Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
TERBAWA SUASANA HATI


__ADS_3

Saat pulang ke rumah, ayah, ibu, dan adikku Rico sedang makan malam di ruang tengah. Aku yang baru tiba, langsung menyambar udang asam manis dengan tanganku.


"Loh! Katanya mau makan diluar sama Nana," sahut ibu yang tampak terkejut akan kehadiranku.


"Makanannya tidak enak, bu! Aku lapar."


"Cuci tangan dulu sebelum makan. Kebiasaan!" sahut ibu lagi.


Aku langsung mencuci tangan di wastafel pakai sabun lalu duduk dengan manis. Tanpa sungkan, aku langsung mengambil semua makanan yang masih tersisa. Piring makanku sudah seperti tumpeng gado-gado kubuat.


Aku makan dengan lahap menggunakan tangan. Aku ingin melampiaskan semua kekesalanku pada makanan. Seolah-olah aku ingin memakan Raj, seperti udang asam manis ini.


Semua keluargaku ternganga melihat gaya makanku yang rakus, seolah-olah aku sedang kerasukan setan.


"Makannya pelan-pelan, nak!" sahut ibu lagi. Aku tidak perduli dengan wejangan ibu saat itu. Aku terus saja mekan dengan rakus, hingga tanpa sadar ada tulang ikan yang menyangkut di tenggorokanku.


Tenggorokanku terasa berat dan aku susah bernafas karenanya. Ayah langsung berdiri di belakangku sambil memukul-mukul punggungku dengan keras hingga aku muntah.


Uhuk uhuk....


"Minum dulu, nak! sahut ibu sambil menyodorkan air putih kepadaku.


Aku duduk terdiam sambil memegang dadaku. "Apa sakit, nak?" tanya ayah khawatir.


"Aku baik-baik saja, kok! Cuma sedikit terkejut...."


Ayah dan Rico memijit punggungku dengan lembut agar pencernaanku lancar. Kupandangi wajah ayah, ibu, dan adikku secara bergantian. Tampak mereka begitu mengkhawatirkan keadaanku.


Dulu pernah terbesit di benakku untuk mengakhiri hidupku demi cinta. Kini, aku tak akan melakukan hal yang sama. Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, jadi untuk apa aku harus mengakhiri hidupku demi orang yang tak pantas.


Aku tidak mungkin membagi dukaku kepada kedua orangtuaku setelah insiden kak Fajar. Aku akan menyimpan luka ini seorang diri, tanpa ada yang tahu.


Aku meminum air putih yang telah disuguhkan oleh ibu. Tak lama kemudian, aku masuk ke kamarku sambil memegang dadaku. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, dan mencoba membuat diriku rileks.


...****...


Saat aku sedang bekerja, tiba-tiba ibu Raj datang menggunakan kurta biru muda. Ia menghampiriku saat aku sedang sibuk mengasir di swalayan. Kebetulan saat itu antrian para custamernya panjang sekali dan merupakan hari yang sangat sibuk untukku.

__ADS_1


Tanpa aku sadar salahku apa, ibu Raj langsung menampar pipiku dengan keras di depan semua orang. Aku merasa malu dan terkejut. Disaat yang sama, aku langsung terbangun dari tempat tidur.


Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, dan nafasku terburu-buru. Aku terkejut sampil memegangi pipiku yang terasa panas. "Ternyata hanya mimpi," gunggamku.


Aku duduk di tempat tidur lama sekali sambil memikirkan arti mimpiku itu. Jam telah menunjukan pukul enam pagi, dan ibu pun masuk ke kamarku untuk membangunkanku seperti biasa.


"Kamu sudah bangun, nak?"


Ibu duduk disampingku yang sedang termenung sendiri.


"Semalam, aku mimpi buruk, bu!" kataku sambil meletakkan kepalaku di pundak ibu.


"Mimpi hanyalah bunga tidur saja, nak! Yang terpenting kita tetap semangat dalam menjalankan hidup ini. Sebesar apapun yang kita hadapi, pasti akan kita lewati dengan baik. Sekarang kamu bantu ibu bersih-bersih rumah sebelum kamu berangkat kerja."


Bujukan ibu memang paling mantap. Ia selalu tahu bagaimana membuatku semangat kembali.


"Baik, bu!"


