
Setelah putus dengan Raj, tak begitu banyak yang berubah dari hidupku. Aku tetap melakukan kerja seperti biasanya. Hanya saja saat aku melihat pasangan yang sedang kasmaran di sekitar swalayan, dadaku terasa sesak. Mengapa mereka dapat bahagia, sedangkan aku tidak.
Sebenarnya apa salahku, hingga mereka tega mempermainkanku seperti ini. Apakah cinta itu benar-benar tidak pernah ada untukku.
Sakit! Itulah yang sedang aku rasakan saat ini. Aku butuh pertolongan, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa, dan harus bagaimana?
Sepulang kerja, kak Fajar telah menungguku di pintu gerbang karyawan. Kata teman satpam yang ada disana, kak Fajar telah menungguku cukup lama di depan gerbang.
"Hai Putri." Kak Fajar langsung berdiri tegap dan tersenyum kepadaku.
"Untuk apa kak Fajar menunggu disana?" tanyaku.
"Kakak antar pulang, ya! jawabnya cepat.
"Maaf kak, aku bawa motor sendiri, kok!"
Terlihat jelas raut wajah kak Fajar tampak kecewa kepadaku. Aku tidak mungkin memberikan harapan palsu kepada kak Fajar, seperti yang Raj pernah lakukan kepadaku.
Aku langsung berbalik badan, dan melesat menuju parkiran motor. Aku menggunakan helm kesayangnku dan menghidupkan mesin skuterku.
Saat melewati pintu gerbang swalayan, aku dapat melihat kak Fajar sedang menghampiri motornya lewat kaca spionku. Kala itu, aku merasa tenang. Kak Fajar mengerti akan maksudku menolaknya tadi.
Saat aku hampir tiba di rumah. Aku baru sadar, kalau dari tadi kak Fajar telah mengikutiku pulang ke rumah.
Yaaa! Aku merasa tidak enak sama kak Fajar dong! Aku langsung menghentikan motorku di depan rumah dan menghampiri kak Fajar dengan masih menggunakan helm Fogo kesayanganku.
"Apa yang kakak lakukan disini?" tanyaku polos.
"Mengantar kamu pulang, Put."
"Ken! Aku pakai motor...."
"Menjaga kamu adalah tanggung jawab kakak, Putri!"
"Ahhhh! Ndak usah, kak. Sebelumnya juga aku sendirian, kok!"
Lagi-lagi kulihat wajah kekecewaan kak Fajar terpancar jelas di mataku. Aku sadar, sikapku sangat kasar kepadanya. Tapi apa boleh buat, hatiku masih belum siap menerimanya.
......*****......
Keesokan harinya, saat aku sedang istirahat, seorang Grap datang menemuiku sambil membawa paket makan siang.
"Permisi mbak! Apa anda yang bernama Putri Mahoni? tanya Grab itu kepadaku.
__ADS_1
"Iya, saya!" Kala itu aku masih binggung, kok tiba-tiba abang Grab datang mencariku, padahal aku tidak pernah memesan apapun disana.
"Maaf, Pak! Aku merasa tidak pernah pesan apapun, kok!" jawabku bingung.
"Tenang mbak, barangnya sudah di bayaar, kok! Lagian saya hanya mengantarkan saja."
"Mungkin bapak salah orang kali?" jawabku cepat.
Bapak Grab itu langsung menyodorkan catatan yang ada handphonenya kepadaku.
"Ada seorang pria yang bernama Fajar Sayang, memesan paket makan siang yang ditujukan untuk mbak Putri Mahoni di alamat xxxx," bapak Grap itu membaca.
Tidak tanggung-tanggung bapak Grab itu langsung menyodorkan paket makan siang yang dibungkus plastok putih bening kepadaku.
Yah! Terpaksa aku harus terima dong. Pikir-pikir dapat menghemat uang jajanku hari ini.
Setelah menerima paket makan siang itu, aku langsung mengirimi kak Fajar ucapan terima kasih padanya.
Disaat yang sama, Nana datang mengajakku untuk makan siang bareng.
"Ciye...! Yang dapat bekal cinta! Ehem Ehem...." Nana menggodaku sambil batuk lebay.
"Apaan sih! Cuma makan siang biasa, kok."
