
Saat aku pulang dari kerja, kulihat ibu sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah. Ia sedang berbicara dengan ibu Felica, tetangga rumah kami. Ia sangat suka bergosip di komplek rumah. Aku dan ayah sering memperingati ibu untuk tidak bergaul dengannya, tapi ibu tidak mau perduli. Ibu bilang tidak enak sama tetangga, kalau kita cuekin.
Kali ini, siapa lagi yang menjadi korban gosip ibu Felica. Hingga membuat ibu tertunduk malu dan diam seribu bahasa seperti itu. Aku langsung menghentikan motorku di hadapan mereka.
"Hallo tante Felica! Apa kabar?"
"Akhirnya si bintang tamu muncul juga," sahut ibu Felica dengan nada menyindir. Ibu Felica memiliki bibir yang cukup pedas, terutama kalau menyangkut gosip yang ia sampaikan. Itulah salah satu alasanku agar ibu tidak usah dekat-dekat dengan tante Felica.
"Ada apa, bu?" tanyaku curiga.
"Kamu masuk saja, nak! Bawa motornya ke dalam."
Saat itu, aku langsung mematuhi perintah ibu kepadaku. Aku tidak mau bertengkar dengan ibu lagi setelah insiden semalam.
Aku menaruh motor di bagasi, dan samar-samar mendengar pembicaraan ibu Felica yang menyengat hati tentang diriku. Aku langsung bergegas keluar rumah dan menemui ibu.
Ibu Felica memang memiliki tubuh yang mungil, tetapi memiliki suara yang keras seperti spiker. Kalau ia berbicara, bisa tembus hingga belakang rumah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, bu?"
Disaat yang sama, ibu Felica langsung memotong pembicaraanku. "Kamu sebagai seorang wanita, harusnya sadar diri dong! Umur sudah tiga puluh tapi masih belum menikah. Cih! Anakku Tina yang sebaya dengan kamu sekarang sudah punya anak dua. Ndak malu apa?"
"Maaf tante Felica, aku ndak pernah malu dengan usiaku sendiri. Kita tidak bisa memaksakan jodoh begitu saja."
"Alahhhh! Bilang saja kamu ndak bisa menggaet satu pria pun di dunia ini! Percuma dong, punya wajah cantik tapi ndak laku," sindir tante Felica lagi.
Kupingku panas mendengarnya dan dadaku terasa panas bagaikan bara api yang sedang meluap-luap. Aku mengecak pinggang dengan angkuh sambil memarahi ibu Felica. "Emangnya dagangan ya! Harus laku gitu," sahutku ketus.
"Kalau orang tua kasih tahu itu harusnya jangan nyeyel. Jadi, seperti ini anak didikan ibu Wati. Cih! Sungguh terlalu.
Ibu Felica menatapku dengan rendah, tatapan yang sama dengan orang-orang sekitarku yang tidak suka padaku.
"Justru karena aku memandangmu sebagai orang tua, makanya aku hanya bisa marah di mulut saja. Coba kalau orang lain, sudah kugulung kalu seperti rol rambut," umpatku.
"Maafkan anak saya, bu! Tolong jangan dimasukkan dalam hati," sahut ibu lirih.
"Ngapain ibu yang minta maaf! Ibu ndak salah apa-apa kok," protesku.
"Diam, Putri! Tutup mulutmu."
__ADS_1
Aku tidak tahu, tante Felica bicara apa saja tentang aku, atau sudah berapa lama ia menggosipkan aku. Lagi-lagi kulihat ibu kecewa karena aku.
"Nanti kalau ada kabar terbaru lagi, saya akan hubungi ibu Wati lagi, ya!"
"Terima ka..."
"Cukup tante! Bisa ndak sih, ndak usah ikut campur urusan orang lain," potongku ketus.
Aku langsung menggiring ibu masuk ke rumah, sedangkan ibu Felica tampak marah saat aku abaikan.
"Apa kamu tidak kasihan sama kedua orang tua kamu yang mendambakan cucu? Mau nunggu adik kamu menikah! Kelamaan...."
