Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 38


__ADS_3

Juve berlari menuju Dahlia dan ia menanyakan apa yang terjadi kepada pemuda itu.


"apa yang terjadi dengannya?" tanya Juve.


"putri tidak mampu mengendalikan kekuatannya dan ia langsung jatuh pingsan begitu saja" jawab Joyce.


"lalu kenapa kau juga ikutan jatuh?" tanyanya lagi.


"aku menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkannya tapi aku merasakan aliran listrik karena reaksi penolakan yang ada padanya. karena itu, aku tidak dapat menggerakkan tubuhku" jawab Joyce.


"aish! aku tidak bisa membawanya!" pikir Juve.


'ditambah lagi, ia juga lumpuh meskipun hanya mengalami kelumpuhan sementara bukan berarti itu diajak bercanda' kata Juve dalam hatinya.


"aku akan menyembuhkan kalian berdua" kata Juve.


Juve menaruh tangannya di atas kepala mereka berdua.


Sriing..


cahaya berwarna biru itu langsung membuat reaksi yang baik dan juga Berhasil membuat Joyce yang kesusahan untuk bergerak menjadi bisa kembali bergerak.


Juve berhasil menyembuhkan keduanya, hanya saja, Dahlia masih belum sadarkan diri. kemungkinan saja efek dari sihirnya yang berada di luar kendali.


"namamu siapa?" tanya Juve.


"namaku Joyce" jawab Joyce.


"kau bawa Dahlia ke dalam istana, aku ingin menemui paman dan bibiku" kata Juve.


Joyce mengganguk dan menggendong Dahlia. Joyce pergi mendahului Juve.


"Haast! aku akan sedikit agak lama!" teriak Juve.


namun nyatanya, Haast tidak mendengarkan teriakan Juve karena ia sedang asyik tertidur pulas.


Juve merasa teriakannya tidak direspon, ia langsung berlari ke dalam istana saja lebih dulu.


"raja dan ratu ada dimana?".


"mereka ada diruang kerjanya di bagian barat istana".


Di ruang kerja~


"seharusnya latihan Dahlia sudah selesai sekarang" kata Lena yang sedang menikmati teh nya.


"kuharap kau tidak memaksa Dahlia untuk berlatih" kata Darius.


"dia harus menyiapkan dirinya untuk medan perang nanti, bisa jadi masalah karena putri dari keluarga kita yang tidak pergi" kata Lena.


Duaak...


hantaman keras menghancurkan pintu kerja Darius. selain Lena, Darius pun ikut kaget karena itu.

__ADS_1


Tap Tap..


langkah kaki terdengar dan dari kumpulan asap debu yang berterbangan, terlihat Dahlia yang memasang wajah penuh amarahnya.


"aku terluka tapi kalian berdua malah berdiam diri di sini. aku tidak suka" kata Dahlia.


lingkaran sihir masih terlihat dimatanya. Juve dan Joyce yang melihat hal itu, lebih membiarkannya tapi biarpun begitu, Joyce mencoba menghentikan Dahlia namun dicegah oleh Juve.


"putri—".


"jangan Joyce! bisa bahaya kalau kau ikut campur dalam urusan ini!" bisik Juve sambil memegang tangan Joyce dengan kuat.


"tapi, kita tidak bisa membiarkannya karena itu bahaya" kata Joyce yang memberontak dan mencoba melepaskan genggaman tangan Juve.


Juve pada akhirnya memunculkan lingkaran sihir dimatanya. ketika Joyce melihat ke belakang, ia langsung pingsan begitu saja.


Brukk..


"tidurlah dulu" kata Juve.


Juve berjalan mendekati Dahlia, dipegangnya bahu Dahlia.


"Dahlia, aku tahu selama ini kau selalu ingin melampiaskan emosimu. tapi jangan jugalah kau menyerang orang tuamu seperti yang pernah kulakukan pada ayahku saat itu" kata Juve.


Juve memukul tengkuk leher Dahlia dan membuatnya pingsan. sebenarnya, Juve bisa saja menggunakan sihirnya untuk membuat Dahlia pingsan, tapi mengingat dirinya yang pernah hampir membunuh ayahnya, ia tidak berani menggunakannya. kalaupun ingin membuatnya pingsan lewat mata seperti Joyce, sulit untuknya karena Dahlia hanya akan memperhatikan orang yang ada didepannya.


Juve menangkap tubuh Dahlia sebelum ia jatuh ke bawah. Juve menatap paman dan bibinya.


