidak bisa tidur. Aku tidak bisa memejamkan mataku, selalu teringat akan Raj dan wanita itu.


Saat aku bangun tidur, kepala terasa pening, dan badan terasa pegal semua. Kupaksakan mandi dengan air dingin, badan tetap terasa berat. Saat berjalan, tubuhku terasa gontai.


Semenjak putus dengan Raj, penyakitku aneh-aneh saja. Tidak bisa diobati dengan medis. Mau cerita sama orang tua, tidak berani. Kalau kondisinya seperti ini kan aku bingung mengobatinya.


Aku paksakan diriku untuk memakai seragam kerja walaupun sedang tidak mood.


Hari ini aku mendapat giliran sift pagi. Jadi makin bete, harus bangun pagi dengan kondisi badan masih capek.


Setiba di tempat kerja, aku sempatkan menggerakkan badanku sedikit untuk menambah semangat di bawah mentari pagi. Aku memutar badanku ke kiri dan ke kanan sambil menghitung di dalam hati.


Baru beberapa hitungan, Nana datang menghampiriku dengan wajah riangnya.


"Wah, pagi-pagi semangat sekali, Putri!" Teriak Nana menghampiri.


"Ahhh, iyaaa", jawabku singkat.


Kalau Nana tahu kenapa aku bisa olah raga di sini. Dia pasti meledekku, gunggamku dalam hati.


"Mana oleh-oleh buatku?" Tanya Nana sambil menengadahkan tangannya padaku.


Tenang! Semuanya kebagian, kok".


Aku menepuk tas bawaanku yang berisi gantungan kunci untuk semua teman-teman kerjaku.


"Mana?" Tanya Nana yang tidak sabaran.


Aku memberikan Nana sebuah gantungan kunci bendera India. Tak lama kemudian, teman-temanku yang lain datang mengerumuniku dan meminta sofenir yang sama. Aku pun membagi-bagikannya ke semua orang hingga sofenir itu habis.


Saat kerja, semuanya sama seperti biasanya. Hanya saja badan dan jiwaku kini sedang lelah. Di saat sedang tidak mengasir, kepalaku mengangguk beberapa kali.


"Nih, di makan"


Teman beggerku memberikanku permen kopi untuk mengatasi rasa kantukku.


"Terima kasih, Yan".


Aku mengambil permen itu dan mengemutnya di dalam lidahku. Memang tidak bisa mengatasi seratus persen sih! Lumayan gratis.


Sekitar pukul tiga sore, ternyata banyak yang sedang berbelanja, dan antrian di kasir pun menjadi panjang.


Saat aku sedang mengasir, salah satu pelangganku mengenalku. Ia sedang membawa putrinya yang berumur tiga tahun berbelanja di supermarket tempat aku bekerja dan kebetulan aku yang menghendel.


"Putri!" Ujar pria itu.


Aku menyipitkan mataku dan mulai mengingat-ingat pria yang ada di hadapanku.


"Sepertinya kamu lupa sama aku, ya Putri!" Kata pria itu tiba-tiba.


Dengan sopan aku berkata "Maaf"

__ADS_1


Ia malah tersenyum kepadaku, tapi aku malah cuek dan lebih memilih untuk fokus menghitung barang belanjaannya.


"Aku Fajar, temannya Angga. Dulu aku pernah ke rumahmu Putri dan di pernikahan Angga kemarin kita juga ketemu", jawab pria itu menjelaskan.


Dari penjelasannya, kini aku telah mengingatnya, walaupun penampilannya yang dahulu dengan sekarang agak berbeda.


"Maaf kak Fajar, aku lupa! Dulu kan kakak ndak berkumis seperti sekarang", jawabku santai.


"Haaa haaa haa"


Ia malah tertawa terbahak-bahak di hadapanku.


"Banyak orang yang suka melihatku berkumis, tapi kamu malah melupakanku", kata pria itu kepedean.


"Maaf," jawabku cepat.


Di saat yang bersamaan, aku telah menghitung semua barang belanjaannya.


"Totalnya empat ratus dua puluh lima ribu rupiah," kataku serius.


Ia langsung memberikanku kartu debit untuk membayar semua tagihannya. Dengan cekatan aku melakukan transaksi itu dengan baik.


"Nomor pin-nya pak!" Kataku serius.


