
Jantungku berdetak kencang saat memasuki kantor. Aku lihat dari dinding kaca kantor, ibu Komala sedang duduk di samping pak Diduk, personalia kami. Ibu Komala tampak sibuk melihat sebuah berkas yang dipegangnya.
Ibu Komala terkenal tegas dan galak. Kalau ia tidak suka akan sesuatu yang kami kerjakan, ia tak segan-segan memarahi kami di depan custemer, bahkan ada yang sampai di pecat. Tak heran, semua teman-teman kerjaku takut berhadapan dengan beliau.
Kulihat wajah Nana memucat saat tiba di depan pintu kantor. Aku memegang tangan Nana yang terasa dingin. "Kamu tunggu disini, ya!"
"Tidak, kita akan pergi bersama," jawabnya tegas.
Nana sedang gugup saat ini, tapi ia tetap bersikeras untuk menemaniku menemui ibu Komala. Bahkan Nana yang mengetok pintu kaca kantor untukku.
Tok tok tok...
Kami langsung masuk ke dalam ruangan setelah mengetok pintu tiga kali, walaupun tidak ada sahutan dari dalam.
"Permisi, bu!" Kataku.
"Ada apa?" tanya ibu Komala dingin. Ia tak menghiraukanku datang dan tampak serius dengan berkas yang sedang ia periksa.
Aku menghela nafas panjang sebelum meneruskan pembicaraanku dengan ibu Komala.
"Aku kesini mau menjelaskan hubunganku dengan kak Fajar!" jawabku serius.
Seketika, ibu Komala langsung menaruh berkas yang sedang ia periksa, dan menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan yang sama dengan teman-temanku yang lain. Seolah-olah aku ini adalah orang yang aneh.
"Ini adalah kantor! Kalau mau berbicara mengenai masalah pribadi, lebih baik di luar kantor dan bukan disini," jawab ibu Komala tegas.
"Maaf, bu!" kataku lirih.
Aku tahu, disaat ini memang tidak tepat membicarakan kak Fajar, tetapi hatiku tak tenang kalau ibu Komala sampai terpengaruh akan gosip diluar sana. Padahal kenyataannya tidak seperti yang mereka gosipkan.
"Putri, Nana, kebetulan kalian kesini," sahut pak Diduk yang menyela pembicaraan kami.
"Ada apa, pak Diduk?" tanyaku penasaran.
"Cuma kalian berdua saja yang belum memberikan no. rekening dari Bank XX."
__ADS_1
"Maaf pak Diduk, kami lupa!" jawab Nana cepat.
"Kalau begitu, jangan salahkan kami kalau lupa mentrasfer gaji kalian," celetuk ibu Komala.
"Jangan, bu!" jawabku dan Nana bersamaan.
"Kalau begitu, kalian urus sekarang juga! Hari ini, kuijinkan kalian masuk setengah hari."
Aku dan Nana merasa lega, akan keputusan ibu Komala yang bijaksana. Kami merasa bersyukur telah diberikan waktu untuk mengurus nomor rekening hari ini. Sedangkan besok lusa, semua karyawan telah mendapat gaji mereka masing-masing lewat rekening bank yang telah ditentukan oleh perusahaan.
Saat aku hendak mau meninggalkan kantor, tiba-tiba ibu Komala menyampaikan sesuatu yang membuatku tenang. "Aku tahu sifat Fajar dengan jelas, dan yang ia lakukan selama ini kepadamu."
"Aku langsung membalikkan badan, dan mengucapkan "terimakasih" kepada ibu Komala. Hanya dengan satu kalimat saja yang keluar dari mulutnya membuatku mengerti bahwa aku tidak bersalah di matanya.
...***...
Aku dan Nana langsung pergi ke Bank XX dengan masih menggunakan seragam kerja. Kami memutuskan menggunakan motorku untuk ke bank, sedangkan motor Nana tetap berada di parkiran.
Setiba di sana, ternyata bank itu ramai dan menunggu antrian yang panjang untuk dapat dilayani. Sambil menunggu, aku main Magic Chess, sedangkan Nana melihat sosmed dan video lucu.
