Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
LORONG


__ADS_3

Aku dan Sacin memutuskan untuk berbicara empat mata di taman depan rumah sakit, sedangkan adiknya Sacin tetap bersama Raj di ruang bangsal.


"Kita ketemu lagi, Putri."


Aku hanya menatap Sacin dengan lekat. Sebenarnya apa yang ia inginkan dariku, hingga mengajakku jauh dari Raj, fikirku.


"Seperti inilah aku kemarin," kata Sacin lagi.


"Puas?" pancingku.


"Haa...."


Aku cukup terkejut dengan jawaban Sacin, orang yang dulu menjadi teman baikku kini bahagia melihatku hancur tanpa harapan seperti sekarang. Entah ini karmaku yang kulakukan dahulu atau Sacin memang sengaja datang untuk menghancurkanku. Yang jelas, hatiku kini telah lelah untuk menghadapi ini semua.


"Selamat!" Hanya ini yang dapat kuucapkan pada Sacin.


Aku langsung berlalu meninggalkan Sacin begitu saja. Diluar dugaanku, Sacin malah mengejarku dan menarik lenganku. "Tunggu!"


"Sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi," kataku meronta.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin Raj kembali kepelukanmu?" tanya Sacin. Aku menatap Sacin dengan mata sedih. Hatiku bergejolak mendengar keinginan itu, hanya saja disaat yang sama sebilah pisau mengiris-irisnya. Sungguh sakit!


"Aku sangat ingin, tetapi sepertinya Raj lebih memilih adikmu daripada aku," jawabku lirih.


Sacin melepaskan genggamannya di lenganku dengan perlahan. Ia tampak terkejut akan jawabanku yang pasrah akan kenyataan pahit ini.


"Apa kamu fikir mereka akan bahagia?" tanya Sacin lagi.


Kali ini, aku tidak dapat mengontrol air mataku yang terus mengalir bagaikan air terjun. "Entahlah! Tapi yang jelas, aku tidak akan bahagia seumur hidupku."


"Apa kamu sedang mengutuk dirimu sendiri, Putri?" bentak Sacin.


Kini dadaku terasa sesak mengingat semua memori tentang Raj. Aku menangis sejadi-jadinya dihadapan Sacin. Orang yang ingin balas dendam kepadaku. Aku yakin, dalam hatinya, Sacin pasti tertawa melihat kekalahanku.


"Dari awal, aku memang sudah kalah...." kataku sedih.


Sacin kini berdiri dihadapanku. Ia tampak iba akan kesedihanku yang mendalam. "Apa kamu tidak mau meminta bantuanku, Putri?" tanya Sacin perduli.


Dengan cepat, aku langsung menggelengkan kepalaku, tanpa berfikir dua kali. Aku pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Sacin. Ia tahu bahwa hatiku kini benar-benar hancur, dan percuma baginya untuk menghentikanku lagi.

__ADS_1


Saat ini, yang kuinginkan hanyalah bertemu dengan Raj untuk terakhir kalinya. Walaupun perpisahan ini begitu menyakitkan, tetapi aku ingin mengakhirinya dengan sebuah senyuman.


Saat aku tiba dilorong kamar Raj, langkahku mulai melambat. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Ketika di depan kamar Raj, aku hanya berani membuka pintu kamar Raj sedikit, dan mengintipnya dari sudut pintu.


Kupandangi Raj yang sedang asyik bercengkrama dengan seseorang menggunakan bahasa Hindi. Aku tidak tahu, ia sedang berbicara dengan siapa, karena aku hanya bisa mengintip Raj saja, tidak teman yang bersamanya. Yang jelas Raj tampak bahagia, dan telah melupakanku dengan cepat.


Hatiku seperti terkoyak-koyak melihatnya. Aku yang mengenal, dan mencintai Raj selama lima tahun, sekarang aku malah menjadi seorang pengganggu dalam sebuah hubungan perjodohan.


Mengapa kami harus dipertemukan, jika pada akhirnya harus berpisah seperti ini! Selama ini, aku sangat berharap ada seorang pria yang tulus mencintaiku, tapi nyatanya semua itu hanyalah anganku saja.


Tak ada satupun pria yang tulus dekat denganku. Tubuhku terasa lemas, sedangkan air mataku terus mengalir bagaikan sungai Himalaya yang tidak pernah kering. Beberapa kali, tubuhku mundur ke belakang tanpa kendaliku.


Kini tanganku telah terlepas dari pintu kamar Raj, dan mundur tiga langkah ke belakang, sambil mengatur nafasku yang sesak. Disaat kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu, tangan ibu Raj memegangi pundakku dari belakang. Tampaknya ia baru datang dari kantin rumah sakit sambil membawa makanan dan minuman di tangan kirinya.


"Masuk!" Ajak ibu Raj ramah.


Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dengan penuh air mata dan meninggalkan lorong kamar itu. Kali ini, aku telah memantapkan hatiku untuk meninggalkan Raj, dan melupakan semua tentangnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2