
Dengan perjalan yang begitu panjang, akhirnya tiba juga di tanah air. Kami hanya di jemput oleh Angga dan ayah saja. Sedangkan ibu dan adikku Rico tidak ikut.
Aku memberi salam pada ayah kemudian memeluknya sebentar. Aku merindukan ayah yang selama ini menjadi panutanku. Pria pekerja keras dan setia pada ibu. Sosok pria yang aku harapkan hadir dalam kehidupan cintaku.
"Sepertinya kamu sangat menyukai perjalanan ini, nak!" Kata ayah.
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalaku di pelukannya. Aku melihat wajah paruh baya itu dengan tatapan lembut. "Seandainya ayah tahu apa yang telah terjadi di India, ayah tak akan mungkin berkata seperti itu", gunggamku dalam hati.
Kami memasukkan semua koper di bagasi mobil, bahkan ada beberapa barang yang kami harus pangku sendiri karena tidak muat di bagasi.
Paman Aska dududk di samping Angga yang sedang menyetir. Aku duduk di kursi tengah bersama bibi Rita dan Fanny, sedangkan ayah duduk di kursi paling belakang seorang diri.
Dalam perjalanan pulang, Angga sering menatapku lewat kaca spion, seolah - olah ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku mengerti akan tatapannya, hanya saja aku pura - pura saja tidak melihat dan malah menutup mataku sambil meraba dadaku yang masih terasa sakit akan Raj.
Kupaksakan untuk tidur, tapi aku tetap terjaga baik di pesawat ataupun di dalam mobil. Mungkin sebagian jiwaku masih menjerit atas pemblokiran nomor Raj, sesuatu yang tidak boleh aku lakukan. Kini nasi telah menjadi bubur, aku tidak bisa mengembalikan nomor Raj lagi.
Treattttttt
Suara gigi mobil berbunyi, ketika mesin mobil di hentikan. Aku membangunkan Fanny dan bibi Rita yang duduk di sampingku.
"Fanny, Bibi Rita ayo bangun! Sudah sampai rumah".
Fanny dan bibi Rita langsung bergegas turun, begitu juga denganku. Saat aku membuka pintu mobil, ternyata ibuku sedang berdiri di hadapanku. Aku langsung memberi salam pada ibu dan memeluknya sama hal yang pernah aku lakukan pada ayah di bandara.
Kami tiba sudah jam enam di rumah paman Aska. Walaupun ada bibi Iyem dan Mita. Ternyata ibu dan adikku datang untuk membantu mereka membuat makan malam untuk hari ini.
Walaupun adikku seorang laki - laki tapi ia suka membantu ibu di dapur, tidak seperti yang aku yang malas masak.
Aku masuk ke dalam rumah sambil menggeret koperku begitu pula dengan Fanny. Setiba di dalam, untuk sementara aku memasukkan koperku ke kamar Fanny. Kami saling membuka koper bersama dan mengambil oleh - oleh untuk semua orang.
Aku membagikan pakaian khas India kepada semua orang, sedangkan anting itu aku berikan pada ibuku. Ia melihat anting panjang itu dengan tatapan terkejut dan malah tersenyum padaku. Aku tahu bahwa anting itu bukanlah seleranya tapi ia tetap menghargai pemberianku.
"Terima kasih ya, nak! Ini cantik sekali".
Aku hanya dapat tersenyum pada ibuku. Kemudian lanjut membagikan oleh - oleh yang masih ada di tanganku pada yang lainnya. Orang terakhir yang aku serahkan hadiah adalah Angga.
Saat aku memberikan oleh - oleh pada Angga, ia menerima pakaian itu, tapi juga memegang tanganku dan menarikku ke taman belakang rumah.
__ADS_1
Aku tidak bisa berontak di depan keluarga yang lain. Aku yakin Angga sudah menahan waktu cukup lama untuk berbicara berdua saja denganku.
\*\*\*\*\*
Setiba di taman belakang, barulah Angga melepaskan tanganku. Di sana hanya ada kami saja.
