
Aku selalu mengikuti perkembangan mensos Raj, baik itu di Fb, atau di WA. Aku berusaha untuk lebih dekat dengannya dan mengenal dia lebih dalam. Entah mengapa akhir- akhir ini dia lebih sering mengganti profilnya bersama teman- temannya. Sosialita memang baik, tapi dalam kondisi pademi seperti saat ini kan harus jaga jarak.
Setiap kali ia mengganti foto profilnya, aku selalu memberi like. Terakhir kali saat ia mengganti profilnya dengan gambar kuil. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya, walaupun ia selalu berkata baik-baik saja.
Untuk pertama kalinya aku tidak percaya dengannya. Setiap hari, aku selalu bertanya hal yang sama. Hingga akhirnya, di hari ketiga ia pun terbuka padaku.
"Baby, aku kena corona".
Bagaikan petir di siang bolong mendengar pengakuan Raj saat itu. Ia salah satu korban virus yang mematikan.
"Bagaimana kamu bisa kena corona?"
"Ini sudah terjadi, baby".
Seketika aku teringat akan semua foto profilnya beberapa hari yang lalu.
"Kamu sih sok sosialita, sudah tahu pademi ndak juga jaga jarak, peluk sana, peluk sini, ndak cuci tangan, maunya jalan-jalan terus sama teman. Kemarin yang suruh aku ndak usah keluar jalan-jalan itu siapa?"
Aku mengeluarkan semua unek- unekku pada Raj.
"Iya baby, maaf".
Tanpa bertanya padanya, aku langsung memencet VC untuk melihat kondisi Raj langsung.
__ADS_1
Wajah Raj tampak pucat sedang berbaring lemah di tempat tidurnya. Ia memperlihatkanku kamarnya serta sekat plastik yang menjadi dinding pintu kamarnya. Seolah-olah ia sedang berada di ruang isolasi.
Air mataku langsung jatuh saat melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan Raj begitu cepat.
"Sudah berapa lama kamu sakit?"
"Tiga hari yang lalu".
"Kamu sudah minum obat?"
"Sudah, baby".
"Istirahatlah".
Setelah menutup vc, aku masih saja menangis. Hingga ibu yang sedang lewat kamarku, mendengar tangisanku.
"Tidak ada apa-apa kok, bu".
"Kamu menangis seperti itu, pastinya ada apa-apa. Kalau ada masalah cerita. Jangan di pendam sendiri! Lagi pula ibu kan bukan orang lain".
"Teman baikku kena corona dan dia sekarang ada di ruang isolasi".
Aku masih enggan menceritakan hubunganku dengan Raj pada ibu, apalagi selama ini Raj juga belum sama sekali mengenalkanku pada keluarganya.
__ADS_1
"Kamu berdoa agar dia cepat sembuh dan bukannya menangis".
"Iya bu," jawabku patuh.
Aku menghapus tangisanku dan memeluk ibu dengan lembut.
"Ibu benar, menangis tidak dapat menyelesaikan masalah, nanti aku berdoa untuknya".
"Itu baru anak ibu! Sekarang kamu bangun dan bersihkan kamarmu, sebentar lagi bibi Rita dan Fanny datang".
Aku sedikit curiga dengan ibu, mereka memang sering datang ke rumah, tetapi mereka tidak pernah datang ke rumah untuk menginap.
"Emangnya ada apa, bu?"
"Pamanmu Aska kena gejala covid, untuk sementara Fanny dan bibi Rita akan tinggal bersama kita, sedangkan Angga akan merawat ayahnya selama isolasi".
Aku heran, paman Aska jarang keluar rumah semenjak pensiun, tapi kok kena corona. Seingatku paman Aska memang punya riwayat penyakit asma sejak dulu.
"Sekarang paman Aska sedang di rawat di rumah sakit mana, bu?"
"Pamanmu cuma diisolasi di rumah, lagi pula gejalanya tidak parah. Mungkin penyakitnya yang dulu kambuh dan disuruh isolasi mandiri selama dua minggu, kalau hasil retigennya negatif sebanyak tiga kali, maka normal".
"Kalau begitu, ibu keluar ya, aku mau bersih-bersih dulu!"
__ADS_1
Ibu langsung keluar dari kamarku saat aku mulai mengganti seprai. Mulai nanti malam, aku tidak tidur sendirian lagi.
BERSAMBUNG...........