
Di saat penting ini, aku memikirkan Raj. Aku ingin melihat Raj sebelum masuk kamar oprasi tapi dia sedang offline. Raj tahu hari ini aku akan menjalani oprasi usus buntu, tapi dia tidak menelponku untuk menyemangatiku.
Tiba-tiba suster datang bersama ibuku.
"Berikan handphonenya nanti ibu yang jaga!"
"Tapi bu!"
Aku tidak rela melepas handphoneku sebelum melihat Raj. Aku mencoba untuk menelpon dia tapi tetap tidak diangkat.
"Mari mbak putri, sudah waktunya ke ruang oprasi".
Perawat itu datang, memapahku ke kursi roda. Dengan terpaksa aku menyerahkan handphoneku pada ibu. Kini aku hanya bisa berpegangan dukungan dari keluarga saja dan bukan pacar.
Saat berada di ruang tunggu oprasi, aku benar-benar sendirian. Tidak satupun yang kukenal disana. dan tidak satupun keluargaku yang boleh masuk. Aku berbaring di tempat tidur bersama seorang wanita di sampingku. Kami berdua sama-sama saling menunggu untuk dioprasi.
Entah karena ruangannya yang berAC atau gugup membuatku ingin ke toilet. Awalnya aku ingin menahannya, tapi menunggu dokter sungguh melelahkan. Aku memberanikan diri meminta tolong pada perawat disana agar mengantarku ke toilet.
__ADS_1
Tak lama setelah aku kembali dari toilet, dua orang perawat datang dan mendorong tempat tidurku masuk ke ruang oprasi. Ruangan itu penuh dengan lampu besar. Disana sudah ada perawat dan dokter yang menungguku.
Mereka memintaku untuk meringkukkan tubuhku dan memberi obat bius pada tulang belakangku. Tak lama kemudian, tubuhku seperti mati rasa dan mereka mulai memasangkanku carteter padaku. Walaupun aku telah dibius, tapi aku dapat merasakan perutku seperti ditarik-tarik sebelum akhirnya aku pingsan.
...*****...
Saat aku mulai sadarkan diri, ternyata aku sudah berada di ruang tunggu oprasilagi. Kali ini, aku menggigil kedinginan. Ada yang bilang ini semua karena pengaruh obat bius yang masih tertinggal di tubuhku.
Perawat itu membawaku ke ruang inap biasa yang disambut hangat oleh kedua orangtuaku. di luar pintu oprasi. Setibaku di ruang inap, aku mengambil handphoneku. Kulihat tidak ada panggilan masuk atau pesan dari Raj. Aku kecewa paadanya. Disaat itu, terbesit di benakku "Apakah Raj peduli padaku?"
"Good!"
Setelah penantian lima belas jam dan tiga puluh menit berlalu, dia hanya memberikan satu kata. Kini aku benar-benar meragukan dia sebagai seorang pacar.
"Hanya itu?" tanyaku geram.
"Aku tahu kamu tidaka akan mati karena usus buntu, baby".
__ADS_1
"Dari tadi aku menunggu telpon dari kamu, honey".
"Maaf baby, aku banyak urusan tadi".
Aku tidak ingin bertengkar atau bicara pada Raj hanya karena masalah sepele seperti ini. Apalagi aku baru selesai oprasi, aku ingin menenangkan pikiranku walaupun aku kecewa pada Raj.
Satu jam setelah aku keluar dari meja oprasi, perawat datang membewakanku teh hangat yang manis. Aku senang, tapi aku tidak bisa menghabiskannya. Sejak saat itu, perawat datang silih berganti mengecek kondisi badanku pasca oprasi.
Empat jam setelah oprasi, aku memuntahkan semua yang aku makan, termasuk teh hangat itu. Ternyata pengaruh obat bius masih ada di dalam tubuhku.
"Kamu jangan takut untuk makannak, nanti pengaruh obat biusnya pasti hilang."
"Iya, bu".
Saat jam makan malam, aku tetap makan seperti biasa tanpa ada rasa takut untuk muntah lagi. Kedua orang tuaku bergilir menemaniku di ruang inap, karena ketetapan rumah sakit. Mereka menjaga infusku disaat aku tertidur lelap.
BERSAMBUNG...............
__ADS_1