Aku memutuskan untuk mengikuti saran ibu, untuk tetap semangat dalam menjalani hidup, walaupun hatiku terasa perih karena Raj.


Aku mulai membersihkan tempat tidurku kemudian membersihkan setiap sudut ruangan rumah. Sedangkan ibu, sibuk menyiapkan sarapan kami.


Saat pergantian kasir, aku masuk ke ruang accounting bersama teman-teman yang lain untuk menyerahkan hasil jualanku. Disaat yang sama, satpam datang dan mencariku.


"Ada apa pak Sam?" tanyaku pada satpam itu.


"Putri, ada yang cari kamu diluar."


"Siapa?" tanyaku penasaran. Aku yakin, orang yang mencariku bukanlah keluargaku, karena tidak ada suara telpon atau sms dari handphoneku.


"Entahlah! Ibu-ibu pokoknya," sahut satpam itu cepat.


"Nanti aku akan cari bapak, kalau sudah selesai."


Sebenarnya aku sangat penasaran dengan orang yang mencariku di depan, tetapi aku sungguh tak berdaya. Tuntutan pekerjaan memintaku untuk mengesampingkan urusan pribadi.


...***...

__ADS_1


Setelah menyerahkan hasil jualan dan check out, barulah aku mencari pak Sam di posnya. Satpam yang tadi mencariku.


Saat aku menghampirinya, aku lihat pak Sam sedang berbincang dengan ibu yang mencariku dengan menggunakan bahasa Inggris.


Aku langsung memandangi ibu yang mencariku dari atas hingga ujung kaki. Penampilan dan pakaian yang ibu Raj pakai sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku semalam.


Secara reflek, aku melangkah mundur satu langkah kebelakang sambil memegang pipiku. Sedangkan ibu Raj terus melangkah maju menghampiriku.


"Ada apa anda mencariku?" tanyaku dalam bahasa asing. Aku berusaha untuk menjaga jarak dari ibu Raj, karena aku tidak mau ia menamparku seperti di dalam mimpi.


"Apa kamu Putri?" tanya ibu Raj balik.


"Iya, ada apa?"


Ibu Raj langsung menangis dihadapanku. Air matanya pecah bagaikan air terjun . Aku yang saat itu takut padanya menjadi iba, dan mulai mendekatinya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku khawatir.


Ibu Raj bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah menangis di pundakku. Aku yang kala itu binggung, hanya bisa menepuk lembut pundaknya.


Setelah beberapa menit, dan ibu Raj tampak sedikit tenang. Aku pun mulai menanyakan kedatangannya mencariku.


Ibu Raj memangdang wajahku dengan inten dan berkata. "Raj mengalami kecelakaan! Sekarang kondisinya kritis. Dalam bawah sadarnya, ia terus saja menyebut namamu, Putri."


Aku tak pernah membayangkan sedikitpun, kalau Raj akan mengalami kecelakaan, apalagi sampai menyebut-nyebut namaku. Bukankah semalam ia memintaku untuk pergi meninggalkannya.


"Madam, kamu tunggu disini, ya! Kebetulan aku sudah pulang kerja. Aku ambil motor dulu, nanti kita pergi sama-sama, ya!"


Ibu Raj hanya menggelengkan kepalanya dari atas ke bawah berkali-kali. Mungkin artinya "Iya", saat itu pikiranku sedang kalut memikirkan kondisi Raj dan tidak menghiraukan maksudnya. Aku langsung berlari menuju tempat parkir.


Setiba di rumah sakit, ibu Raj langsung mengajakku ke ruang ICU. Jantungku sempat tak berdetak saat melihat kondisi Raj yang lemah. Tubuhku terasa lemas saat mendekatinya.


Sedangkan ayah Raj tampak memberikanku izin untuk mendekati putranya dan merangkut istrinya yang datang bersamaku.


Aku berbisik di telinga Raj. "Raj bangunlah, nanti aku akan menuruti semua yang kamu mau."


Raj tampak merespon perkataanku, bunyi detak jantungnya tak beraturan dan membuat kami bertiga ketakutan.

__ADS_1


Dokter dan perawat langsung menghampiri kami dan memeriksa kondisi Raj. Ayah Raj langsung mengajakku keluar ruangan itu dengan paksa. Tapi aku malah menjerit sambil menangis. "Raj jangan pergi!"


Bersambung....


__ADS_2