Aku tidak perduli akan omongan tante Felica mengenai hidupku tapi tidak dengan ibu. Ia tampak sedih dan aku tidak tahu bagaimana cara menghiburnya. Setelah aku mendudukkan ibu di ruang tamu, aku ambilkan segelas air putih di dapur.
"Sudahlah,bu! Jangan dengarkan omongan tante Felica, ya."
"Apa yang ia katakan, tidaklah salah, nak! Tapi ibu yang telah salah menjadi orang tua panutanmu," sahut ibu lirih.
Air mata berlinang di wajahnya yang cantik. Aku pun ikut sedih.
"Maafkan aku, bu!" Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan padanya sambil memeluknya. Kami pun menangis bersama.
Disaat air mataku masih menetes di pipi, tiba-tiba handphoneku berdering. Saat aku melihat nomornya ternyata berasal dari nomor yang tidak dikenal.
Awalnya aku tidak memperdulikannya, tetapi ia terus saja menelponku berulang kali. Jadi terpaksa aku mengangkatnya.
"Hallo!"
Aku masuk ke kamarku sambil menerima telpon, sambil meminta ijin sama ibu, kalau aku akan menjawab telpon di kamar.
"Hai Putri, ini aku Raj!"
Raj menelponku disaat hatiku sedang kacau. Sebenarnya aku sangat senang Raj menelpon, tetapi disaat yang sama hatiku sedih karena tidak dapat memilikinya. Tadi pagi, kami telah bertemu di Bank XX seperti orang asing, kini ia menelponku seperti dulu.
"Apa yang kamu inginkan dariku, Raj?" tanyaku pilu.
"Aku ingin mengajak kamu makan malam hari ini. Mau ya!"
Setelah semua yang ia lakukan kepadaku, sekarang enteng banget mulutnya ngajak ketemu.
__ADS_1
"Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, Raj!" jawabku cepat.
"Ada hal yang ingin aku katakan. Jadi aku mohon, Putri!"
"Tidak bisakah kamu mengatakannya sekarang! Aku sendirian di kamar, dan tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraan kita," rengekku.
"Ada beberapa hal yang ingin aku katakan secara langsung," sahut Raj lagi.
Sejenak aku berfikir, mungkin ada baiknya aku bertemu dengan Raj secara langsung dan meluruskan semua permasalahan kami, sekalian melepas rasa rinduku padanya.
"Kamu kirimkan alamatnya lewat pesan, dan aku akan kesana sekitar satu jam lagi."
"Okey!" jawab Raj.
Aku menutup telpon Raj dan menyimpan nomornya untuk kedua kalinya di handphoneku. Bahkan aku tertawa sendiri melihat nama Raj Kumar ada di kontak telponku.
Aku bergegas bersiap-siap untuk acara nanti malam. Buat wanita, satu jam itu kadang tidak cukup buat mandi dan dandan.
Aku memilih menggunakan T-shirt putih longgar dengan celana jins biru. Aku juga memakai riasan yang simple yang memang styleku.
Setelah siap, aku langsung menemui ibu yang sedang mempersiapkan makan malam di dapur. "Bu, hari ini aku mau makan diluar."
Ibu tidak melihatku, tangannya sedang sibuk menggoreng ikan nila. "Tumben, nak! Kamu pergi sama siapa?" tanya ibu tanpa melihatku.
"Sama temen, bu!"
"Nana?" tanya ibu lagi.
"Iya, dia bilang ada restaurant baru yang buka saat malam saja."
Entah mengapa aku masih enggan menceritakan tentang Raj kepada ibu, mengingat kini hubunganku dengan Raj telah kandas. Aku tidak mau ibu jadi kepikiran. Aku harap ibu tidak akan pernah mengetahuinya untuk selamanya. Cinta sejati yang tak mungkin untuk kumiliki seperti kisah ayah dan ibu kini.
"Ingat, jangan pulang terlalu malam, ya!" kata ibu sambil menatapku serius.
"Baik, bu!" jawabku cepat.
Aku mengambil motorku dan menuju lokasi yang telah diberikan Raj padaku.
Bersambung...
__ADS_1