"Terima kasih atas hadiahnya, putri!", kata Angga sambil melemparkan pakaian itu di atas berugak tempat biasa kami nongkrong. Terlihat Angga tampak sedang menahan amarahnya padaku.
"Apa kamu tidak suka akan hadiahnya?" Tanyaku sedih.
"Kamu tahu maksudku, put! Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Pembicaraan apa?"
Angga langsung mencekram kedua lenganku dengan kuat. Ekspresi wajahnya berubah merah padam.
"Kamu tahu kalau yang mengusulkan kamu ikut ke India adalah aku! Saat aku tahu kamu patah hati di sana sampai nyaris bunuh diri. Apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana resahnya hatiku di sini mengetahuinya!"
Angga mengguncang tubuhku dengan kuat sebelum melepaskannya.
Tanpa sadar air mataku mengalir deras di hadapan Angga dan duduk bersimpuh di atas rumput hijau yang ada di sana. Angga yang marah, langsung luluh seketika melihatku menangis.
Angga membelai lembut rambutku.
"Sakit, nga!" Kataku meringis.
"Maaf Putri kalau aku kasar sama kamu!"
"Aku kira hubunganku akan mulus dan berakhir bahagia sama seperti kamu".
Angga menjongkokkan badannya dan mengelus pundakku dengan lembut.
"Coba kamu ceritakan pelan - pelan sambil duduk di berugak", ajak Angga untuk bangun dari rumput hijau.
Angga memapahku berdiri dan duduk di berugak. Dengan sedih aku menceritakan semua yang terjadi di India dan juga tentang pemblokiran nomor hp.
"Syukurlah kamu sudah memblokir nomornya! Dia itu tidak pantas dengan kamu, putri".
__ADS_1
"Tapi aku ndak rela, nga"
"Nanti lama - lama kamu akan lupain dia".
"Aku cinta dia, nga! Susah bagiku untuk melupakannya !"
"Tapi dia tidak mencintai kamu, Putri!" Bentak Angga.
Aku menundukkan kepalaku dan diam seribu bahasa. Dalam hal ini aku tidak dapat melawan Angga dan semua yang ia katakan itu benar adanya.
"Dengarkan aku Putri! Kasus kamu denganku itu berbeda. Aku dan Mita itu saling mencintai dan mengerti akan kekurangan masing - masing. Sejak awal dia sudah PHP in kamu dan bodohnya kamu percaya dia begitu saja".
Semakin aku mendengar nasehat Angga, kepalaku terasa berat dan pusing. Aku meyeret tubuhku dengan berat menuju kamar Fanny.
Melihat sikapku yang tak memperdulikannya lagi, Angga marah dan memegang tanganku.
"amu mau ke mana Putri, aku belum selesai ngomong sama kamu!"
"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, nga!"
Aku melepas tangan Angga dan pergi meninggalkannya. Baru beberapa langkah aku berjalan, kepalaku berkunang - kunang dan pandanganku milai kabur.
Bukkkkkkk...
Tubuhku menghianatiku dan malah tumbang di hadapan Angga yang kala itu sedang mencemaskanku. Sekarang ia pasti lebih cerewet dari sebelumnya.
\*\*\*\*\*\*
Ketika kubuka mata, aku sudah berada di kamar Fanny. Ibu baru saja datang dari dapur membawakan aku segelas air. Sedangkan yang lainnya sedang berada di ruang tamu.
"Sudah berapa lama aku pingsan, bu?"
"Satu jam, nak! Tadi kamu sudah di periksa sama dokter. Sekarang kamu pasti merasa haus, ayo minum air dulu, setelah itu kita turun dan makan bersama dengan yang lainnya".
"Baik, bu!"
Aku mengambil air yang di bawa oleh ibu deengan sekali teguk. Aku hanya bisa meminum air itu setengah gelas saja, dan sisanya aku letakkan di atas meja yang ada di samping tempat tidur.
__ADS_1
Bersambung.......