
Rutinitasku setiap hari adalah kerja. Dalam seminggu aku bekerja enam hari, kadang sift pagi, kadang sore. Kebetulan hari ini, aku sift pagi setelah libur kemarin.
Sebagai seorang kasir di sebuah supermarket, melihat pasangan yang sedang berbelanja memang sudah biasa. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa terganggu. Apalagi bekerja di hari valentin sungguh menyiksa jiwa jombloku.
Saat jam istirahat, aku melihat seorang pria berambut keriting, memakai kemeja biru muda yang sedang memilih pasta gigi. Ia tampak seperti Raj dari belakang. Tanpa sadar, aku langsung menghampirinya, dan tersenyum saat menepuk punggungnya.
"Raj!!" Pria itu menoleh padaku dengan sorot mata yang tajam.
"Maaf pak, salah orang," jawabku cepat.
Aku malu atas apa yang telah aku lakukan tadi, cepat- cepat aku meninggalkan pria itu, dan menuju belakang gedung. Aku tidak mengerti pada diriku, yang mengharapkan seseorang yang jauh untuk berada di hadapanku.
Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini, seolah-olah bayangan Raj berada di sekitarku. Menganggap semua pria yang berambut keriting adalah Raj. padahal aku tahu, ia tidak mungkin berada di hadapanku.
Begitu aku tiba di belakang gedung, aku lihat teman kerjaku Nana sedang gelisah menungguku. Nana adalah teman kerjaku yang akrab, dan sering makan bareng denganku.
"Put, lama banget sih kamu datengnya!!"
"Maaf- maaf ayo kita pergi ,Na."
Kadang kala kebodohanku membuat diriku linglung, dan terdiam sejenak. Untung saja Nana tidak pergi meninggalkanku tadi, kalau tidak aku pasti sudah makan siang sendirian, apalagi kami diberikan batas waktu satu jam untuk istirahat secara bergilir.
Aku dan Nana memutuskan untuk pergi makan ke sebuah warung bakso yang lokasinya tidak jauh dari tempat kami bekerja.
Saat makan, hatiku tiba-tiba dilanda gelisah lagi, dan mengecek notifikasi Raj beberapa kali, tapi tak ada satu pun pesan yang masuk. Bahkan saat pulang kerja, masih tetap belum ada pesan yang masuk dari Raj.
Tanpa sadar, aku sudah mengecek notifikasinya sebanyak lima belas kali. Padahal kami terakhir berbicara di telepon tiga hari yang lalu. Bagi teman yang jauh adalah hal yang wajar kalau tidak terlalu sering menghubungi.
Ingin sekali rasanya mengetahui kabarnya, tapi aku gengsi. Masa cewek yang sms duluan!
__ADS_1
Harusnya dia ingat 'kan kalau hari ini adalah valentin.
...*****...
Sudah tiga hari, semenjak valentin berlalu, tapi aku belum mendapat kabar darinya. Dengan mengesampingkan rasa egoku, kuputuskan untuk mengiriminya kata "P" di whatsapp.
Senyumku langsung mengembang saat ada tanda centang dua di sana, yang artinya dia sedang online tapi belum membaca pesanku.
Kemana- mana aku selalu membawa hp takutnya saat dia kirim pesan, aku tidak tahu. Mau itu bersih-bersih rumah, kerja, bahkan pergi ke toilet pun bawa hp. Seolah-olah aku sudah kecanduan handphone.
Aku tidak mengerti mengapa aku sangat menantikan sms darinya, padahal ia tidak harus membalasku.
Sudah hampir setengah hari, ia belum membalas pesanku. Akhirnya aku mengalah akan egoku sendiri, dan memutuskan untuk menyapanya lebih dulu.
"Hai!" Tak lama kemudian Raj, membalas sapaanku.
"Apa kabar?" tanyaku.
"Kamu sibuk?"
"Iya, ada tugas kuliah," Raj membalas pesanku.
"Selamat berjuang, ya! " balasku kecewa.
"P itu artinya apa?" tanya Raj kepadaku lagi.
Per******, dasar cowok berhati batu, kalau tidak tahu artinya, tidak usah tanya! umpatku dalam hati.
Aku sedikit kecewa saat mengetahui bahwa dia kurang peka akan sinyal kerinduanku. Alhasil aku tidak mengiriminya balasan lagi.
__ADS_1
Ting.....
Suara pesan masuk berbunyi, kali ini dari Raj.
"I MISS YOU"
Pesan ini, membuatku senang, dan melupakan hal yang telah terjadi. Saking girangnya, tanpa sadar aku menarik perhatian ibuku yang sedang memasak di ruang sebelah.
"Ada apa, nak?" tanya Ibu dengan suara lantang.
"Tidak ada apa-apa kok, Bu."
"Kalau gitu, cepat bantuin Ibu di dapur, nak."
"Baik, Bu," sahutku cepat.
Sebelum aku pergi membantu Ibu di dapur, aku sempatkan membalas pesan Raj, dan mengetik
"I MISS YOU TOO"
...*******...
Saat menjelang tidur, aku sibuk mencari tahu yang aku rasakan ini beneran cinta, atau rasa iri pada orang yang memiliki pasangan pada google. Dalam era globalisasi saat ini, semua ada jawabannya pada perangkat lunak yang selalu kita bawa setiap hari, dan kita sebut handphone.
Hingga detik ini, aku masih belum percaya kalau aku jatuh cinta pada Raj. Padahal kami tidak pernah berbicara tentang sebuah hubungan. Yang lebih parahnya lagi, perasaan ini melebihi dari yang pernah aku rasakan pada mantanku dulu.
Bagaimana bisa cinta itu tumbuh dari sebuah pertemanan yang aneh seperti yang aku alami saat ini.
Aku tidak bisa membiarkan perasaan ini berlarut- larut. Aku butuh bantuan. Satu- satunya orang yang dapat membantuku, dan yang aku pikirkan saat ini adalah Angga.
__ADS_1
Bersambung......