
Juve kembali ke istana dan tentunya dengan masih memegang potongan rambutnya. Ia melihat ke arah tangannya yang memegang potongan rambut tersebut.
"Aku harus apa dengan potongan rambut ini?" Tanya Juve yang kebingungan.
Esok harinya, pelayan yang mendatangi kamar Juve dibuat terkejut melihat rambut Baginda ratu mereka yang menjadi pendek sebahu.
"Apa yang terjadi pada rambut anda, Baginda?!" Tanya pelayan yang panik dan salah tingkah dihadapan Juve.
"Aku memotongnya" jawab Juve sambil memiringkan kepalanya dan menjawabnya dengan polos selayaknya anak-anak yang mengakui perbuatannya tanpa tahu apa yang dilakukannya secara sadar.
"Justru itu masalahnya! Mana ada ratu-ratu terdahulu yang memotong rambutnya hingga sependek ini!" Kata pelayan dan Juve hanya tersenyum melihat pelayannya yang marah-marah padanya.
Setelah selesai memadukan nyanyian penuh emosi, pelayan membantu Juve mengganti pakaiannya dan menata rambutnya seindah mungkin. Sementara potongan rambutnya dibawa oleh pelayan untuk diletakkan di suatu tempat.
Juve menghampiri kamar 2 putri kembarnya yang juga sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran yang akan segera dimulai. Azelhy dan Azelhya menghampiri Juve.
"Gaya rambut ibu berganti" kata Azelhya.
"Bagaimana? Cantik tidak?" Tanya Juve sambil tersenyum padahal dalam hatinya ia menangis karena dengan susah payah dirinya untuk membawa Azel kembali pulang hingga mengharuskan dirinya memotong rambut yang sangat disayanginya.
"Cantik dan lagi sangat cocok dengan ibu~" jawab Azelhy yang diangguki Azelhya.
"Ya sudah, sebentar lagi guru kalian akan datang. Jadi bersiaplah" kata Juve sambil mengusap kepala Azelhy dan Azelhya.
Juve berjalan ke taman sambil mengerjakan pekerjaannya karena tempat itulah yang paling membuatnya nyaman dan tenang. Para pelayan juga tidak ada disampingnya jadi itu benar-benar sangat sunyi dan sepi.
Angin berhembus sepoi-sepoi membuat rambutnya bergerak, sebuah tangan memegang rambut perak itu.
"Jadi itu benar adanya" kata Azel yang tiba-tiba muncul di belakang Juve sambil memainkan rambut tersebut.
"Uwaahh!" Kaget Juve.
"Baru kali ini kau kaget karena kehadiranku, biasanya tidak" kata Azel yang bingung dan memikirkan hal itu.
"Hei, aku sedang serius mengerjakannya, makanya aku kaget" kata Juve.
"Ya baiklah, berikan padaku. Aku akan kerjakan".
Juve membagikan beberapa dokumen kepada Azel untuk dikerjakan keduanya bersama-sama.
__ADS_1
"Rambutmu yang pendek dan tertata rapi itu sangat cantik. Beda sekali ketika kau memohon kepadaku untuk pulang, rambutmu itu seperti rambut singa" ejeknya.
"Bagaimana ceritanya bisa begitu?" Tanya Juve yang memukul mejanya dan hampir membuat cangkir tehnya tumpah.
"Aku bercanda" jawab Azel.
"Oh ya, beberapa jam lagi kita akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin dari lima negara. Jadi kita harus bersiap-siap" kata Juve.
Setelah semuanya tuntas dikerjakan, Juve dan Azel pergi ke istana untuk mengganti bajunya dan mengenakan baju resmi kerajaan.
"Kami berdua titipkan putri-putri pada kalian. Jika sudah waktunya makan siang segera bawa putri-putri untuk makan siang dan jangan lupa gurunya juga, kalian pun begitu" kata Juve.
Juve dan Azel segera menuju perjalanan menuju tempat pertemuan. Yakni diperbatasan lima negara, gedung dimana tempat Juve beserta Juven melakukan pertemuan dengan pemimpin negara sebelumnya dan pewaris tahta kerajaannya masing-masing.
Yang sebelumnya menjadi pewaris tahta, telah menjadi pemimpin kerajaannya. Bahkan semuanya telah memiliki pasangannya.
