
Di dalam kepalaku selalu ada uang saja. Aku berusaha untuk menambah pundi-pundi uangku demi bertemu dengan Raj. Hingga aku tidak sadar telah melukai diriku sendiri. Sepulang kerja, tiba-tiba perutku terasa sakit yang tak tertahankan. Hingga aku putuskan untuk datang berobat ke dokter keluarga.
Malam itu, pasien yang mengantri banyak sekali. Sedangkan perutku semakin sakit saja. Aku ditemani ayahku menunggu giliran di ruang tunggu. Saat rasa sakit ini menyiksaku akhirnya giliranku pun tiba.
"Putri!!!"
Panggil petugas itu, dan menyodorkan kartu catatan kesehatanku yang nantinya kuberikan pada dokter di dalam.
"Keluhannya apa?"
"Dokter, perut aku yang sebelah kanan sakit dari jam empat sore tadi hingga sekarang".
"Coba baringan dulu!" perintah dokter.
Dokter itu langsung memeriksa perutku yang sakit dan meresepkan obat padaku.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?"
__ADS_1
"Anak bapak terkena usus buntu, dan harus segera di oprasi".
"Apa??? Tapi dok, aku jarang makan yang pedas-pedas".
"Banyak faktor yang menyebabkan usus buntu, bukan karena faktor makanan pedas saja. Kalau sakitnya terus berlanjut setelah minum obat ini, langsung ke UGD saja. Alangkah bagusnya kalau melakukan scan pada lab secara mandiri agar ketahuan posisi usus yang sakit".
"Baik dok".
Aku tidak terlalu memperdulikan kata dokter tadi karena rasa sakit di perutku ini mengganguku.
Setibaku di rumah, aku langsung makan malam dan meminum obat yang diberikan oleh dokter padaku. Seperti yang sudah di prediksi dokter, ternyata sakit perutku tidak juga reda setelah minum obat.
Keesokan harinya, aku melakukan scan di lab dan ternyata aku memang mengidap penyakit usus buntu dan posisinya berada di bagian tengah, sehingga tidak terasa sakit ketika berjalan.
Aku langsung di rujuk ke specialais dokter bedah. Di sana dokternya langsung menetapkan tanggal operasi serta memberikan serangkaian test darah sebelum operasi. Aku terkejut dan tak dapat berkata apa-apa akan keputusan dokter.
Dalam kasusku, pemikiran seorang pasien tidaklah penting. Siap tidak siap harus siap menghadapi dinginnya meja operasi. Di sisi lain aku pasrahkan semuanya pada Tuhan. Tetapi disisi lain, aku agak takut memikirkan ada orang yang akan membelah perutku.
__ADS_1
Dalam keadaan yang labil, aku memberitahukan kondisiku pada Raj dan dia juga berusaha mennghiburku.
"Jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja".
"Tapi aku takut!"
"Kamu adalah orang yang baik, dan Tuhan akan selalu melindungi orang yang baik".
Kedewasaan Raj, membuatku terpesona dan merasa tenang dalam menghadapi setiap masalah. Hari demi hari aku berserah pada Tuhan dan menjalani semua test yang diberikan pada dokter padaku. Tak terasa waktu operasi pun tiba esok hari.
Dalam masa pademi, pasien datang ketika akan menjalani operasi. Pagi-pagi aku sudah di antar ke rumah sakit oleh kedua orang tuaku. Mereka menemaniku di saat masa terpurukku dan memastikan bahwa aku mendapatkan yang terbaik nantinya.
Setelah ayah melakukan prosedur administrasi, seorang suster memberikanku pakaian operasi yang harus kukenakan.
Aku tidak boleh menggunakan asesoris atau pakaian dalam lainnya selain pakaian operasi itu. Tak lama kemudian, suster itu memasang infus padaku serta harus melakukan test alergi obat.
Entah obat apa yang suster itu berikan hingga terasa sakit dan perih. Belum lagi aku harus menunggu reaksi obatnya dulu, membuatku tersiksa.
__ADS_1
BERSAMBUNG..........