Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
VAKSIN I


__ADS_3

Tiga bulan setelah badai covid nineteen fase dua usai, dan India sudah tidak melakukan lock down lagi. Tiba-tiba Raj mengirimiku bukti bahwa ia telah di vaksin untuk pertama kalinya dengan jenis covavid.


Saat itu, aku benar- benar tidak mengerti dengan jenis vaksin yang beredar di Indonesia, apalagi di dunia. Karena aku memang tidak pernah mencari tahu mengenai vaksin.


"Yah!! Kamu duluan yang sudah di vaksin sedangkan aku belum".


"kenapa begitu?"


"Disini masih untuk manula dan kemungkinan aku tidak dapat di vaksin karena ada riwayat sesak nafas".


"Ohhh!!" jawab Raj dingin.


Di saat yang sama, aku teringat akan pernyataan salah satu youtober kalau vaksin di sana ada yang berbayar dan ada yang gratis.


"Vaksin yang kamu di kasih, berbayar atau gratis?" tanyaku penasaran.


"Yang gratis", jawab Raj cepat.


"Di negaraku, semua jenis vaksin gratis," kataku dengan bangga.


"Ohhh!!!"


Raj sepertinya tidak begitu memperdulikan yang terjadi padaku. Sepanjang percakapan dia hanya mendengarkanku dan tidak terlalu banyak komentar.


Tapi aku senang Raj telah mendapatkan vaksin, jadi kemungkinan meninggal karena covid nineteen cukup rendah. Setelah menutup video call Raj, tak lama kemudian Nana menelponku.


"Ada apa, na?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Put, besok kita akan di vaksin di rumah sakit. Personalia baru saja mengabariku dan berpesan untuk memberitahukanmu juga, put".


"Boleh ndak sih, kita ndak usah vaksin, na?"


"Sekarang itu, vaksin wajib hukumnya".


"Tapi aku ada sesak, na!!"


"Ndak papa kok, kemrin pamanku yang sakit jantung saja boleh vaksin", ujar Nana menjelaskan.


"Tapi aku takut, na".


"Sama put!!!"


Huaaaaa....


Kami saling menangis di telpon karena kami tidak bisa menghindar dari vaksin.


"Sama na, aku pengen ketemu Raj".


Huaaaaa...


Aku dan Nana menangis seperti anak kecil yang takut di suntik.


Kebetulan bibi Rita sedang berkunjung ke rumah dan mendengar tangisanku. Bibi Rita langsung ke kamarku dan aku terpaksa harus memutuskan telponku dengan Nana.


"Kenapa put, kok kamu menangis?" tanya bibi Rita khawatir.

__ADS_1


"Aku takut di vaksin bik, dengar-dengar ada yang meninggal setelahnya".


"Hush!!! Ngaco kamu put. Vaksinnya aman kok, bibi sama ibumu saja sudah di vaksin".


"Tapi!!!!"


Masalahnya aku takut sama jarum suntik, apalagi dengar kata vaksin pikiranku sudah traveling kemana-mana.


"Besok kamu vaksin sama Fanny ya, put".


"Ndak bisa, bik".


"Kok gitu?" tanya bibi Rita penasaran.


"Besok aku akan di vksin sama teman-teman kerjaku yang lain".


"Bagus itu! Berfikirlah positif, jangan tegang dan stres, maka semua penyakit akan menjauh dari badan kita".


"Baik, bik".


Semboyan itu sih sering kudengar, tapi untuk mengatasi rasa takut dan gelisah itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu perjuangan di dalamnya.


...*****...


Pada malam hari, aku tidak bisa memejamkan mataku sama sekali. Aku mencoba mengatasi rasa takutku dengan mencari tahu semua vaksin yang beredar di Indonesia.


Bahkan aku sengaja mencari ulasan mengenai vaksin dan reaksi yang di timbulkannya. Ternyata bukan saja bibi saja yang bilang kalau vaksin itu aman tetapi para youtober yang sudah melakukan vaksinasi.

__ADS_1


Setelah berkelut dengan diriku sendiri hingga jam satu dini hari. Akhirnya aku pasrah dan menerima vaksin dengan pikiran terbuka. Walaupun aku tidak tahu, vaksin apa yang akan mereka berikan padaku besok.


Bersambung.......


__ADS_2