"Hubunganku ndak seperti yang kamu bayangkan," jawabku ketus.
Tampaknya Nana tidak ingin memperpanjang perdebatan kami dan langsung menarik tanganku. "Iya iya! Ayo kita pergi makan."
Di tempatku bekerja, kami beristirahat makan bergilir. Untung saja teman kerjaku pengertian semua. Jadi saat bekalnya datang, mereka langsung memberikanku prioritas istirahat duluan.
Ketika pulang kerja, kak Fajar selalu mengantarku pulang ke rumah. Padahal dia tahu kalau aku pulang pergi pakai motor.
Yang aku herankan dari kak Fajar, dia itu tahu betul jadwal kerjaku. Padahal aku tidak pernah bilang apa-apa sama dia.
...*****...
Tak terasa waktu telah bergulir begitu cepat. Sudah satu minggu kak Fajar memberikanku bekal makan gratis lewat bapak Grap dan juga mengantarku pulang.
Aku merasa sungkan sama kak Fajar. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimi kak Fajar pesan yang cukup kejam kedanya.
"Terima kasih atas semua bekal makan yang kakak titipkan kepadaku dan mengantarku pulang kerja selama seminggu ini. Tapi tolong kak! Mulai besok semua itu dihentikan, atau aku akan membunag semua pemberian kakak dan melaporkan semua itu ke Polisi karena telah meguntitku selama ini."
Kak Fajar langsung membalas pesanku. "Kenapa dik Putri marah?"
__ADS_1
"Aku merasa tidak nyaman, kak! Aku bukanlah siapa-siapa kakak, yang mendapat perhatian penuh dari kak Fajar."
"Kalau begitu, kamu jadi istri kakak saja, dan ibu dari semua anak-anak kakak."
Aku syok melihat pesan dari kak Fajar, dan memilih untuk tidak membalas pesan kaka Fajar. Takutnya nanti saat aku menyuruhnya untuk pergi dariku, ia malah semakin semangat untuk mendekatiku.
Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kak Fajar. Baru dikasi hati dikit, sudah langsung mau ngajak nikah. Kena mentallah aku! Aku belum bisa menerima hal sebesar itu dalam hidupku.
...*****...
Malam harinya, Angga datang ke rumah bersama bibi Rita. Kedatangan bibi kali ini untuk membicarakan cucu pertamanya. Maklumlah, sekarang bibi Rita baru jadi nenek rempong. Sedangkan Angga sebenarnya mencariku untuk urusan yang berbeda.
Aku dan Angga berbicara di taman belakang rumah, sedangkan bibi Rita bersama ibu di ruang tamu.
"Fajar sudah cerita kepadaku, Putri! Bagaimana menurutmu?"
Angga langsung to do the poin saja menanyakan tentang kak Fajar, yang dimana aku sendiri tidak tahu jawabannya.
"Kamu harus move on, Putri! Jangan biarkan ia bahagia melihatmu menderita seperti ini."
Apa yang dikatakan Angga memang benar, tapi hatiku belum bisa menerima kak Fajar sebagai pengganti Raj.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana, Nga?" kataku lirih.
Angga menepuk pundakku. "Mulailah dengan Fajar! Buka hatimu untuknya."
Bicara memang gampang, tapi hatiku yang menjerit.
"Apa tidak terlalu cepat, ya?" jawabku ragu-ragu.
"Justru lebih cepat lebih baik! Dia akan sadar betapa berharganya dirimu." rayu Angga.
Aku bingung dengan dilema hatiku sendiri. Raj masih bertahta disana, sedangkan aku harus mencoba melupakan Raj dengan berpacaran dengan kak Fajar. Sungguh bejatnya aku!
"Putri, kamu sedang memikirkan apa?"
"Aku tidak ingin menyakiti hati kak Fajar, Nga...."
Angga tersenyum tipis kepadaku, ia juga membelai lembut rambutku yang terikat.
"Biarkan cinta dan waktu yang bekerja, ya!" sahut Angga.
Kala itu, aku langsung mengagukkan kepala. Menganggap semuanya berjalan sesuai dengan keinginan Angga. Sebenarnya, aku lagi malas mendengar nasehat Angga yang terlalu puitis hanya karena aku baru putus cinta.
__ADS_1
Bersambung.......