Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
BINGUNG I


__ADS_3

Begitu ayah dan ibu pulang, mereka melihat rumah masih dalam keadaan gelap kecuali kamarku. Sedangkan pintu rumah tak terkunci. Saat mereka tiba, aku masih asyik bermain game di dalam kamar dan tak memperdulikan kedatangan mereka.


"Astaggaa, nak! Ayah fikir ada pencuri yang borgol rumah".


Ayah terkejut melihatku sedang asyik bermain game yang masih menggunakan seragam kerjaku.


Tenang ayah! Rumah aman, kok", jawabku santai.


"Bagaimana ayah bisa tenang! Melihat kelakuan kamu yang seperti anak-anak. Tahunya hanya main game saja, padahal usia kamu sudah cukup tinggi untuk berumah tangga", ketus ayah.


Tak lama kemudian, ibu datang menghampiri ayah yang sedang memarahiku.


"Sabar ayah! Ingat tensi kamu".


"Sabar-sabar! Ini semua karena kamu terlalu memanjakannya, bu".


Ayah langsung pergi meninggalkan kamarku dengan rasa kecewa, sedangkan ibu masuk ke kamar menghampiriku.


"Kenapa kamu begini, nak?"


Ibu duduk di ranjang sambil melihatku bermain game.


"Aku memang begini, bu".


"Salah kami dimana, nak? Kami berusaha untuk memberikan kamu kebebasan dan mendukung kamu. Tapi kamu malah menyalahgunakannya", kata ibu kecewa.


"Tidak ada yang salah dengan ayah atau permainannya".


"Lantas salahnya dimana?"


"Iyaaaaa! Tidak ada yang salah", jawabku lagi.


"Kamu itu egois seperti ayahmu, nak! Sebenarnya kamu tahu betul maksud ibu".

__ADS_1


Ibu tampak kecewa kepadaku dan pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Saat itu aku langsung berhenti bermain game, padahal lagi seru-serunya dan bergegas untuk mandi.


Jika aku keluar masih menggunakan baju kerja, pastinya mereka makin marah terhadapku. Aku mengerti akan kekecewaan mereka, tapi aku tak berdaya dalam mengendalikan jodohku.


Setelah selesai mandi, aku langsung menuju dapur. Siapa tahu ibu butuh bantuanku.


"Ayo duduk, nak! Makan malam sudah siap", kata ibu.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan, sedangkan semua makanan telah tertata rapi di meja. Sepertinya aku telat membantau ibu menyiapkan makan malam kali ini.


Semua makan dengan tenang, tak ada sedikitpun atau membahas keluarga paman Aska. Sebenarnya aku merasa tak nyaman makan dengan kedua orang tuaku. Tapi jika aku tidak makan di depan mereka, takutnya mereka akan tambah khawatir.


Seusai makan, aku ingin membantu ibu untuk mencuci piring kotor, tapi lagi-lagi ibu menghentikanku dan menyuruhku untuk kembali ke kamar.


Yaaaah! Mau berbuat baik, malah ditolak. Sudahlah!


Saat itu aku hanya dapat mengikuti kata ibu dan patuh kembali ke kamar. Aku tahu ibu masih marah kepadaku, mungkin ia pengap melihat wajahku.


Kata dokter tidak boleh baringan setelah makan, dapat mempengaruhi kerja lambung. Hanya handphone yang dapat menyelamatkan kejenuhanku saat ini.


Di dalam pesannya, Raj meminta maaf kepadaku, ia juga berjanji untuk menceritakan tentang diriku pada kedua orang tuanya, dan bahkan memintaku untuk membuka blokirnya serta memberikanku nomor handphonenya lagi.


Saat itu aku benar-benar masih marah dengan Raj, dan tak mengindahkan permintaannya. Luka hati yang selama ini aku coba sembuhkan malah terluka lagi.


Dengan sadis aku membalas pesannya " Bukankah kamu sudah dijodohkan dengan wanita yang cantik dan muda disana! Untuk apa kamu memilih aku yang tua dan miskin ini menjadi pendamping kamu. Enyahlah dari hidupku".


Saat itu Raj tidak online, jadi ia tidak dapat membalas pesanku dengan cepat seperti biasanya. Tanpa sadar air mataku berlinang lagi dan lagi untuk Raj.


Aku memeluk bantalku dengan erat dan berteriak di dalam dekapannya. Air mataku pun basah membanjiri bantal itu.


Setelah lelah menangis, aku berbaring di tempat tidurku, lemas terkulai. Malam ini aku ingin sendirian saja. Tak lama kemudian, ibu datang ke kamarku . Saat itu, mataku bengkak karena terlalu banyak menangis.


Aku membalikkan badanku ke arah tembok dan berpura-pura sudah tertidur.

__ADS_1


"Nak, kamu sudah tidur?" Kata ibu di depan pintu kamarku.


Aku langsung memejamkan kedua mataku sambil memeluk bantal kesayanganku.


"Maaf, nak Angga! Sepertinya Putri sudah tidur", kata ibu menjelaskan di depan pintu kamarku.


"Ndak pa-pa kok, bik! Ini salah Angga yang datang terlalu malam berkunjung. Lain kali Angga datang lagi", jawab Angga saat melihatku tidur.


"Anak itu kerjaannya main game sama tidur saja! Kalau kamu punya teman single, coba kamu kenalkan sama, Putri", sela ayah.


Iya, paman! Pasti", jawab Angga ramah.


"Hussh! Nanti didengar sama Putri, bisa gawat".


"Kalau begitu, Angga pamit dulu paman, bibi!"


"Kalau begitu, ayo bibi antar sampai depan rumah".


"Jadi merepotkan, bibi", kata Angga tersenyum.


Tak lama kemudian, semua orang telah meninggalkan kamarku, dan sudah tidak ada suara mereka. Jadi aku tidak perlu untuk pura-pura tidur lagi.


Aku membuka kedua mataku dan mengecek pintu kamarku telah ditutup atau belum oleh ibu. Setelah aku rasa aman, aku pun merebahkan kepalaku lagi di atas bantal.


Aku heran kenapa Angga datang tiba-tiba ke rumah? Kalau seandainya ada perlu kan tinggal telpon saja.


Aku mengambil handpohoneku dan berusaha untuk mengirimi Angga pesan, namun aku urungkan lagi niatku. Bukankah aku sedang tidur saat ia datang, fikirku.


Lagian ayah kali ini juga mulai keterlaluan deh. Masa mau menjadikan Angga makcomblang, sih. Sudah tidak zamannya lagi.


Seketika aku teringat akan Raj lagi. Aku buka pesanku yang ada di Facebook lagi, ternyata Raj telah membalasku. Kali ini Raj memintaku untuk menunggu dan percaya kepadanya.


Haruskah aku percaya padanya atau tidak setelah apa yang ia lakukan kepadaku. Aku putuskan untuk tidak membalas pesannya sama sekali dan memilih untuk mengabaikannya. Aku ingin Raj merasakan rasa putus asa yang pernah aku alami sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung


Aku membuka kedua mataku dan


__ADS_2