
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh akhirnya Amenie dan Quinne sampai di kerajaan Anka.
Seorang pengawal datang ke kereta kuda yang dinaiki oleh kedua ibu dan anak itu. Pengawal itu bertanya "Ini kereta siapa?" dengan sopan. Kemudian Amenie membuka tirai yang menutupi kereta.
" Apakah kurang jelas!!" ucapan Amenie membuat pengawal tersebut gemetar, kerana melihat istri tuanya yang sudah 4 tahun lebih pergi dari kerajaan.
"Yang mulia ratu, maaf atas ketidaksopanan saya" pengawal tersebut kemudian membuka pintu kereta tersebut.
Amenie turun dari kereta kuda itu dan juga di belakang Quinne menyusul. Ketika Quinne turun dari kereta tersebut, pengawal itu terkejut melihat Quinne.
Putri Quinne, dia benar-benar bisa menemukan yang mulia ratu ; gumam pengawal itu.
......................
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam istana, baru saja melangkah kan kakinya masuk mereka yang dibuat terkejut melihat seorang wanita tengah diikat dan bekas luka yang ada di tubuhnya mengalir kan banyak darah.
Amenie langsung menutup mata Quinne. " Putri ku jangan lihat itu "
kemudian Hendrik beserta pengawal pribadi nya muncul, Hendrik membawa sebuah pedang dan sebagian pengawal itu membawa cambuk dan alat lainnya. Sebelumnya Amenie sudah menurunkan tangannya yang menutupi mata Quinne.
Hendrik melihat sang istri dan anaknya berdiri di dekat pintu masuk. Ia kemudian menghampiri mereka. Wanita yang tadinya di ikat tidak lain adalah Vera atau Yupiler.
" Quinne, Amenie kalian " ucapan yang sedikit aneh.
"Ayah apa yang terjadi?" tanya Quinne.
"Tanyakan saja pada ibumu!" ucap Hendrik.
Quinne melihat ke arah ibunya dengan maksud supaya sang ibu mau memberitahukan hal yang ingin ia ketahui.
Amenie kemudian berjalan mendekati. "Pengkhianat!!! " ucap Amenie dengan amarah nya.
"Mencuri, menyelakai orang, sampai berkata hal buruk kepada orang lain tentang kerajaan sendiri, pengkhianat!!" ucap Amenie yang meluapkan amarah nya.
Quinne sadar bahwa ibunya memiliki dendam dengan wanita bernama Vera itu. Hendrik menatap ke arah Quinne dan kemudian ia tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum begitu.
Ting...
...~Suara dalam sistem ~...
*Nona selamat kita sudah menyelesaikan semua misi*[ Shu-shu]
*apa!! ini benar kan * [ Quinne]
*Tentu * [Shu-shu]
...~Kilas balik ~...
"Amenie " ucap Hendrik yang kemudian memeluk tubuh istri nya
"Ayah dimana Zennya?" tanya Quinne.
"Zennya? siapa dia?" tanya Amenie penasaran.
Apakah selama aku pergi dari kerajaan Anka, Hendrik memiliki istri baru dan juga anak baru, Batin Amenie.
__ADS_1
Sepertinya ibu salah paham, itu tidak boleh terjadi: gumam Quinne yang melihat ekspresi ibunya berubah.
"Kalian urus wanita itu!!!" ucap Hendrik yang menunjuk ke arah Vera.
Kemudian Hendrik mengajak istri dan anaknya masuk ke dalam istana.
" Ibu Zennya itu anak angkat ayah, jadi jangan salah paham ya " ucap Quinne.
Amenie tidak menanggapi pembicaraan Quinne, dia masih menunjukkan ekspresi curiga nya.
Quinne melihat itu berlari masuk ke kamar Zennya, ketika masuk ia melihat Zennya sedang menangis.
"Hu hu hu hiks " terdengar isakan di tangis nya.
"Zennya " panggil Quinne melihat nya.
Zennya mendengar suara Quinne, langsung memeluknya layaknya seorang teman. Dia masih menangis. Lalu Quinne bertanya.
"Mengapa kamu menangis."
"Aku... Aku pikir kau akan meninggalkan ku" ucap Zennya dengan rasa sedih.
"Ayo keluar" ajak Quinne yang kemudian menarik tangan Zennya.
Di luar kamar Zennya melihat seorang wanita yang nampak mirip dengan Quinne. Seketika ia langsung mengetahui bahwa wanita tersebut adalah ibunya Quinne.
"Ibu ini adalah Zennya "
Amenie masih belum bicara, ia berjalan mendekati Zennya. Zennya merasa takut melihat ekspresi Amenie yang kurang menyukai nya.
" Kamu boleh memanggil ku ibu " ucap Amenie.
