
"ayah!" panggil Juve yang langsung mendobrak pintu kamar Juven.
"aku ini membesarkan anak atau banteng sih?" pikir Juven.
"kebetulan sekali kau ada disini, Juve" kata Juven yang bangkit dari tempat duduknya.
"ng?" bingung Juve.
Juve berjalan mendekati ayahnya dan tampak ayahnya seperti sedang menyiapkan pakaiannya.
"ini" Juven memberikan Juve sebuah dress.
"ini untuk apa?" tanya Juve.
"pakai saja, kita akan mengunjungi seseorang" jawab Juven.
"o-oh, baiklah".
Juven membuat lingkaran sihir yang lumayan besar didalam kamarnya. juga Juve sudah selesai mengganti pakaiannya.
"sekarang apa yang ayah lakukan?" tanya Juve.
"kita akan menemui ibumu" jawab Juven.
"bertemu dengannya?" tanya Juve yang mencoba menyakinkan apa yang didengarnya.
"iya, nak" jawab Juven.
Juven mengulurkan tangannya dan Juve langsung berlari memeluk tubuh ayahnya.
"peluklah aku dengan erat. jangan melepaskannya sebelum kita sampai" kata Juven yang langsung dituruti Juve.
Juve memeluk ayahnya dengan erat, dan keduanya langsung dibawa ke suatu tempat. tempat yang berwarna putih polos dan juga tanaman yang indah tumbuh di sekitarnya.
"eh?".
seorang wanita berambut hitam panjang tampak kebingungan karena melihat orang yang tidak asing dimatanya sekarang ini.
"Juven?" tanya Lily yang berusaha memastikan apa yang dilihatnya.
"ng? itu ibu?" tanya Juve yang berbisik pada ayahnya.
"iya" jawab Juven.
"tunggu, siapa perempuan itu?" tanya Lily.
'dia tinggi sedahi ku dan setinggi hidung Juven. siapa dia?! dia juga mirip sekali dengan Juven!' tanya Lily dalam hati.
"itu—".
"jangan bilang kau menikah lagi kan?!" tanya Lily yang langsung asal bicara.
perkataan Juven saja belum sempat selesai, kini ayah dan anak itu hanya bisa melongo mendengar dan melihat tingkah laku wanita itu.
"padahal kau kan sudah berjanji untuk tidak menikah lagi! kau ingkar janji!" kata Lily.
air mata Lily langsung tumpah begitu saja. tak pernah terpikirkan olehnya jika orang yang ia cintai mati-matian selama ini menikah lagi.
"ibu kenapa?" tanya Juve.
"Lily, tenanglah dulu.." kata Juven.
__ADS_1
"kau itu salah paham" lanjutnya.
mata Lily terbuka lebar dan terkejut dengan apa yang dikatakan Juven. ia.. salah paham..?
"apa maksudmu?" tanya Lily yang tidak paham.
Juven melepaskan pelukannya dan mendorong pelan Juve untuk maju 1 langkah didepannya.
"dia bukan sembarangan perempuan. dia ini adalah anak kita berdua" jawab Juven.
"anak?" tanya Lily yang masih kebingungan.
"memang wajar kalau kau bingung, karena ini adalah pertemuan pertama kalian" jawab Juven.
".....".
"senang bertemu denganmu, i—".
Peluk...
Lily langsung memeluk Juve dengan erat. air matanya tidak dapat lagi ditahannya. sekarang, ia kenal siapa Juve.
"ibu yang lebih senang bertemu denganmu" kata Lily yang semakin mempererat pelukannya.
Juve merasa sesak nafas karena pelukannya yang terlalu kuat.
"ibu, aku tidak bisa bernafas" kata Juve yang mencoba melepaskan dirinya.
Lily pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Juve untuk mengambil nafasnya.
"maafkan ibu, Juve. ibu terlalu bersemangat sekali karena bisa bertemu denganmu" kata Lily yang meminta maaf dan menggaruk tengkuknya sambil cengengesan.
"umurmu sekarang berapa?" tanya Lily sambil memegang pipi Juve.
cara bicaranya berubah karena Lily yang menekan pipi Juve saking gemasnya.
"hahaha" tawa Lily yang langsung melepaskan tangannya dari pipi Juve.
"baiklah Juve. bisakah kau pergi bermain disana?" tanya Lily.
"disana ada bunga dan ayunan yang bisa kau mainkan. tapi bunga itu tidak bisa kau bawa ke duniamu ya~" kata Lily.
"ibu ingin membicarakan sesuatu pada ayahmu" lanjut Lily.
"ayo kita pergi~" kata Lily sambil memegang tangan Juven.
