Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 37


__ADS_3

"aku kan sudah pernah memperagakannya. kenapa harus melakukannya lagi?" tanya Juve sambil berjalan maju mundur dengan buku yang berada di atas kepalanya.


"tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihatmu berjalan lebih bagus ketika hadir di acara istana yang akan digelar nantinya" jawab Juven.


'aku akan mencoba yang terbaik untuk sekarang' kata Juve dalam hati.


Juve kembali mempelajari tarian-tarian yang pernah diperagakan oleh Lily ketika dirinya masih muda.


'Lily, kau lihatkan? anak yang selama ini aku jaga benar-benar sudah memiliki perkembangan yang sangat besar..' kata Juven dalam hati.


Juven menatap Juve yang menari begitu lihai bahkan melebihi ibunya sendiri. Juven terus menatapnya dan ia kembali teringat pada saat dirinya terpukau oleh Lily.


'tariannya indah' kata Juven dalam hatinya.


"kalau dia dijadikan penari kerajaan pasti akan sangat mengagumkan" pikirnya.


Lily melihat ke arah Juven berada, wajahnya langsung memerah begitu melihat Juven.


Deg deg deg


jantungnya berdetak cepat, Lily merasa seakan dirinya jatuh cinta.


setelah acara tariannya selesai, Juven mendatangi Lily. tapi Lily malah ingin menghindar dari Juven.


"apa dia ingin main kejar-kejaran?" pikir Juven.


Juven mengejar Lily. jantungnya berdetak cepat karena dirinya diikuti oleh seorang pangeran yang tampan. pada akhirnya, Lily berhasil ditahan oleh Juven karena tangannya ditahan.


"p-pangeran... ada yang bisa saya bantu?" tanya Lily yang sedikit terbata dikalimat awalnya.


"..... tidak jadi" jawab Juven.


"tapi kau baik-baik saja kan?" tanya Juven.


"wajahmu tampak memerah begitu".


wajah Lily makin memerah dan juga panas karena tangan Juven menyentuh dahinya.


"saya baik-baik saja pangeran..." jawab Lily.


"kenapa cara bicaramu begitu? panggil aku layaknya temanmu" kata Juven.


"tapi, anda kan pangeran dan saya penari" kata Lily.


"penari apanya? di umurmu yang baru 12 tahun ini bisa disebut penari? bukankah kau putri dari keluarga Earhart?" tanya Juven yang secara seketika membuat Lily menjadi salah tingkah.


"a-anda tahu saya putri dari keluarga Earhart darimana?" tanya Lily balik.


"keluarga Earhart sangat identik dengan mata merah mudanya, makanya aku tahu" jawab Juven dan diangguki oleh Lily.


"ubaah ya caramu memanggilku" kata Juven yang tersenyum lebar sambil memegang pundak Lily.


Lily pun ikut tersenyum.


"iya, Juven".


Juven kembali sadar karena Juve memanggilnya.


"ayah!" panggil Juve dengan berteriak.


"ya?" sahut Juven.

__ADS_1


"tidak ada" kata Juve.


Juve memperhatikan ke arah ayahnya, ia melihat seorang wanita yang sedang memeluk Juven dari belakang.


paras cantik dan elegan yang dilihatnya.


"aku melihat semuanya... Juven".


"apa ayah tidak menyadarinya?" pikir Juve.


wanita itu menatap Juve dan menaruh telunjuknya ke bibir seakaan menyuruh Juve untuk tetap diam.


keadaan tiba-tiba saja berubah dan seluruh ruangan langsung menjadi hitam dan menyisakan cahaya yang terpancar dari tubuh Juve dan Juven beserta wanita itu.


"papa".


Juve melihat ke depannya, dan dilihatnya kembali dirinya saat masih kecil.


"aku sayang papa".


Juve menjadi sedih karena itu. tujuannya yang mengatakan itu untuk tetap hidup dan mendapatkan perhatian, menjadi sebuah kasih sayang yang tidak berujung.


"selama ini.. aku tidak tahu harus berbuat apa".


"aku pikir, jika aku melenyapkan anak itu maka aku akan mendapatkan ketenangan jiwa. tapi, aku justru mendapatkannya karena anak itu mendekati ku".


"selayaknya Lily yang juga membuatku tenang maka Juve juga melakukannya".


"Juven, aku justru senang kau berhasil menjadi ayah yang terbaik bagi anak kita".


