
Juve melihat ke arah lukisan potret yang menggambarkan ibunya. dulunya lukisan itu diberikan kain hitam, namun sekarang tidak lagi diberikan kain hitam tersebut.
"sungguh diluar nalar, mana mungkin penyihir itu bisa membangkitkan orang mati" pikir Juve.
"apa yang kau lakukan disini, Juve?" tanya Lily yang datang tiba-tiba.
"ah, tidak ada apa-apa. hanya melihat lukisan ini" jawab Juve.
"ibu pikir, kau akan mengurus masalah pertunangan mu" tawa Lily sambil memukul pelan lengan Juve.
"itu kan sudah lewat, dugaan ku ibu pasti lupa" kata Juve sambil memasang ekspresi datar.
"oh ya, ada yang ingin kutanyakan pada ibu".
"apa itu?" tanya Lily yang berhenti tertawa.
"mengenai penyihir yang membangkitkan ibu. penyihir manapun mustahil untuk membangkitkan manusia, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Juve.
Lily menghela nafas, lalu tersenyum menatap Juve.
"dia adalah penyihir hebat yang tidak tertandingi. apapun tidak ada yang mustahil baginya dan lagi dia itu setengah dewi kehidupan. jadi, Harry memiliki kekuatan untuk membangkitkan orang mati" jawab Lily.
"tapi katanya itu harus dari boneka lalu jiwanya ditarik untuk masuk ke dalam" bingung Juve yang dipenuhi dengan tanda tanya.
"entahlah. dia bilang kalau dia mengambil jenasah ibu yang diawetkan dengan sihir oleh ayahmu. jadi, Harry pasti punya sesuatu untuk melakukan itu" kata Lily yang juga bingung dengan penjelasannya.
"katanya badanmu masih sakit karena harus keliling kota untuk menampilkan dirimu sebagai seorang putri mahkota secara resmi, tapi kau berkeliaran bebas disini".
"badanku memang sakit! tapi aku juga butuh gerak agar beban sakitnya hilang!'.
Juve pergi menuju danau yang sering dikunjunginya ketika sedang merasa bosan.
"andai saja aku bisa dengan cepat menerima perasaan itu. mungkin aku tidak akan sering kepikiran tentang itu" pikir Juve.
"kau sedang memikirkan dia lagi?" tanya Azel yang tiba-tiba muncul dibelakang Juve dan membuatnya kaget.
"akh!" kaget Juve.
Juve berbalik badan dan memarahi Azel.
"bisa tidak kau untuk berhenti mengagetkanku?!" tanya Juve.
"apakah kau tidak bisa melupakan masa lalu?" tanya Azel dengan tenang.
"aku tidak tahu untuk melupakannya, selalu saja ada rasa bersalah yang tertinggal di hati, makanya selalu terpikir" jawab Juve yang melihat ke arah lain dengan wajah yang tersipu.
"tapi bukan berarti aku sama sekali tidak mencintaimu!" kata Juve dengan keras.
__ADS_1
"aku tahu itu, kalau tidak mana mungkin sampai bertunangan" senyum Azel.
"bagaimana kalau kita jalan-jalan di padang bunga seperti biasanya?" tanya Azel sambil menggenggam tangan Juve.
"itu lebih baik kurasa" jawab Juve.
Azel membawa Juve ke sebuah padang bunga yang bermekaran dengan cantik. ditambah lagi dengan angin yang berhembus membuat bunga-bunga berterbangan kemana-mana.
"ini sangat cantik" kagum Juve.
"kuharap dengan ini, kau bisa terlepas dari masalah beban pikiranmu" harap Azel dengan penuh keyakinan.
"kau berada di dekatku saja sudah lebih baik" kata Juve sambil menyandarkan kepalanya di bahu Azel.
keduanya pun duduk di rerumputan yang dihiasi oleh berbagai jenis bunga yang indah. Azel dan Juve sama-sama sibuk membuat mahkota bunga untuk dipasangkan dikepala pasangannya.
"ayo kita bertanding siapa yang lebih dulu selesai membuat mahkota bunga dan juga yang sangat cantik" ajak Azel sambil menatap Juve.
"baiklah!" jawab Juve yang menerima tantangan Azel sambil menatapnya juga.
pandangan keduanya kemudian teralih pada misi mereka yang akan membuat mahkota bunga yang indah sekaligus yang tercepat.