Lily membawa Juven ketempat yang jauh dari tempat Juve berada.
"kita sudah jauh darinya, silahkan katakan apa yang ingin kau kata—".
Peluk...
Juven memeluk Lily, bahkan ia belum sempat menyelesaikan perkataan terakhir. Lily yang juga rindu, membalas pelukannya itu.
"kau tahu, Juven. selama ini, aku tidak bisa tenang karena takut kau tidak bisa membesarkannya" kata Lily.
Juven melepaskan pelukannya dan menatap Lily dengan tatapan sedih seakan dirinya tidak bisa lagi menahan rindu yang selalu dipendamnya selama bertahun-tahun.
"aku pun takut kalau aku akan menjadi kejam dimatanya. bahkan kalau bertindak pun, aku harus berhati-hati" kata Juven.
"karena aku pernah merusak barangnya hingga membuatnya marah besar" lanjut Juven.
__ADS_1
Buuk..
pukulan keras mengenai kepala Juven, tentunya karena perkataan Juven barusan.
"memangnya apa yang kau rusak, hah?!" tanya Lily yang marah dan juga memukul kepala Juven.
meskipun Lily hanya setinggi telinga Juven. karena kebetulan sekali Juven menundukkan kepalanya dan itu juga kesempatan untuk memukul kepalanya karena sudah sekian lama tidak memukulnya.
"a-aku tidak sengaja membuat barang miliknya jadi berantakan" jawab Juven sambil memegang daerah kepalanya yang dipukul tadi.
'padahal ia hanya jiwanya, tidak disangka ia masih kuat sekali seperti semasa hidupnya dulu' kata Juven dalam hati.
"ceritakan apa yang terjadi! sekarang!" perintah Lily.
"haah, iya deh" sahut Juven sambil menghela nafasnya.
Juven menceritakan segalanya, mulai dari ia mengambil liontin miliknya, lalu tertabrak meja, buku-buku berjatuhan hingga ia membuat barang itu menjadi berantakan.
"kamar pribadinya kenapa kau datangi?" tanya Lily yang mencoba untuk berbicara dengan lebih lembut.
"aku kan hanya pergi untuk memastikan apakah kamarnya tetap rapi atau berantakan" jawab Juven.
"tapi tetap saja kan kau harus minta ijin darinya dulu!" kata Lily yang kembali marah.
"....".
"kau benar-benar tidak menikah lagi kan?" tanya Lily.
"aku harus sampai kapan menjelaskannya.. aku benar-benar tidak menikah lagi" jawab Juven yang berusaha menyakinkan Lily.
"sebenarnya itu salahmu sendiri yang tidak ingat rupa Juve" kata Juven.
"kau tidak tahu sejak kecil ia selalu menanyakan mu, bahkan membuatku muak untuk mendengarkannya" kata Juven yang berusaha menahan amarahnya.
"kenapa aku seorang yang tidak punya mama? padahal aku juga ingin seperti Dahlia yang punya mama".
Juven mengatakan kembali perkataan yang pernah diucapkan oleh Juve kepadanya.
"kau tidak tahu seperti apa perasaannya. tapi kau sendiri yang tidak percaya kalau ia anakmu" kata Juven.
"Juve Athelinda, kau ingat nama itu kan?" tanya Juven.
"iya, nama yang kau berikan padanya disaat peperangan yang meledak saat itu" jawab Lily.
"tapi, kau kan punya banyak selir, memungkinkan saja kau untuk menikah lagi!" kata Lily yang bersikeras dengan perkataannya.
"yah, kau tetap bersikeras dengan perkataanmu. tapi coba kau ingat lagi" kata Juven.
"seperti apa reaksi wajahnya ketika bertemu denganmu tadi" lanjut Juven.
Lily mengingat kembali pada saat Juven dan Juve datang. ia mengingat wajah Juve yang tampak penasaran dan ingin mendekatkan dirinya.
"jadi, apa kau masih terlihat tidak mempercayai anak itu adalah anakmu?" tanya Juven.
"Lily, kau dan Juve itu adalah seorang ibu dan anak. perlakukan lah ia dengan baik, karena dia itu anakmu" kata Juven.
Lily tersenyum.
"aku menipu mu.. hahahaha" kata Lily yang secara langsung juga ikut tertawa.
"se-sebenarnya, aku tahu siapa Juve kok. hahaha, kau benar-benar mudah sekali tertipu. dasar duda beranak satu.. hahahaha" lanjut Lily dengan jujur.
__ADS_1
Juven diam mematung, baru kali ini ia ditipu bahkan sampai terbawa suasana seperti tadi.
TO BE CONTINUED~