Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 42


__ADS_3

"sial" umpat yang satunya.


"kalian berani masuk ke sini, maka kalian harus berani melawanku" kata Juve.


tenaga Juve meningkat berkali-kali lipat, bahkan dua orang itu kewalahan menghadapinya.


'kekuatannya tidak habis-habis. ternyata benar yang dikatakan mereka' kata penyusup itu dalam hati.


lalu terdengar suara tangisan bayi, ternyata seorang pelayan baru saja melahirkan.


kedua orang itu memanfaatkan kesempatan itu, untuk menarik perhatian Juve sekaligus juga untuk membunuhnya.


"kalian!".


Juve juga ikut mengejar keduanya dan meninggalkan pedangnya. tapi nyatanya, Juve lebih dahulu sampai.


Duaak...


Juve berada didepan dan memukul sekuat tenaganya kedua penyusup itu hingga terpental jauh.


"arrgh!" rintihnya.


"kenapa? bukankah kalian itu kuat?" tanya Juve dari jauh.


Zztt..


Juve langsung berada tepat didepan keduanya, sihirnya mampu membuat kecepatan Juve dalam berpindah tempat sangat cepat seperti angin.


"kalian kan laki-laki, masa melawanku yang perempuan tidak sanggup?" tanya Juve lagi sambil menyeringai lebar.


Juve merasakan ada sesuatu di belakangnya. ketika ia melihat ke belakangnya, tombak prajurit melayang mengenai penyusup yang tadi ingin menusuk Juve dari belakang.


"apa itu?" pikir Juve.


Azel turun dari langit dan jatuh tepat didepan Juve.


"Azel?" tanya Juve.


"ada berapa musuh sekarang yang berhasil dikalahkan?" tanya Azel.


"aku mengalahkan 2, ditambah 1 yang kau kalahkan tadi" jawab Juve.


"berarti tiga yang disini" pikir Azel.


"apa yang terjadi?. bukankah kau ikut berjaga di daerah perbatasan?" tanya Juve yang menghilangkan Lingkaran sihir dimatanya.


"Baginda menyuruh saya datang kemari untuk melindungi anda sambil mengalahkan musuh yang datang ke istana" jawab Azel yang juga menghilangkan lingkaran sihir dimatanya.


"apakah ayah ada diperbatasan?" tanya Juve.


"iya" jawab Azel secara singkat.


badan Juve tiba-tiba saja sempoyongan dan membuatnya jatuh. Azel segera menangkapnya dan membawanya ke kamar.


"4 musuh sebelumnya sudah berhasil dikalahkan dan ditambah lagi dengan 3 tadi, jadi hasilnya 4" pikir Azel sambil menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan Juve.


"tinggal menunggu pagi saja kalau begini" kata Azel.


Tik..

__ADS_1


Azel menjentikkan jarinya dan terjadi ledakan yang membuat ketiga musuh serta 4 yang berada di hutan. mereka masih hidup, tapi karena ledakan itu, mereka semua tewas.


Azel tertidur di kursinya dan kepalanya jatuh ke kasur Juve.


Pagi harinya~


semua orang mulai beraktivitas kembali, prajurit awalnya sempat heboh dengan kemunculan mayat dari 3 musuh serta 4 didalam hutan. tapi Juve datang dan menceritakan segalanya, Azel juga menceritakan tentang 4 musuh yang mati didalam hutan serta 3 yang ada di lapangan.


dan di pagi ini juga, Juve di datangi keluarga besar ibunya. mereka mendatangi ruang kerja Juven, itupun untuk membuat masalah.


"tuan putri, ada tamu untuk anda" kata Nadia.


Juve menunda pekerjaannya dan menaruh pena nya.


"biarkan mereka masuk ke sini".


Nadia membuka pintu ruang kerja itu. Juve memberikan isyarat agar Nadia pergi dan tidak menganggu. Nadia yang mengerti, segera keluar dan menutup kembali pintunya.


"ada apa kalian datang ke sini?" tanya Juve tanpa ekspresi apapun.


"kami mengunjungi mu karena mencemaskan keadaanmu, apalagi mengenai penyusup semalam" jawab pamannya.


"duduklah, aku akan berbincang dengan kalian".


Juve duduk di sebelah sepupunya, anak dari adik bungsu ibunya.


"paman rasa, mencemaskan keadaanmu sepertinya tidak diperlukan. melihat dirimu yang baik-baik saja begini" kata Andre, anak sulung dari keluarga Earhart.


"aku memang tidak memerlukan hal itu" kata Juve yang sibuk membaca bukunya.


"mengingat kemampuan Lily itu sangat besar, paman rasa memang ada duganya tidak mencemaskanmu" lanjut pamannya.


