
Aku turun bersama Fanny menuju ruang makan. Ternyata paman Aska sudah berada disana. Hari ini, meja makan lebih ramai dari biasanya, walaupun tak terencana.
"Kak, siapa dia?" Tanya Fanny penasaran, ia yang baru saja datang, dan duduk di kursi makan. Sedangkan aku duduk di sebelah Fanny, Angga duduk di sebelah bibi Rita.
Ehmmm!!!
Angga mengumpulkan keberanian yang cukup besar sambil melihat semua anggota keluarganya lengkap. Sepertinya Angga ingin melakukan pengumuman.
"Kenalin, wanita cantik yang ada di sebelahku ini adalah Mita, calon istriku."
Sejak awal, Angga dan Mita memang telah mencuri perhatian kami. Padahal sebelumnya, tak pernah terdengar Angga memiliki seorang pacar sama sekali. Kini, ia tiba-tiba mengumumkan calon istrinya di hadapan kami.
"Ciyee! Akhirnya kakak membawa kakak ipar ketemu papa dan mama."
Fanny tersenyum girang melihat calon iparnya, sedangkan Mita hanya tersipu malu.
"Mita berasal dari Bali. Ini pertama kalinya ia datang ke Lombok, dan akan tinggal di sini selama seminggu. Pandangan Angga yang tadinya melihat semua orang, kini ia fokus pada adiknya fanny. "Khusus buat adikku Fanny, kamu harus temenin dia ke mana saja dia mau, ya! "
"Beres kak, asal jangan lupa ini!"
Fanny menggosok-gosokkan jempolnya di atas jari telunjuknya yang mengartikan uang.
Angga langsung mengambil dompetnya di saku celananya, dan memberikan lima lembar uang pecahan seratus ribu rupiah untuk menyuap adiknya.
"Kamu kenal dia dimana, nak?" tanya paman Aska nyeletuk.
"Dari sosmed, Pa."
Kami memandang Angga dengan tatapan tak percaya. Angga memang tampan, dan sering di kerumuni wanita setiap hari. Tetapi ternyata ia malah jatuh cinta pada wanita yang jauh darinya. Jodoh seseorang tidak bisa ditebak.
"Papa yakin, Angga berani mengambil keputusan untuk menikahi Mita, pastinya kamu sudah mengenal dia dari luar, dan dalam."
"Sudah, pa."
__ADS_1
"Bagus!" Paman Aska terus saja mengintrogasi Angga dengan serius tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitarnya.
"Lantas, kapan kalian berencana untuk menikah?"
"Tahun depan, Pa."
"Tunggu rumah BTN selesai di renovasi," imbuh Angga lagi.
"Kamu sudah ketemu dengan keluarganya?"
"Baru lewat video call saja, Pa."
Paman Aska mengangguk - anggukan kepalanya sambil menyeruput air putih yang sudah tersedia di meja makan.
"Kamu harus ketemu dengan keluarganya dulu sebelum melakukan lamaran. Mengerti!!"
"Siap, Pa!!" sahut Angga dengan suara keras.
Suasana saat itu cukup kaku, dan aku yang sebagai orang luar pun juga ikutan tegang.
Sebelum paman Aska menyelesaikan kata-katanya, bibi Rita langsung nyeletuk.
"Angga pasti mengerti akan hal itu, Pa."
"Sekarang, ayo kita makan dulu sebelum masakannya keburu dingin," ajak bibi Rita.
Walaupun paman Aska hebat di luar sana, tetapi kalau di rumah bibi Rita lah yang berkuasa. Buktinya, kami semua mematuhinya.
Kami mengambil nasi, dan lauk yang ada di meja secara bergiliran, dan makan tanpa suara seperti biasanya. Hanya saja, admosfirnya tetap terasa canggung terutama bagi Mita. Ia tampak tertekan,p dan tidak berselera makan.
Paman Aska memang baik, tapi ia selalu berbicara dengan nada tinggi hingga membuat kesan garang. Di sekolah, paman di kenal sebagai guru yang tegas.
Apalagi, kali ini menyangkut pernikahan putranya, paman pasti akan memastikan calonnya dulu.
__ADS_1
Hmmm! Semoga saja Mita tahan akan sikap keras kepala paman Aska, dan juga Angga.
Setelah selesai makan, kami pun pindah ke ruang keluarga untuk menikmati buah semangka yang sudah di kupas, dan ditaruh pada nampan. Sedangkan piring kotor yang ada di meja makan, akan di bersihkan oleh bik Iyem.
Paman Aska melihat Angga, dan Mita secara bergiliran. Tampaknya ia agak penasaran dengan hubungan LDR yang dijalani putranya.
"Nga, kamu ketemu Mita secara langsung seperti ini, dimana?"
Pertanyaan paman Aska ternyata sama dengan yang ada di benakku saat ini.
Angga hanya tersenyum cengengesan sambil berkata " Ini adalah hari pertama kali kami bertemu."
Sumpah! Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Sedangkan paman Aska tampak kecewa. Bagaimana tidak! Bagi paman, laki-laki itu harusnya lebih dulu menemui perempuan, dan bukan sebaliknya.
Alhasil, paman Aska pun mengomeli Angga habis-habisan hingga telingaku yang ikut mendengarnya pun terasa panas.
Demi menyelamatkan hari liburku, begitu selesai makan semangka, aku pun berpamitan.
"Paman Aska, bibi Rita, dan semuanya, aku pamit dulu, terima kasih atas makan siangnya tadi."
"Kok cepat sekali! Bibi mau ajak kamu, dan Mita jalan-jalan."
"Iya, lain kali saja, bik."
Aku terpaksa tersenyum pada mereka untuk menyembunyikan rasa canggungku.
"Kalau begitu, salam buat ayah, dan ibu kamu."
"Baik, bik!"
Aku menusuri jalan menuju rumah dengan pikiran yang rumit. Aku mengagumi Angga yang berani melakukan keputusan besar untuk melakukan LDR.
Tidak semua pasangan mampu bertahan dalam hubungan jarak jauh. Angga telah membuktikan bahwa penyatuan hati itu lebih penting, daripada sebuah jarak. Hari ini adalah hari pertama mereka bertemu secara nyata, tetapi Angga telah menjamin Mita untuk menjadi istrinya kelak.
__ADS_1
Bersambung......