Mengerti Arti Cinta (LDR)

Mengerti Arti Cinta (LDR)
CHECK OUT


__ADS_3

Bangun tidur tubuh terasa tak bertenaga dan kurang tidur, tapi mau tidak mau aku harus bergegas untuk bangun dan mempersiapkan barang - barang yang akan dibawa pulang ke Indonesia. Hari ini kami akan check out dari hotel dan langsung menuju bandara. Kami bangun jam tujuh pagi waktu setempat.


Pagi itu benar - benar sibuk banget. Belum lagi bibi Rita yang emang dasarnya cerewet, memperkeruh suasana. Sudah inilah! Sudah itulah! Buat kepalaku pusing.


Saat sarapan, sempat - sempatnya aku mengirimi Raj pesan, bilang kalau hari ini aku bakal balik ke Indonesia. Setelah apa yang ia lakukan kepadaku selama ini, hati kecilku masih mengharapkannya.


Sungguh bodoh!! Kalau sudah cinta, emang sulit untuk melepaskannya. Raj mana mungkin punya nyali untuk menemuiku. Memperjuangkan cinta kami saja ia tak mampu.


Dengan berat hati, aku langsung menghapus semua pesan dan nomor kontak Raj di handphoneku. Bahkan aku tega memblokir nomornya. Kali ini aku tidak akan memberikan Raj ampun lagi. Kuseka air mataku dan kupaksakan tersenyum sambil membawa koper ke lobby.


Fanny mengikutiku dari belakang dan masuk lift bersama. Kami melihat paman Aska dan bibi Rita duduk di lobby menunggu kami.


Paman Aska sepertinya sedang berbicara sesuatu di telpon yang di bantu oleh guide kami. Sepertinya masalah kecelakaan ibu Raj belum selesai.


Mereka menggunakan speaker saat berbicara, sehingga kami dapat mendengar pembicaraan mereka. Pada dasarnya ini semua adalah murni kecelakaan dan paman Aska telah memenuhi kewajibannya untuk menolong ibu itu. Kini kondisi ibu itu telah membaik, dan sudah tidak ada beban lagi untuk kembali ke Indonesia.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, kami masuk ke dalam mini bus yang telah dipersiapkan untuk mengantar kami ke bandara. Sepanjang perjalanan menuju bandara, aku memandangi kota Delhi untuk terakhir kalinya lewat kaca mobil.


Setiba di bandara, sopir dan guide membantu kami menurunkan semua koper bawaan kami. Paman Aska tampak bersalaman dengan guide dan sopirnya sambil mengucapkan terima kasih atas yang mereka lakukan selama ini.


Kami pun mengucapkan hal yang sama kepada mereka tetapi tidak bersalaman. Kami berpisah dengan mereka di bandara.


Kami masuk ke dalam bandara dan check in bersama, sambil menunggu pesawat yang kami tumpangi datang.


Kami duduk di kursi tunggu bersama. Fanny langsung main handphonenya, sedangkan aku termenung melihat orang - orang yang lalu lalang di bandara.


Bibi Rita duduk di sampingku dan mengelus pundakku dengan lembut.


"Yang harus pergi, memang harus pergi, bik!!"


"Bibi yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu dengan orang yang mencintai dan menghargai kamu. Ingatlah, jodoh itu tak akan kemana, nak!!"

__ADS_1


Tanpa sadar, aku meneteskan air mata dan memeluk bibi Rita.


"Lepaskan semuanya, nak!! Lepaskan!" Kata bibi Rita sambil mengelus pundakku dengan lembut.


Fanny yang kala itu sedang main hp, ikut meraba pundakku dengan iba, saat melihatku menangis.


Aku langsung tersadar dan mendorong tubuhku . Menatap wajah bibi Rita yang sedang menangis untukku.


"Tolong jangan beritahukan semua kejadian ini pada ayah dan ibu di rumah, bik!" Pintaku.


"Kamu tenang saja, putri!! Kita tak akan membuat mereka khawatir".


"Terima kasih bibi Rita!!" Bisikku sambil memeluk bibi Rita lagi.


"Ini sudah sepantasnya, put! Kita adalah keluarga, harus saling menguatkan satu sama lain".

__ADS_1


Tak lama kemudian, panggilan dari pesawat yang kami tunggu akhirnya tiba juga. Kami pun bergegas untuk masuk pesawat.


Bersambung..........


__ADS_2