"aku pasti bisa melakukannya lebih cepat!" kata Juve dalam hatinya.
"entah kenapa suasana ini mengingatkanku pada saat aku dan ayah berpiknik disini" pikir Juve.
"ayolah!" kata Juve dalam hati.
"aku sudah selesai" kata Juve yang berbalik badan.
begitu ia membalikkan badannya, tidak ada Azel didepannya. raut wajahnya yang tadi senang mulai menunjukkan ekspresi sedih.
Tuk..
sebuah mahkota bunga diletakkan di atas kepala Juve. dengan hiasan bunga yang berwarna-warni, menghiasi rambut Juve yang berwarna perak keputihan.
"kejutan" senyum Azel.
"hampir saja aku berpikir kalau aku ditinggal pergi olehmu!" kesal Juve.
"tak ada mahkota bunga untukku juga?" tanya Azel.
"menunduklah" perintah Juve yang langsung dituruti oleh Azel.
Tuk..
sama halnya seperti Juve, kepala Azel juga tampak terhiasi oleh bunga-bunga tersebut.
__ADS_1
"cantik sekali~" puji Juve sambil tersenyum lebar.
"kau juga sama" puji Azel juga pada Juve sambil tersenyum lebar.
"kau terlihat keren dan tampan karena satu anting yang menggantung di telingamu" kata Juve.
"ini anting yang cocok kan untuk dipakai olehku setelahmu?" tanya Azel.
"tentu saja karena kau akan menjadi calon suamiku nantinya" jawab Juve sambil sedikit menggoda Azel.
"aku sangat mencintaimu" kata Azel sambil memeluk Juve.
dari kejauhan, dibalik semak dan pohon, Heli menatap kemesraan pasangan itu. mereka benar-benar terlihat sangat cocok, ditambah lagi dengan rambut mereka yang warnanya serupa.
pupus sudah harapannya untuk memiliki Juve seutuhnya, karena kini perkataan Juve mengenai dirinya yang akan menjadi pasangan dari penjaganya itu benar adanya.
beberapa bulan yang lalu setelah peperangan, Heli kembali menemui Juve untuk mengajaknya berbaikan juga membangun kembali hubungan antara keduanya. namun, Juve menatap sinis pada Heli.
"kau sendiri yang meninggalkan ku, kau juga yang ingin kembali. sungguh memalukan sekali" kata Juve dalam hati.
"bukan aku tak ingin kembali membangun hubungan itu, hanya saja kita berdua benar-benar tidak bisa lagi. hubungan kita sebelumnya sudah direstui, tapi hal itu malah hancur karena ulahmu sendiri. jadi, aku menolaknya" kata Juve yang menolaknya dengan halus dan lembut.
"kumohon kali ini saja" mohon Heli dengan penuh harapan.
"kalau disuruh memilih, aku lebih memilih penjaga ku untuk dijadikan tunangan serta suamiku. kau terkesan memaksa ku untuk melakukannya" kata Juve yang mulai risih dengan Heli.
"....".
Heli hanya terdiam sampai Juve mengakhiri pertemuannya. dan sekarang, ia hanya bisa diam berdiri menatap Juve yang tampak bahagia.
"aku benar-benar masih tidak rela kau pergi dengannya. aku masih ingin kau tetap berada di sisiku" kata Heli seorang diri.
"seharusnya aku tidak melakukan itu.. aku benar-benar bersalah atas kejadian itu".
"andaikan saja aku bisa mengatakannya sekali lagi padamu dan membuatmu yakin, tentunya aku akan bahagia".
Juve berbaring di bunga-bunga yang membuat bunga tersebut hancur karena badannya. tapi untungnya Azel adalah seorang yang memiliki sihir yang berhubungan dengan alam, jadi ia bisa memperbaiki apapun seperti semula.
"kau tahu apa yang kuharapkan?" tanya Azel.
mengingat Juve adalah seorang dari dunia modern, ia tahu maksud perkataan Azel.
"tunggu itu untuk beberapa waktu lagi, tunggu umurku genap 18 tahun" jawab Juve yang kelabakan.
"baiklah" kata Azel yang kemudian memejamkan matanya.
"kuharap, hubungan ini dapat bertahan lama dan lebih lama. aku ingin memiliki anak darimu" kata Juve dalam hati.
__ADS_1
TO BE CONTINUED~