Saat giliranku tiba, aku langsung ke meja customer service yang ditunjuk. Awalnya aku tak memperdulikan sekelilingku, tetapi ketika aku melihat pegawai bank yang berada di hadapanku adalah Raj Kumar.
Dari sekian ribu orang, kenapa aku harus bertemu dengan dia? Orang yang selama ini aku ingin hapus, kini berada tepat dihadapanku. Saat ini, Raj telah fasih berbahasa Indonesia.
"Ada yang bisa saya bantu, bu?" sahut Raj kepadaku.
Seketika, air mataku menetes dihadapannya. Hubungan yang kami bina selama lima tahun selama ini, seolah-olah tak pernah terjadi sama sekali.
Nana datang membantuku untuk berbicara pada Raj mengenai prihal membuka rekening baru di tempat Raj bekerja. Sedangkan aku hanya diam membisu sambil menatap Raj yang sedang sibuk bekerja.
Nana melihatku menangis tanpa suara di hadapan Raj. Ia pun mengisi formulir untukku. Sedangkan aku hanya menandatangani berkas itu.
"Harusnya kamu menangis di toilet tadi," gerutu Nana sambil mengisi formulir.
Aku tak menghiraukan kata-kata Nana saat itu. Tetapi setelah ia menyerahkan formulir itu ke Raj, Nana mulai menceramahiku. "kamu jangan fikirkan kak Fajar lagi, mungkin dia tidak cocok untukmu."
__ADS_1
Kala itu aku langsung emosi mendengarnya dan langsung mencubit perut Nana dengan keras.
"Aw! Ampun ampun...."
Aku melepaskan Nana, ketika Raj mulai melihat apa yang aku lakukan pada Nana. Setelah tiga bulan kami tidak berbicara, kini ia dapat melihatku dalam keadaan terpuruk seperti saat ini. Sungguh menyedihkan!
Aku terpuruk pada masa lalu, sedangkan ia tak pernah menganggapku ada. Ini sungguh tidak adil untukku.
"Apa sekalian melakukan mobile banking?" tanya Raj lagi.
"Iya!" sahut Nana cepat.
Tak lama kemudian, Raj meminta handphoneku untuk mengaktifkan M-bankingku. Saat itu, aku agak enggan untuk memberikan handponeku, tapi Nana langsung merebut handphoneku yang sedang aku pengang dan diserahkan pada Raj.
Aku hanya dapat menatap Raj, saat melihat reaksinya tentang background handphoneku adalah fotonya lima tahun yang lalu.
Raj tampak tenang, mengotak atik handphoneku. Ia benar-banar tak perduli kalau aku masih mengingatnya hingga detik ini.
Setelah semua urusan kami di Bank XX telah selesai, Nana mengajakku ke Taman Kota yang lokasinya tidak jauh dari sana.
Setiba di Taman Kota, Nana memintaku untuk duduk sejenak di taman sebelum kembali ke kantor.
"Sebenarnya, kamu kenapa, Put?" tanya Nana lembut.
Saat itu, aku mulai bercerita mengenai kisah cintaku tentang Raj Kumar kepada Nana. Air mataku pun mengiringi setiap kata yang menyakitkan keluar dari mulutku.
Nana memelukku dan terus menyemangatiku untuk tetap tabah. "Yakinlah! Dibalik semua cobaan yang kamu lalui, Tuhan ingin menjadikan kamu menjadi orang yang lebih baik dan kuat, Put!"
"Terima kasih, Na! Kamu memang sahabat terbaikku." Aku memeluk tubuh Nana yang kurus dan menumpahkan semua air mataku di bahunya.
Setelah beberapa menit, hati dan fikiranku mulai tenang kembali. Hatiku cukup lega setelah menceritakan beban hatiku. Nana pun tersenyum kepadaku saat melihatku mulai bersemangat kembali.
"Ayo, kita kembali ke kantor?" ajak Nana.
"Ayo!" jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
Saat itu aku baru sadar, bahwa kita mendapatkan cinta dari mana saja, bukan hanya datang dari pasangan tetapi dalam bentuk persahabatan yang aku jalin dengan Nana.
Bersambung...