Duaak...


tembok keras ruang kerja Juven hancur. Juve memukul pamannya dengan kekuatan penuh, dan memang terlihat bahwa Juve marah.


"kurasa, aku yang akan mencemaskanmu sekarang. paaman" kata Juve sambil berjalan dengan tatapan mengerikan.


"eh?".


Azel melihat Juve yang keluar dari ruang kerja, ia terkejut ketika melihat lingkaran sihir dimatanya.


"dia melakukan hal yang sama itu lagi?" pikir Azel.


Azel segera berlari menuju Juve.


"berakhir sudah hidupmu" kata Juve.


untungnya, Azel menutup mata Juve dan menahan tangannya.


"hentikan ini, putri. sudah cukup" kata Azel yang berusaha menahan Juve.


akhirnya, Azel juga memunculkan lingkaran sihir dimatanya dan itupun untuk menahan Juve.


"ng?".


Juve akhirnya sadar kembali dan lingkaran sihir dimatanya juga sudah menghilang, begitu juga dengan Azel.


Azel menurunkan tangannya dari mata Juve dan tangan Juve.

__ADS_1


"Azel" kata Juve sambil menoleh ke belakang dan langsung senang.


Kretek.. Tik..


Juve melihat ke belakang Azel, dan tampak kembali tembok yang hancur dibuatnya untuk yang kedua kalinya.


"hiiy!".


"anda sudah menghancurkannya dua kali, lho" kata Azel yang menambah kepanikan Juve.


"Baginda yang pulang nanti, terpaksa harus memperbaikinya kembali. padahal ini belum lama diperbaiki" lanjut Azel.


Andre masih terkapar akibat pukulan keras tadi dan juga benturan keras yang menimpanya. untuk orang biasa, pukulan seperti itu sudah bisa menyebabkan kematian. tapi, Andre adalah yang setidaknya mewarisi 5% sihir dari ayahnya terdahulu.


"kakak!" panggil adiknya yang paling bungsu.


Thania, anak paling bungsu.


Thania segera menghampiri kakaknya dan menanyakan kondisinya.


"kau baik-baik saja kan?" tanya Thania yang khawatir.


"menurutku, paman tentunya baik-baik saja. darah saja tidak keluar dari mulutnya, padahal pukulan itu sangatlah kuat" kata sang anak dari Thania yang merupakan anak tunggal, Dian.


"Dian, kau tidak boleh bicara begitu! dia ini pamanmu" kata Thania yang memarahi anaknya.


"pantas saja bibi Lily dan bibi Lena memutuskan untuk pergi tanpa mempedulikan kita" kata Dian.


"anak sialan!".


Andre hendak memukul Dian, namun ditahan oleh Azel.


"kau berbicara begitu tanpa memahami perasaan seorang anak. bahkan pelayan yang kau setubuhi saja tanpa kau sadari membuatnya hamil hingga melahirkan di tengah-tengah musuh" kata Azel yang menatap seakan hendak membunuhnya langsung.


"apa? jadi paman yang membuatnya hamil?" tanya Juve yang tidak percaya.


"menodai keluarga Earhart saja" sindir Dian.


Azel menurunkan tangan Andre dan menatapnya dengan tatapan datar seperti biasanya ia menatap orang lain.


"aku jadi teringat lagi tentang kabar bahwa paman dan juga bibi Thania sedang cinta-cintaan" kata Juve yang mencoba membuat kedua orang itu emosi.


"saudara sendiri saja saling suka, atau jangan-jangan.." kata Azel yang memberhentikan bicaranya dan menatap ke arah Dian.


"a-aku bukan anak dari hubungan terlarang!" kata Dian dengan keras.


"menurut anda bagaimana?" tanya Azel pada Juve.


"bibi Thania sebelumnya bercerai dengan suaminya karena alasan yang tidak jelas. Dian bukan anak dari hubungan terlarang itu" jawab Juve sambil menggaruk tengkuknya dengan satu alis terangkat.


"kalian pulanglah dan begitu juga yang lainnya. untuk Dian, dia akan tinggal di sini" kata Juve yang mencoba mengusir mereka secara halus.


"tapi, Dian harus ikut denganku!" kata Thania yang tidak mau Dian berada di sisi Juve juga.


"akan ku tegaskan, Dian adalah pangeran. suami mu sebelumnya memang tua, tapi dia itu kerabat jauh ayahku yang juga merupakan pangeran terbuang. status Dian sekarang ini adalah pangeran, dan dia berhak tinggal di istana" kata Juve yang telah menegaskan bahwa Dian akan tinggal di istana.


Thania dan yang lainnya tidak punya kemampuan untuk melawan perkataan itu. ada sedikit penyesalan juga, namun mau bagaimana lagi.


TO BE CONTINUED~

__ADS_1


__ADS_2