Mereka pasti bisa kembali menjadi keluarga yang bahagia, meski tidak di temani putri kandung nya kan, Zennya juga bisa menjadi pengganti Quinne saat aku kembali ke sistem; batin Quinne..
" hm... ayah, ibu, Zennya aku paling cinta kalian " ucap Quinne yang kemudian memeluk erat semuanya.
"Ibu apakah aku boleh meminta sesuatu padamu"
"Katakan saja nak !" ucap Amenie kemudian.
"Aku berharap ayah dan ibu bisa bahagia tanpa aku temani dan juga aku ingin Zennya bisa melengkapi kebahagiaan keluarga kita"
"Apa yang kau bicarakan nak, apa maksudnya tanpa kamu, ada masalah apa?" tanya Amenie dengan nada khawatir.
"Quinne apa yang terjadi padamu " Hendrik ikut bertanya.
"Tidak ada apa-apa hanya saja aku berkeinginan naik ke lantai 2 " kemudian Quinne berlari naik ke atas.
Setibanya di atas dia memandangi pemandangan taman kerajaan Anka dari balkon kerajaan, taman tersebut berada di samping istana. Terdengar suara langkah kaki, ternyata ayah dan ibunya ikut naik ke lantai dua, begitupun Zennya.
"Quinne lain kali jangan berlari lagi saat menaiki tangga " ucap Amenie yang mengkhawatirkan Quinne.
"Ibu, Quinne sudah sering berlari begitu!!" ucap Zennya.
"Quinne Kemari lah " Kemudian Quinne mendekati Hendrik.
__ADS_1
Hendrik kemudian mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin permata biru. Lalu ia memakaikan nya di jari kecil Quinne. Dan ia mengeluarkan satu kotak lagi, cincin dengan permata hijau. Lalu ia juga memakaikan nya di jari Zennya.
" Hadiah!!? " tanya Quinne.
"Ehem. tidak sengaja aku melihatnya di pasar jadi aku membelikannya untuk kalian " ucap Hendrik yang sedikit malu.
Fuffh...
Mana ada yang menjual cincin seperti ini di pasaran, kecuali di pesan langsung dasar Hendrik! batin Quinne.
" Ayah terima kasih aku menyukai nya!!" ucap Quinne tersenyum. Begitu pula dengan Zennya.
" Ibu ayah apakah kalian pernah melihat angsa yang memiliki bulu emas " ucap Quinne dengan kalimat anehnya.
" Mana ada yang seperti itu " Amenie menanggapi ucapan Quinne.
Maafkan aku, Ini harus terjadi!!! batin Quinne.
"Jika kalian tidak percaya, lihatlah sendiri di taman ada satu ekor angsa emas !!" ucap Quinne.
Quinne kemudian berlari dengan cepat, hal itu membuat Amenie dan Hendrik kaget takut nantinya Quinne malah jatuh.
"Quinne jangan berlari!!!" Teriak Amenie melihat Quinne semakin cepat berlari.
Quinne kemudian tertabrak ke pinggiran balkon itu dan terpental ke atas. MAAFKAN AKU AYAH IBU ucap Quinne yang kemudian jatuh dari balkon tersebut.
"Quinne!!! " teriak Amenie yang kemudian berlari menuruni tangga dan pergi ke samping istana.
Sesampainya di samping ia melihat tubuh Quinne yang mengeluarkan banyak darah, Kemudian Hendrik menggendong tubuh Quinne dan memberikan nya sihir penyembuhan, tetapi hal itu tidak berfungsi.
Quinne tidak bernafas lagi. Para tabib istana berdatangan namun nyawa Quinne tidak bisa tergolong. Amenie menangis sedih, dirinya harus menghadapi kematian putrinya.
"Quinne apa yang kamu lakukan!! hiks... mengapa kamu harus pergi...." tangis sedih Amenie.
" Quinne!!!! " teriak Amenie.
......................
Sedangkan di dalam sistem Jiwa Lin sudah kembali ke sistem.
" Nona kamu sudah kembali " sambut Shu-shu dengan riang.
"Benar aku sudah kembali " ucap Lin sambil melihat ke layar pantauan di mana tempat Quinne berada.
"Menyedihkan " ucapnya sembari melepaskan cincin yang terpasang di jarinya.
"tidak di sangka cincin ini bisa membesar dan ikut kemari "
" Nona apakah kamu ingin membuang nya ?" tanya Shu-shu.
" Tidak ini akan menjadi kenangan bagiku, Sudahlah mari lihat dimensi berikutnya. "
" Baiklah " ucap Shu-shu.
...****************...
__ADS_1
Dimensi pertama sudah selesai di episode berikutnya akan mengisahkan Dimensi berikutnya.
Dimensi kedua di mulai!!!