
Setelah melewati masa kritis, Raj mulai dipindahkan ke bangsal perawatan. Aku yang selalu setia memantau perkembangan kesehatan Raj, baik saat di ICU ataupun di bangsal.
Raj mendapatkan asuransi kesehatan dari tempatnya bekerja. Ia ditempatkan di bangsal perawatan kelas dua. Dalam satu ruangan yang berukuran dua kali dua meter dengan tiga orang pasien, dan kebetulan bangsal tempat Raj terisi semua, dan Raj mendapatkan tempat di dekat pintu. Jadi agak sempit! Saat aku tidur saling dempet-dempetan dengan orang tua Raj.
Aku menyuapi Raj makan, kadang menyisir rambutnya yang ikal atau memandikannya dengan lap basah. Walaupun dalam keadaan musibah seperti ini, hubunganku dengan Raj malah semakin erat saja. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama, bahkan bersanda gurau layaknya orang pacaran.
Jika orang-orang melihat kebersamaan kami saat ini, mereka pasti tidak akan percaya kalau kami pernah mengalami "Putus" dan saling menyakiti satu sama lain.
Apalagi kedua orang tua Raj juga tidak melarangku untuk menemani putranya di rumah sakit. Seolah-olah mereka telah memberikan lampu hijau pada hubungan kami.
Saat itu, aku benar-benar mengira bahwa perjalanan cintaku dengan Raj akan berjalan dengan mulus, tetapi ternyata tidak. Ketika aku datang untuk menjenguk Raj di kamarnya, ternyata tempat Raj ramai dikunjungi oleh beberapa orang India. Mungkin karena besok Raj sudah boleh pulang dari rumah sakit.
Mereka menggunakan bahasa Hindi, dan Raj tampak tertawa lepas dengan seorang wanita India yang menggunakan kurta merah, berkulit coklat, dan memiliki kutil di atas hidungnya. Ia tampak lebih muda dariku dan Raj. Aku hanya berfikir bahwa wanita itu mungkin saudara Raj yang datang menjenguk.
Aku langsung masuk ke ruangan yang sesak itu, dengan hati yang lapang.
"Hai Raj! Coba kamu tebak, apa yang aku bawa?" tanyaku semangat.
Tiba-tiba raut wajah Raj berubah seratus delapan puluh derajat saat menatapku. Hal ini diikuti pula dengan kedua orang tua Raj yang selama ini baik padaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa berada ditempat yang salah.
"Ada apa Raj? Mengapa semua diam?"
Raj tidak menjawabku, ia malah memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca. Sedangkan kedua orang tua Raj langsung keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun. Kini hanya ada aku, Raj, dan wanita itu.
Aku menaruh tas bawaanku yang berisi buah dan cemilan kesukaan Raj di atas laci kecil. Sedangkan wanita itu, tanpak menatapku dengan tajam. "Siapa dia Raj?" tanyaku.
__ADS_1
Raj hanya menatapku dengan sedih, dan tak menjawab pertanyaanku. Seolah-olah ia enggan untuk memperkenalkannya padaku.
"Teman?" tanya wanita itu padaku. Wanita itu, tanpak percaya diri duduk di dekat Raj sambil melihat Google translite di handphonenya.
"Bukan!" jawabku.
"Bukan teman, berarti musuh," kata wanita itu lagi. Kali ini dengan sengaja wanita itu langsung tiduran disamping Raj.
Apaan sih ini cewek, bikin orang naik darah saja. Mana Raj diam saja lagi. Ih....! Pengen kupencet kutilnya hingga masuk, umpatku.
Tak sampai disana saja, wanita itu malah mengerayangi tubuh Raj dengan jemarinya. Hingga tangannya menyentuh bulu dada Raj yang keriting dan panjang, makin emosilah aku.
Aku langsung menjambak rambutnya yang lurus terurai dan menjauhkannya dari Raj. Saat aku ingin menyerangnya lagi, tiba-tiba Raj menghentikanku.
"Jangan Putri. Dia adalah tunanganku!" sahut Raj keras.
Aku berbalik dan menangis menatap Raj. "Please Putri, jangan sakiti dia." Untuk pertama kalinya Raj memohon padaku hanya demi wanita kutil hidung.
"Kenapa Raj...Kenapa?" tanyaku sedih.
"Maaf Putri, ayahku sudah berusaha untuk membatalkan pertunangan ini, tapi dari pihak wanita tidak mau terima," kata Raj menjelaskan.
Ha...ha...ha...
Aku menertawai diriku yang bodoh dan mudah percaya pada cinta. Hal yang selalu menyakitiku hingga berulang kali.
__ADS_1
"Maaf, Putri..."
"Kenapa kamu tidak bilang sejak kemarin, Raj?"
"Aku kuga baru tahu hal ini, Putri."
Mataku beradu pandang dengan Raj, kami berdua menangis bersama akan ketidakberdayaan kami. Cinta yang sejak awal memang sulit untuk kami pertahankan. Kini dengan adanya wanita itu, memperjelas garis perpisahan kami. Sedangkan tunangan Raj hanya berdiri diam melihat kami menangis.
Semenjak saat ini, hubungan kami sudah benar-benar berakhir. Sudah tidak bisa bertemu dengan Raj seperti kemarin lagi. Tak dapat bercanda dengannya, atau memegang tangannya lagi.
Baru kali ini aku merasakan jatuh cinta yang begitu dalamnya, dan merasakan sakit yang teramat menyiksa. Hatiku bagaikan ditikam seribu pisau karenanya. Bahkan aku sulit untuk bernafas.
Suara tangis kami menarik simpati dari pasien lainnya. Mereka juga merasa iba akan kesedihan kami. Tak lama kemudian, seseorang datang membuka pintu kamar. Saat itu, aku tidak perduli dengan semua orang yang ada disekitarku lagi.
"Kya hua?" tanya pria yang baru datang itu. Sedangkan tunangan Raj langsung menghampirinya sambil memanggil "Bhaiya".
Aku langsung menghapus air mataku, berbalik dan melihat siapa pria yang dipanggil kakak oleh tunangan Raj.
Oh Tuhan! Cobaan apa yang Engkau berikan kali ini? Bukan hanya berpisah dengan pria yang aku cintai, tetapi bertemu dengan orang yang malas aku temui, dia adalah Sacin, kakak dari tunangan Raj.
"Putri!" sapanya.
"Sacin...."
Memandang wajah Sacin, membuatku teringat akan semua dosa yang pernah aku lakukan untuknya. Kini dosa itu telah berimbas kepada hubunganku dan Raj.
__ADS_1
Catatan: Bhaiya adalah sebutan kakak laki-laki.
Bersambung......