
Raj tinggal di sebuah rumah kos yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Aku menuju rumahnya sesuai alamat yang diberikan oleh Raj kepadaku.
Setiba di depan kosnya, aku langsung menelpon Raj. "Aku sudah sampai."
Tak lama kemudian, Raj keluar dengan motornya. Ia langsung menghampiriku. "Hai Putri! Kamu mau makan apa?" tanya Raj yang masih berada di atas motornya.
"Apa saja deh! Terserah kamu."
"Kalau gitu, kita pergi ke restaurant favoriteku saja," jawab Raj.
Kami menuju tempat yang biasa Raj makan, dan aku mengikutinya dari belakang dengan motorku. Dengan hubungan kami yang masih rincu, memang sebaiknya pergi menggunakan kendaraan sendiri-sendiri.
Hanya butuh waktu sepuluh menit saja dari tempat kos Raj untuk tiba ke tempat favorite Raj.
Setiba disana, aku benar-benar terkejut. Aku kira Raj akan mengajakku ke restaurant Padang, atau restaurant yang banyak menggunakan bumbu rempah, tetapi tidak.
Aku memang sering mengunjungi restaurant atau warteg yang ada di kotaku bersama Nana. Kali ini aku pergi ke restaurant bersama Raj yang tak pernah terbayangkan olehku atau masuk dalam daftar lis yang ingin kukunjungi.
Aku suka makan daging, tetapi kini aku malah masuk ke restaurant vegetarian bersama Raj. Aku merasa berada di tempat yang salah. Saat aku melihat Raj masuk ke restaurant, mau tidak mau aku harus masuk juga.
Raj langsung memilih tempat duduk di paling pojok, dekat dengan parkir motor kami. Aku duduk berhadapan dengan Raj di meja panjang yang biasa muat untuk enam orang.
"Oh iya! Kamu mau makan apa, Putri?" tanya Raj sambil menyodorkan daftar menu yang ada di atas meja.
Aku benar-benar tidak perduli dengan menu masakan yang ada, karena dari namanya saja sudah ketahuan kalau isinya sayuran semua.
Tanpa melihat isi menu, aku mendorong menu itu kembali ke hadapan Raj. "Kamu saja yang pesan. Aku tidak pernah makan disini. Kamu pesan yang menurutmu enak, deh!"
Raj tersenyum kepadaku, tetapi tangannya kananya ke atas, yang artinya Raj meminta pelayan restaurant itu untuk datang.
"Mau pesan apa mas Raj?" tanya pelayan itu lembut.
Pelayan restaurant itu tampak akrab dengan Raj, Apalagi, pelayan itu cantik, langsing, putih, dan usianya jauh lebih muda dariku.
"Pesen yang seperti biasa saja dua porsi," sahut Raj .
"Kalau minumnya?" tanya pelayan itu lagi.
"Kamu mau minum apa, Putri?" tanya Raj kepadaku.
"Seperti biasa yang kamu pesan disini," jawabku cepat. Setelah menulis semua pesanan kami, pelayan itu pun masuk ke dalam.
"Kamu sering makan disini Raj?" tanyakusambil melihat setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Iya, hampir setiap hari."
"Kamu vege?" tanyaku lagi.
"Iya, aku pernah cerita dulu."
Saat itu aku benar-benar lupa kalau Raj memang vegetarian. Perbedaan kami memang banyak, tetapi kami bisa sedekat ini dan mengerti satu sama lain, benar-benar suatu keajaiban.
"Sudah berapa lama kamu tinggal disini Raj?"
"Sudah hampir dua bulan," jawab Raj santai.
Aku dan Raj telah putus hubungan selama tiga bulan, sedangkan Raj sudah berada di Indonesia hampir dua bulan, dan selama itu Raj tidak pernah menghubungiku. Bagus!
"Kenapa kamu tidak pernah telpon aku Raj?"
"Bukankah kamu yang sudah memblokir nomorku," jawab Raj cepat.
"Ken kamu bisa DM aku lewat Instagram."
Raj tak menjawabku, ia malah tersenyum kepadaku yang tidak jelas.
