
Sehari setelah aku pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Raj mengirimiku sebuah video saat ia memberikan para monyet makan pisang dari tangannya.
Dulu Raj mengirimiku video yang sama dan lokasi yang sama, tetapi ia menggunakan pakaian dan suasana yang agak sedikit berbeda dari videonya yang pertama.
Aku pun ketularan malas membalas pesan Raj dan hanya mengucapkan kata "GOOD". Bukannya aku ingin balas dendam sih, tapi aku ingin dia merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu.
Aku memutar video itu berulang kali sambil tersenyum sendiri. Tidak ada yang special dari video itu, tetapi makna dibalik video itu membuatku tersentuh.
Dia memberikan monyet liar itu makan sebagai rasa syukurnya karena aku telah melewati oprasi usus buntu dengan lancar.
Tiba-tiba Rico datang tanpa suara, melihat video yang sedang aku tonton.
"Kakak kenapa senyum- senyum sendiri kaya orang gila?"
"Siapa yang kamu katain orang gila?"
"Terus kenapa kakak ketawa sendiri? Apa kakak suka sama monyetnya atau suka sama pisangnya?"
"Hush!! Kamu ngaco Rico".
"Kakak udah ndak takut sama monyet lagi ya? Makanya kakak ngiler ngeliat monyet. Nanti Rico bilang sama ayah biar ngajak kakak ke pusuk biar puas main sama monyet".
"Kakak itu ndak takut sama monyet, cuma kakak ndak suka sama monyet yang jahil, sama kaya kamu!!"
__ADS_1
"Apaan sih kak putri! Masa sama-samain Rico sama monyet sih! ndak lucu".
Rico langsung cemberut padaku, ia masuk ke kamarnya dengan kesal. Sangat menyenangkan mengganggu adik sendiri sampai ngambek.
Pasca oprasi, aku benar-benar di manja oleh ibu. Beliau tidak mengizinkan aku untuk bersih-bersih rumah atau melakukan hal yang berat. Kerjaanku hanyalah makan, tidur dan main hp. Enak sih, tapi aku merasa tidak nyaman dan hampir mati karena bosan.
...******...
Tiga hari setelah aku oprasi, teman-temanku datang silih berganti menjenguk. Salah satunya adalah Nana. Dia datang membawa roti tawar dan susu.
Hik...hik..hik...
"Putri!!!!!"
Nana langsung menangis saat melihatku berbaring di tempat tidur.
"Kok kamu bisa sakit usus buntu sih? Setiap hari kita selalu makan bersama, apa aku juga bakal terkena usus buntu juga dan dioprasi kaya kamu? Aku takut, put".
Huaaaaaaa...
Temanku Nana memang orang yang baik tapi dia sangat lebai. Dia suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain seperti sekarang.
"Kamu jangan takut, na. Itu bukan virus kok!!"
__ADS_1
"Kita itu satu hari dan satu jiwa, put! Apa yang kamu suka, aku juga suka, apa yang kamu makan aku juga makan. Kalau ada masalah dengan makanan yang kamu makan, berarti makananku juga bermasalah".
Huaaaaaaa.....
"Tapi kamu tidak pernah sakit perut seperti aku, na!"
Seketika Nana menyeka air matanya dengan tisu yang ada di atas mejaku. Sepertinya Nana mengerti akan maksudku.
"Iya sih! Kalau dipikir-pikir memang tidak pernah sih".
Akhirnya Nana tenang dan berhenti menangis.
"Terus kapan kamu mulai masuk kerja?"
"Lusa", jawabku singkat.
"Apa kamu kuat untuk kerja?"
"Mau tidak mau, na. Aku sudah tidak punya pilihan lain".
"Aku akan membantu kamu besok!"
"Terima kasih, Na".
__ADS_1
Nana memang sangat pengertian dan juga teman baikku di swalayan. Aku sangat bersyukur memiliki teman seperti dia di dunia ini.
Bersambung....