"paman, kemarilah" perintahnya.


Darius mau tidak mau harus pergi ke Juve. Juve memberikan Dahlia kepada pamannya, Juve juga memegang tangan pamannya dengan erat.


"paman, ingatlah kalau yang mendukung Dahlia itu orangnya tidak sedikit. selain aku, ada ayah dan bibi Kayla. mereka berdua itu biarpun tampak tenang begitu, kalau yang menyangkut anaknya entah itu anak kalian, mereka akan bertindak keras" kata Juve yang secara langsung memancarkan setrum kejut.


"aku pergi dulu... dan lagi, guru sihirnya Dahlia juga harus diantarkan ke kamarnya" kata Juve yang berjalan keluar.


"peperangan juga masih cukup lama, prajurit dari para bangsawan juga sudah dikerahkan untuk menjadi persiapan sementara. ayah belum bisa mengatakan perang, karena persiapannya belum sempurna" kata Juve.


"aku pergi".


Juve menggunakan sihir teleportasinya dan langsung tiba di mana lokasi pendaratannya tadi. raut wajahnya berubah, Juve tampak begitu marah karena Haast tertidur.


Juve mengepalkan kedua tangannya, kemudian ia berteriak keras untuk membangunkan Haast.


"bangunlah, Haast!!!" teriaknya.


tak disangka, teriakan Juve mampu membuat tanah langsung terbelah menjadi dua dan menyebabkan keretakan di seluruh penjuru tanah yang berada di sekitarnya.


"eh?".


Haast terbangun dari tidurnya dan keadaannya masih setengah sadar. Juve terpeleset karena tanah yang dipijaknya licin dan lebih buruknya lagi, ia berada didekat belahan tanah.


"gyaa!".

__ADS_1


Greep...


"teriakan anda hampir membuat diri Anda sendiri terjun ke dunia lain" kata Azel yang menggendong Juve dan membawanya menjauh.


Haast yang benar-benar sadar, terpaksa harus meratakan kembali tanah yang retak dan terbelah.


"kenapa kau ada disini?" tanya Juve.


"karena daerah yang di intai dekat dengan disini, makanya saya singgah karena tuan putri juga bilang akan berkunjung ke sini" jawab Azel sambil menghela nafas.


"tanahnya rata lagi..." pikir Juve.


"lebih baik, anda kembali dengan terbang bersama Haast" kata Azel.


Azel membawa Juve ke atas Haast dan langsung meninggalkannya. kemudian, Azel berubah menjadi elang dan terbang mendahului Haast.


"peganganlah" kata Haast dan dituruti Juve.


"apa ibu pernah melihatmu?" tanya Juve.


"iya, itu terjadi saat aku masih tidur dan juga ayahmu sangat jail saat itu" jawab Haast.


"ayah? kenapa?" tanya Juve.


"lebih baik itu tidak untuk diceritakan, pokoknya ayahmu itu jail didepan ibumu dan aku" jawab Haast.


"aku penasaran dengan cerita cinta ibu dan ayah. tapi, ayah sama sekali tidak mau terbuka untuk menceritakan itu" kata Juve sambil menghela nafas kasar.


"lebih baik, kau minta diceritakan itu pada ibumu" kata Haast.


"bagaimana caranya? ibu kan sudah tidak ada" tanya Juve.


"kau akan bertemu dengannya dan itu suatu saat nanti" jawab Haast.


siang ini, Algeria juga tampak langitnya mendung. Juven pergi mengunjungi makam Lily, dan itu dilakukannya setiap 1 bulan sekali.


"Lily...".


lonceng kuil dibunyikan, hal itu dilakukan untuk memperingati hari kematian semua orang termasuk permaisuri.


prajurit, warga-warga dan juga keluarga kerajaan terdahulu.


Juve juga diminta untuk menghadirinya oleh uskup agung, hanya saja Juven menolaknya karena tidak ingin Juve datang.


"aku tidak bisa membawa Juve kesini, karena aku tidak ingin ia bersedih" kata Juven.


kau, Lily. bunga hidup yang selalu menyinari hatiku dan juga hari-hari ku. tawa dan senyumanmu adalah hal yang tidak terlupakan olehku.


kau hidup ditengah-tengah padang bunga tapi mati ditengah-tengah kehancuran. tak ada lagi tawa dan senyumanmu yang bisa kulihat lagi.


walaupun kita terpisah, kau dan aku tetap memiliki ikatan.


TO BE CONTINUED~

__ADS_1


__ADS_2