Juve tersenyum lebar dan kegelapan yang menyelimuti mereka langsung hilang begitu saja.


"ayah tidak perlu menahan diri untuk mengatakannya, karena ayah punya aku dan aku punya ayah" kata Juve.


"meskipun keluarga kita tidak utuh seperti keluarga yang lain, tapi itu tidak menjadi halangan untuk orang tua tunggal seperti ayah" kata Juve.


Juven membalas pelukan Juve, ini juga bukan kali pertamanya dia dipeluk tapi sudah berkali-kali.


keluarga kerajaan Algeria memiliki banyak ceritanya. ketika raja kedua yang memimpin negara, ia kehilangan pasangannya dan hanya menyisakan anak-anaknya saja.


begitupun seterusnya, hingga kepemimpinan ayah Juven yang sempat kehilangan selirnya kemudian digantikan oleh selir lainnya yang serta ditugaskan untuk membesarkan Juven.


"ibu tidak akan pernah mengijinkanmu untuk menggunakan pedang" kata Lena kepada Dahlia dan mengambil secara paksa pedang dari tangan Dahlia.


"memangnya kenapa?" tanya Dahlia yang memasang wajah sedih.


"lebih baik kau berlatih sihirmu sana daripada pedang" jawab Lena.


Lena berbalik dan pergi meninggalkan Dahlia.


"tuan putri" panggil seorang pemuda.


dia adalah orang yang ditugaskan oleh ayah untuk menjadi guru sihirku, umurnya tua 2 tahun dariku.


~Joyce~


itulah namanya.


"Joyce, tumben sekali datang ke sini" kata Dahlia.


Dahlia berjalan menuju Joyce yang berada di tengah lapangan.

__ADS_1


"pedangmu mana?" tanya Joyce.


"pedangku disita oleh ibu. makanya aku tidak membawanya ke sini" Jawab Dahlia.


"tapi, kau kan melihatnya juga" kata Dahlia.


"ahaha, aku tidak lihat kok" kata Joyce yang mengelak.


"ya sudah, aku ingin melihat kemampuanmu lagi" kata Joyce yang berubah menjadi mode serius.


Dahlia juga ikut berubah menjadi mode serius, lingkaran sihir muncul dikedua matanya.


Sriing...


"aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh ayah dan ibu, yang penting aku bisa menguasai ini" pikir Dahlia.


"hentikan ini, putri!" teriak Joyce.


"aku tidak bisa! kekuatannya bertindak sendiri!".


"sial. tubuhnya tidak akan kuat untuk menahannya" pikir Joyce.


"tur—".


perkataannya belum sempat terselesaikan dan Dahlia langsung jatuh di tanah dengan keadaan darah yang keluar dari mulutnya.


"putri!".


Joyce segera berlari menuju Dahlia dan mencoba menggunakan sihir penyembuhnya, karena itulah satu-satunya jalan untuk mengatasi hal ini.


Bzzzt...


ketika menggunakannya, secara langsung tubuh Dahlia menolaknya dan membuat Joyce merasa tersetrum.


Brukk...


Joyce langsung rebah di samping Dahlia, setrum yang barusan rasanya seperti melumpuhkannya.


"untunglah cuacanya mendung, kalau panas pasti akan bahaya" pikirnya.


"kemana raja dan ratu itu...?" tanya Joyce.


Joyce mencoba untuk bangun agar bisa membawa Dahlia kedalam istana, tapi ia sama sekali tidak bisa bergerak.


kebetulan sekali, dilangit dan ditengah-tengah awan, ada burung raksasa yang berterbangan di istana Alpha.


"aku sangat senang karena akhirnya aku bisa datang kesini tanpa perlu menggunakan sihir teleportasi" kata Juve.


"aku juga senang karena bisa bebas dari pegunungan menyesakkan itu dan juga bisa digunakan sebagai transportasi" kata Haast.


perhatian Juve teralihkan oleh Dahlia dan juga seorang pemuda yang terbaring.


jarak antara tanah dan posisi mereka yang berada diatas, tidak jauh.


"Haast, kita harus kebawah" perintahnya.


"kenapa?" tanya Haast.


"sepupuku sepertinya dalam masalah, aku harus menolongnya" jawab Juve.


Haast merendahkan ketinggiannya dan mendarat di lapangan kosong yang tidak jauh dari tempat Dahlia bersama pemuda itu.

__ADS_1


TO BE CONTINUED~


__ADS_2