
Jam dinding menunjukkan pukul 06.10 WITA. Aku terbagun dari tidurku, dan meraih ponselku. Hal pertama yang kulakukan ketika aku membuka kedua mataku adalah menelpon Angga. Untung saja Angga memiliki kebiasaan bagun pagi, dan yang terpenting, Angga tidak marah saat kutelpon sepagi ini.
Aku cerita padanya mengenai hubunganku dengan Raj secara singkat, dan yang aku rasakan padanya saat ini. Tanpa ragu, Angga memberikan aku saran yang melukai hatiku.
"Tinggalkan dia! Untuk apa kamu membuang- buang waktumu dengan pria seperti itu."
Bukannya dukungan yang aku dapatkan, malah semprotan di pagi buta. Aku kecewa! Kupikir ia akan jauh lebih mengerti keadaan, dan perasaanku. Ternyata bukan!
"Tapi Angga, aku belum tahu perasaannya padaku," kataku berapi-api.
"Hubungan kamu dengan dia dari awal sudah salah, jika kamu teruskan, yang terluka itu kamu, Put."
Kata- kata Angga memang pedas, bahkan lebih pedas dari cabai rawit. Aku tidak dapat pungkiri, bahwa apa yang dikatakan Angga itu memang benar, mengingat perbedaan kami yang begitu tajam.
"Baiklah, aku akan memblokir dia!" jawabku pasrah.
"Terima kasih atas sarannya Angga," imbuhku lagi.
Angga langsung menutup telponku tanpa basa-basi, mengingat rutinitas Angga di pagi hari yang padat.
Aku menaruh ponselku di lantai, dan menatap layar ponsel itu dari atas tempat tidur.
Aku merenungi apa yang telah kami lalui bersama Raj. Kenangan yang manis, namun sayangnya aku tidak bisa bersamanya lagi. Hal yang aku rasakan saat ini telah berubah menjadi cinta, dan tak dapat kembali sebagai teman. Sedangkan disaat yang sama, kata-kata Angga terus saja terngiang di kepalaku.
__ADS_1
Dengan berat hati, aku memblokir Raj dari whatsapp, tanpa harus menghapus nomor telponnya. Hanya dalam hitungan detik, hatiku langsung menjadi hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupku.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan yang namanya "Jatuh Cinta" namun harus kandas begitu saja disaat itu juga. Ironis.
\*\*\*
Di tempat kerja, aku menjadi sangat sensitive. Aku gampang marah dengan hal yang sepele. Bahkan saat jam istirahat, aku makan menyendiri. Aku menghindari Nana, dan temanku yang lain. Seolah-olah aku tenggelam dalam duniaku sendiri.
Teman baikku Nana, menghampiriku dan memberikanku sebuah coklat Silver Queen yang ukuran 175gr.
"Aku dengar, coklat dapat mengurangi setres, apalagi kalau tamu bulanan lagi dateng."
"Tapi Na, aku...."
Belum saja aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah memotongnya.
Nana menepuk pundakku dengan lembut, setelah memberikan coklatnya. Walaupun dugaan Nana salah, tapi aku menghargainya. Dia peduli padaku. Coklat pemberiannya kemudian kumasukkan dalam tas.
Melihat kepergian Nana dihadapanku, membuatku bersalah atas semua yang kulakukan pada teman-temanku. "Maafkan aku, Na!" kataku pelan.
...******...
Begitu aku tiba di depan pintu kamar, aku
__ADS_1
diam berdiri cukup lama meratapi pintu. Dulu kamarku adalah tempat yang paling nyaman bagiku, kini membuatku sesak.
Kuambil coklat pemberian Nana, dan menggigitnya sedikit demi sedikit sambil masuk ke dalam kamarku. Aku memang tidak lapar, tapi aku butuh pelampiasan. Aku harap coklat dapat mengurangi kadar stresku seperti yang di katakan Nana.
Makan malam hari ini adalah makanan kesukaanku yaitu udang asam manis. Sayangnya, aku tidak berselera makan sama sekali. Aku mengambil makanan lebih sedikit dari biasanya.
"Kok tumben sedikit sekali makannya, nak?" tanya Ibu terkejut.
Aku tersenyum pada Ibu, dan berkata "Tadi sore sempat nyemil coklat, jadi masih agak kenyang, hehehe!"
"Kakak pelit, ndak bagi-bagi! sahut Rico. Ia adalah adik laki-lakiku satu-satunya. Jarak usiaku dengannya pun cukup jauh. Tujuh tahun. Kini ia sudah SMA, hobbinya adalah makan, jadi badannya lebih bongsor dariku.
"Maaf ya!" jawabku.
Seusai makan, aku langsung masuk kamar. Tubuhku terasa berat, dan tak memiliki keinginan untuk membantu ibu membereskan meja makan. Aku rebahan di kamar sambil melihat langit-langit kamarku.
Belum sampai dua puluh empat jam semenjak aku memblokir Raj, tapi hatiku merasa gelisah terus. Dadaku terasa sesak, dan air mataku pun mulai berjatuhan. Air mata yang sudah kutahan sejak tadi pagi, kini sudah tidak dapat kubendung lagi.
Aku berusaha untuk mengalihkan yang kurasakan dengan bermain game online, malah teringat pada Raj. Kucoba untuk mendengarkan musik, wajah Raj terus membayangi.
Ada yang bilang padaku, semua masalah akan hilang dengan tidur. Aku pun mencoba berbagai macam cara, tetapi tetap tak bisa.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.25 WITA, mataku masih terjaga. Hatiku menjerit untuk Raj. Dengan penuh keberanian, aku mengambil handphoneku, dan membuka blokirnya.
__ADS_1
Seketika hatiku langsung damai, aku bagai burung camar yang terbang bebas di angkasa luas dengan bahagianya. Aku pun tidur dengan senyuman di wajahku. Sejak saat ini, aku bersumpah untuk tidak memblokir Raj lagi. Bahkan aku tidak akan perduli dengan omongan orang mengenai hubungan kami.
Bersambung.......