"Apa kamu sudah menikah Raj?"
"Apaan sih? Aku tanya baik-baik malah ketawa!" kataku geram sambil mencubit engan Raj.
"Iya belum!" jawab Raj.
"Mana yang benar?" tanyaku kepo.
Raj tersenyum saat melihatku yang sedang serius. Ia tampak menikmati ekspresi kesalku.
Kalau iya kenapa? Kalau belum kenapa?" tanya Raj balik. Dia benar-benar pintar membuatku emosi saja.
"Iya, tidak pa-pa sih! Kalau sudah, baguslah! Aku bisa balas dendam hancurin kamu. Tapi, kalau belum, lebih bagus lagi. Aku bisa santet kamu!"
Haaa Haaa Haaa....
Raj malah menertawaiku lagi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Raj menganggap semuanya hanyalah sebuah lelucon saja? Aku cemberut menatap Raj yang tertawa lepas di hadapanku.
"Yang dilamar kemarin adalah adikku Soniya," jawab Raj sambil tertawa.
Aku semakin cemberut mendengarnya, selama ini air mataku sia-sia saja untuk Raj. Disaat yang sama, pelayan restauran yang tadi datang membawa makanan pesanan kami.
__ADS_1
Saat itu, aku menahan amarahku sampai pelayan itu pergi dari hadapan kami dan langsung mencubit lengan Raj lagi.
"Aww!" teriak Raj sambil menarik tangannya dariku.
"Lebih baik kita makan, yuk!" kata Raj yang tak menghiraukanku.
"Kenapa kamu membiarkanku salah paham selama ini, Raj?" kataku kesal.
"Maaf, Putri! Saat itu, aku sempat berfikir kalau suatu hari nanti aku juga akan dijodohkan oleh orang tuaku dan menurutku lebih baik kita berpisah sekarang," jawab Raj serius. Tanpa sadar, Raj telah menegaskanku untuk menjauh darinya.
"Bukankah kamu saat ini telah move on dengan Fajar," kata Raj lagi.
"Aku dan kak Fajar, tidak ada hubungan apa-apa kok," jawabku cepat.
Aku tak menyangka kalau selama ini Raj tahu tempat kerjaku dan bahkan mengetahui tentang kak Fajar. Bahkan Raj tidak merespon yang aku katakan padanya.
"Dengar Raj, kak Fajar akan menikah dengan ibu Komala bulan depan," kataku lagi.
Lagi-lagi Raj tampak tak perduli dengan yang aku katakan padanya mengenai kak Fajar. Apakah ia marah padaku karena hal itu.
"Katakan sesuatu, Raj?" kataku khawatir.
"Sudahlah Putri! Yang lalu biarlah berlalu," jawab Raj santai.
Aku tidak terima dengan jawaban singkat Raj saat itu. Seolah-olah ia telah merelakanku pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
"Ayo makan!" ajak Raj.
Saat itu, perutku sudah tak merasakan rasa lapar lagi. Aku sudah tidak berselera makan apapun yang ada di hadapanku. Aku sudah merasa kenyang saat melihat Raj sedang melahap makanannya.
"Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" tanya Raj saat melihat makanan yang ada di piringku masih penuh.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Saat itu, Raj langsung mengambil makanannya dan menyuapiku dengan sendok. "Ayo, buka mulutnya!"
Aku menangis di hadapan Raj tanpa suara. Seketika, Raj tampak bingung dan mengambilkanku tisu makan untuk mengelap air mataku.
"Jangan menangis!" kata Raj.
"Terima kasih atas makan malamnya, Raj."
Aku langsung pergi meninggalkan Raj sendiri dengan terburu-buru. Aku bahkan tidak menoleh ke belakang.
Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping. Dada terasa sesak dan penuh. Begitu banyak hal yang terjadi datang bertubi-tubi. Saat itu, aku tidak ingin pulang ke rumah untuk sementara. Aku mencoba untuk menengkan pikiranku dengan berkelana menelusuri setiap jalan yang ada tanpa tujuan.
__ADS_1
Bersambung....