
Paman Aska keluar dari ruangan dokter untuk menemui kami. Wajahnya tampak pucat dan matanya menunjukkan kekawatiran yang mendalam.
"Ada apa paman?" tanyaku yang juga khawatir akan situasi kami.
Belum saja paman Aska berbicara, guide kami bersama ibu yang terluka itu keluar dan menemui kami.
"Kita harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini dan mengantar ibu Kamini ini pulang!!" jawab paman Aska serius.
Aku dan yang lainnya tak berani bertanya lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang dokter. Hanya saja kami baru tahu bahwa wanita yang terluka itu bernama Kamini.
Sesuai intruksi paman, kami mengantar ibu itu pulang ke rumahnya. Lagi - lagi aku duduk di sebelah itu dalam mobil.
"Hy!!" sapaku.
Ibu itu hanya melihatku dari atas sampai bawah. Sumpah!! Aku malu banget saat itu. Entah ia mengerti akan bahasaku atau tidak.
__ADS_1
Kecanggungan pun terjadi di antara kami. Di dalam perjalanan menuju rumah ibu Kamini, kami tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya bicara pada sopir kami menggunakan bahasa Hindi untuk mengarahkan jalan menuju rumahnya.
.
...****...
Setiba kami di rumah ibu Kamini, kami semua turun dari mobil dan mengantarkan ibu Kamini masuk rumah dan berbicara dengan keluarga ibu ini mengenai konpensasi yang akan paman lakukan nanti. Rumahnya sederhana tetapi tingkat dua. Walaupun demikian, keluarga ini termasuk golongan keluarga menengah ke atas.
Kedatangan kami di sambut hangat oleh semua anggota keluarga di sana, hanya saja suasananya sedikit ramai. Menurut penjelasan dari guide kami, saat ini sadang adanya pertemuan antara calon pengantin yang akan di jodohkan nanti. Guide itu juga mengatakan kalau tradisi perjodohan di India masih kental dan bahkan ia pun menikah karena di jodohkan.
Tidak hanya di mobil saja, aku juga duduk di sebelah ibu Kamini di rumahnya. Entah itu sudah diatur atau memang kami di takdirkan untuk duduk bersebalahan, membuatku agak canggung.
Tak lama saat kami tiba, seorang laki - laki datang bersama seorang wanita cantik datang dari lantai dua. Pria itu memanggil ibu Kamini dengan sebutan "Mata".
Bagaikan tersambar petir di siang bolong rasanya, saat mengetahui bahwa pria yang sedang menghampiriku adalah Raj Kumar. Pria India yang selama ini aku ajak chattingan, dan mengajakku kencan kemarin.
__ADS_1
Aku diam terpaku melihat Raj memeluk ibunya di hadapanku. Tanpa sadar air mataku berlinang deras, saat mengetahui bahwa hari ini Raj akan bertunangan di hadapanku.
Fanny mengusap air mataku dengan tissu yang ia bawa dan memapahku untuk keluar rumah itu. Sedangkan paman Aska dan bibi Rita hanya bisa diam sambil menahan amarah mereka.
...****...
Di dalam mobil, aku menangis sejadi - jadinya di pelukan Fanny. Bagaikan di tikam oleh ribuan pisau saat mengetahui Raj telah menjadi milik orang lain. Fanny yang melihatku menangis pilu ikutan menangis bersamaku.
Paman dan bibi saat itu ingin masuk mobil, mengurungkan niat mereka dan membiarkan kami menangis. Sopir, guide, paman dan bibi Rita menunggu di luar mobil dengan sabar.
Dalam linangan air mata, samar - samar aku lihat Raj sedang menghampiri kami tapi di hadang oleh paman Aska. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kepalaku mulai pusing dan pandangan mataku mulai kabur sedikit demi sedikit.
Catatan: Mata adalah panggilan ibu dalam bahasa Hindi.
Bersambung.............
__ADS_1