
Hari ini aku datang bekerja seperti biasanya, hanya saja teman-teman kerjaku mulai kepo sama aku. Mulai dari satpam, personalia, dan bahkan sahabatku Nana. Mereka menanyakan hubunganku dengan kak Fajar. Sebenarnya tak ada yang salah dengan semua itu, ketertarikan kak Fajar kepadaku terlihat jelas di mata mereka.
Hanya saja mereka juga sok menjadi macombalang. Mereka mulai menjodoh-jodohkan aku dengan kak Fajar. Aku merasa risih digituin.
Hari demi hari kak Fajar rajin datang menemuiku disaat aku pulang kerja atau datang berkunjung ke rumah saat aku sedang libur. Padahal aku sudah berkali-kali mengusirnya dan tak perduli padanya.
Hingga suatu malam ibu datang ke kamarku.
"Nak, kamu sudah tidur?" tanya ibu di depan pintu kamarku.
"Belum, bu! Ada apa?"
Ibu masuk ke kamarku dan duduk di ranjangku sambil menatapku dengan hangat.
"Sepertinya nak Fajar, serius sama kamu, nak!" kata ibu membuka pembicaraan.
"Tapi aku tidak mencintainya, bu," bantahku.
"Kenapa, nak? Apa karena nak Fajar seorang duda beranak satu?"
Dari raut wajah ibu, terlihat jelas kekecewaannya kepadaku.
"Bukan begitu, bu! Hanya saja, aku sungguh tidak bisa mencintainya," kataku jujur.
Ibu tersenyum kepdaku sambil membelai rambutku yang lembut. "Cinta bisa datang kapan saja dan dengan siapa saja, nak! Asal, kamu mau membuka hatimu padanya."
Selain Angga yang mendukung kak Fajar, kini ibu juga mulai ikut-ikutan mencomblangiku dengan kak Fajar. Aku heran, kenapa semua orang ingin aku bersama orang yang tak pernah aku cintai.
Walaupun ibu tidak tahu akan kisah cintaku dengan Raj, tapi tak seharusnya ibu ikut campur dalam masalah pernikahanku. Orang yang sangat dekat denganku dan orang yang selalu aku hargai selama ini, mulai mengkhawatirkan pernikahanku.
Aku hanya bisa diam seribu bahasa mendengar semua nasehat ibu yang panjang lebar selama dua jam di telingaku mengenai cinta dan pernikahan.
Aku mengerti akan kegelisahan ibuku karena usiaku yang sudah menginjak tiga puluh. Tapi aku tidak mau menikah dengan pria yang asal-asalan saja.
Setelah ibu keluar dari kamarku, aku langsung merebahkan badanku di tempat tidur, merenungi yang dikatan ibu padaku.
......****......
__ADS_1
Di tempat kerja, semua teman-temanku tak ada lagi yang meledekiku dengan kak Fajar lagi. Begitu pun bekal makan yang selalu dibawa oleh bapak Grab pun tak datang.
Seolah-olah kak Fajar telah meyerah akan keras kepalaku yang selalu mendorongnya untuk menjauh dariku. Aku pun bekerja dengan tenang.
Saat pulang kerja, aku kira kedamaian itu akan berlangsung lama. Ternyata kak Fajar langsung menembakku dengan seikat bunga mawar merah yang di depan gerbang tempat kerjaku. Tempat biasa kak Fajar menungguku setiap hari.
Lamaran itu langsung disaksikan oleh banyak orang, termasuk teman kerjaku.
Kak Fajar menekuk lututnya satu di tanah sambil menyodorkan seikat bunga mawar merah yang dibawanya.
"Putri, mungkin ini terlalu cepat buat kamu! Tapi hati kakak tidak tenang sebelum kamu mau menjadi kekasih kakak."
Aku hanya menatap semua orang yang ada di sekelilingku. Aku merasa malu dan juga bimbang untuk menjawab lamaran kak Fajar.
Sedangkan semua rekan kerjaku yang menyaksikan kejadian itu tampak antusias. Bahkan mereka meyerukan Te-ri-ma! Te-ri-ma! Berulang kali.