"Kamu ndak percaya sama aku, Putri?"


"Bukan begitu pak! Ini di tempat kerja. Silahkan pin-nya".


"Terima kasih! Kataku saat menyodorkan struk belanjaannya.


Aku benar-benar dingin kepadanya. Padahal aku telah mengingatnya, tapi aku tidak bisa berbicara leluasa saat jam kerja. Bisa-bisa aku kena teguran sama kepala kasir, ngobrol saat kerja.


Setelah serah terima dengan Fajar, ia malah tidak ingin minggir dan tetap diam di hadapanku.


"Minta nomor hp kamu dong, putri?" Kata Fajar memohon.


Aku menatap wajah orang-orang yang mengantri di belakang Fajar dengan tatapan kesal, sedangkan kak Fajar malah cuek dan tak bergeming dari tempatnya. Aku terpaksa menuliskan nomor handphoneku di belakang stuk belanjaannya.


"Nihhh!"


Aku mengembalikan struk barangnya dan memintanya untuk segera pergi dari hadapanku dengan bahasa isyarat.


Kak Fajar pun pergi bersama putrinya dengan riang. Sedangkan aku, harus melanjutkan pekerjaanku hingga jam kerja berakhir.


...******...


Sepulang kerja, rumahku sepi. Tak ada seorang pun yang berada di rumah. Beruntung aku membawa kunci cadangan sehingga aku tidak perlu menunggu mereka pulang.


Saat ini mereka pastinya berada di rumah sakit untuk melihat Mita dan bayinya.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku sambil melihat plafon kamarku. Dalam sekejap, kamar yang biasa aku tempati terasa pengap. Aku teringat akan saat-sat chatingan bersama Raj di kamar.

__ADS_1


Aku rindu saat-saat itu. Rindu dengan Raj yang selalu menggodaku dan membuatku tertawa. Kini rasa rindu itu mencekikku.


Kata orang, jatuh cinta itu adalah moment yang paling mendebarkan dan menyenangkan bagi setiap orang, tetapi yang aku rasakan saat ini malah sebaliknya.


Kucoba untuk menghibur diriku sendiri dengan bermain game online lagi. Game yang biasa aku mainkan selama ini yaitu Ludo game.


Aku mengistal ulang dan mulai memainkannya. Di detik-detik kemenanganku, tiba-tiba ada telpon masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Kesel bangett! Kalau aku tidak mengangkat telpon itu, malah aku tidak bisa melanjutkan permainanku.


"Hallo!" Sapaku dingin di telpon.


"Putri, ini aku Fajar," jawabnya.


"Oh iyaaa, kak Fajar, ada apa telpon?"


"Ini nomor kakak, simpan ya!"


"Iya kak!" Jawabku bete.


Saat itu, aku hampir saja menutup telepon kak Fajar, teringat akan permainan game yang belum selesai tadi.


"Kamu ada dimana sekarang?"


"Di rumah, kak! Emangnya ada apa?" Tanyaku.


"Kamu ndak jenguk keponakanmu?"


"Ndak kak, rumah sepi. Lagian kemarin aku sudah melihat bayinya".


"Ohhh! Jadi kamu sudah ke sana kemarin".


"Iya kak, sudah ya, byeee"


"Tunggu Putri!" Kata kak Fajar cepat.


"Besok sore, bisakah kamu membantuku memilih kado buat keponakanmu?"


Yaaaa ampun!! Kak Fajar kan punya anak cewek umur tiga tahun, masa bingung mau beliin kado buat anaknya Angga, gunggamku dalam hati.


"Maaf kak Fajar, aku sibuk! Bye", jawabku dingin.


Aku langsung menutup telepon kak Fajar, setelah berbicara dengannya selama tujuh menit di teleopn.


Cepat-cepat aku langsung masuk ke aplikasi game yang aku sedang mainkan. Ternyata gamenya telah berakhir.


Saat permainan tadi, aku hampir saja menang, tiba-tiba kalah kayak gini. Kesel banget.


Sebagai orang yang tidak suka menerima kekalahan, aku pun login ulang dan main hingga tiga ronde.


Saking keenakan main, hingga aku benar-benar tak sadar bahwa waktu telah berganti menjadi malam, dan kedua orang tuaku pun telah kembali dari rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2