Aku tak ingin kak Fajar terluka ataupun malu. Aku mencoba melakukan negosiasi dengannya. Saat itu, aku duduk bersimpuh di depan kak Fajar dan berbisik di telinganya. "Kak, berikan aku waktu seminggu untuk menjawabnya!"
"Kak Fajar akan menunggu jawaban kamu, asalkan kamu mau menerima bunga ini, Putri!" bisik balik kak Fajar.
Saat itu aku langsung menganggukan kepala dan menerima bunga itu begitu saja. Di saat yang sama, teman-teman kerjaku langsung berteriak histeris dan mengucapkan selamat kepadaku. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Sedangkan aku hanya bisa diam meliahat akting kak Fajar yang begitu profesional di hadapanku. Kok aku merasa terjebak dalam keadaan ya! Padahal, ini semua bukan mauku.
Dengan cepat aku melangkahkan kakiku menuju motor dan melesat begitu saja tanpa memperdulikan siapapun. Melihatku pergi tanpa kata, kak Fajar pun buru-buru mengejarku dengan motornya menembus gelapnya malam.
Setibanya di depan rumahku. aku turun dari motor dan menghadang kak Fajar untuk membicarakan apa yang telah terjadi.
Belum saja aku berbicara dengan kak Fajar, ibu tiba-tiba keluar dari rumah dan menyapa kami.
"Hari ini kamu kok pulangnya telat, nak? tanya ibu sambil berjalan menuju arahku.
"Eh, ada nak Fajar! Ayo masuk!"
Kala itu, aku hanya bisa memberikan isyarat mata agar kak Fajar cepat pergi dari sini dengan bersusah payah, tapi yang dilakukan kak Fajar malah sebaliknya.
"Ibu, kak Fajar tidak bisa mampir sekarang, lain kali saja, ya! Anaknya lagi butuh dia untuk nemenin tidur."
__ADS_1
Aku berusaha untuk mencegah kak Fajar masuk ke rumahku hari ini dan mengurangi kesalahpahaman.
"Benarkah itu, nak Fajar?" tanya balik ibu pada kak Fajar.
"Tentu saja tidak, tante! Di rumah ada kakek, dan neneknya yang siap menemani Cindy tidur, kojk!" jawab kak Fajar antusias.
Aku sudah kehabisan daya untuk membuat kak Fajar pergi dari sini. Yang menjengkelkan lagi, kak Fajar tampak senang melihatku kesal sendiri.
Saat ibu hendak masuk ke dalam rumah bersama kak Fajar, ibu malah melihat buket bunga mawar tergantung di lengan motorku.
"Wah, cantik sekali bunganya!"
"Itu bunga dari saya, tante!" jawab kak Fajar bangga.
Wah, nak Fajar ternyata romantis juga, ya!"
"Terima kasih, tante! Kalau mau, besok saya bawakan bung buat tante juga."
"Ah! Ndak usah repot-repot, nak. Jangan-jangan kamu dan Putri sudah...."
Ibu menatapku penuh arti, sedangkan aku melototin kak Fajar agar dia bisa menjaga kata-katanya pada ibu.
"Iya, tante! Tadi saya nembak Putri di depan teman-temannya."
"So sweeet! Kamu harus cerita semuanya di dalam, nak."
"Baik, tante," jawab kak Fajar patuh.
"Jangan panggil tante dong! Calon mantu harus panggil ibu dari sekarang."
"Baik, bu!" jawab kak Fajar cepat.
Apa-apan sih kak Fajar! Padahal aku sudah bilang untuk memberikanku waktu seminggu tapi yang ia lakukan malah membuat kesalahpahaman untuk semua orang.
Sebenarnya apa yang sebenarnya kak Fajar lakukan. Mengapa ia tak memberikanku sebuah pilihan untuk menolak lamarannya.
Malam ini, bagaimanapun caranya aku harus berbicara empat mata dengan kak Fajar mengenai yang ia lakukan . Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang buat kami.
__ADS_1
Bersambung.........