Tapi siapa sangka kalau pertemuan itu bisa membuat menciptakan kekacauan.
Semuanya telah sampai di gedung tersebut. Pertemuan kali ini membahas mengenai Siegran yang sedang mengalami bencana kelaparan dan kekeringan yang membuat dana dari kerajaan mengalami penurunan drastis. Sebelumnya raja Athyo memperkirakan bahwa dana yang dibutuhkan untuk daerah yang mengalami kekeringan dan kelaparan tercukupi, nyatanya malah berkurang.
Jadinya yang hadir disini hanya ada 4 pemimpin negara.
"Iya, Siegran benar-benar membutuhkan bantuan secepatnya" jawab Sierra.
"Saya sempat membantu raja Athyo dan memberikan setidaknya makanan dan air minum untuk rakyat yang berada di sana dan setiap tahun juga begitu" kata Leone menambahkan.
"Itu cukup meringankan bebannya, semuanya juga pasti melakukan hal yang sama tapi tidak memberitahukannya. Jadi akan lebih baik jika kita menutup mulut atas ini apa yang kita lakukan terhadap negara Siegran. Jangan sampai pihak-pihak mengetahui tindak-tanduk kita, bisa-bisa dana yang kita berikan akan diambil oleh pihak yang mendengar berita itu" kata Juve.
"Baiklah".
"Gaya rambut Baginda ratu indah ya" puji Sierra.
Perhatian Juve yang tadi menatap kertas yang dipegangnya teralihkan kepada Sierra yang memuji gaya rambutnya.
"Aahh, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rambut kalian semua" kata Juve yang membandingkan rambutnya dengan yang lain.
"Rambut pendek sangat cocok untuk anda, bahkan aura keibuan anda terpancar dengan jelas" kata Leone.
"Kalian tahu saja, saya bahkan masih belum menerima bahwa saya ini seorang ibu" kata Juve sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Bagaimana kabar 2 pangeran kembar anda?" Tanya Juve pada Sierra.
"Keduanya baik-baik saja. Dan lagi, mereka berdua mirip dengan saya, bahkan kesulitan untuk membedakannya biarpun saya ini ibu pangeran kembar" jawab Sierra.
"Iya ya, seingat saya ketika bertama saat itu keduanya mirip sekali, untungnya gaya rambut salah satu dari mereka diubah sehingga mirip dengan ayahnya" kata Leona.
"Yang Itu namanya Loui, dia cukup mirip dengan ayahnya setelah sedikit sentuhan dari saya" kata Sierra.
"Oh ya, apakah perlu kita membuat pertemuan ini lagi bersama dengan anak-anak kita?" Tanya Edy.
"Menurut Baginda ratu bagaimana?" Tanya Leone.
"Saya setuju saja, tapi sayangnya putra mahkota saya sedang di akademi. Mungkin saya hanya akan membawa putri kembar ke sini" jawab Juve.
"Anak kembar laki-laki dipertemukan dengan anak kembar perempuan, pastinya nanti akan diadakan perjodohan" kata Leone.
"Saya berharap itu benar-benar terjadi, tapi ya bukan sekarang juga" kata Juve dan diangguki Sierra karena ia juga sependapat dengan Juve.
"Bukankah katanya pasangan pemimpin Algeria itu harus orang yang berstatus Tinggi? Kenapa dia yang tidak memiliki status apapun bisa menjadi pasangan ratu bahkan menjadi pangeran?" Tanya Ian.
Semua mata tertuju pada raja Arcellia ini, entah ide apa yang ada dipikirannya sampai mengatakan hal yang tidak seharusnya.
"Apa yang membuat raja mengatakan hal seperti itu?" Tanya Juve dengan santai dan mencoba tidak terbawa emosi.
"Bukankah sudah hukumnya kalau pasangan baik dari raja maupun ratu itu harus orang yang memiliki status sosial?" Tanya Ian berbalik pada Juve.
"Semua orang berhak untuk memiliki pasangan tanpa harus memandang statusnya. Jadi, tidak ada gunanya membicarakan hal ini, terlebih lagi disini ada Yang mulia pangeran" kata Juve.
"Apakah anda mengatakan dan bersikap begini karena stress ditinggal istri anda beserta anakmu?" Tanya Leone.
"Apa yang anda alami, jangan dilampiaskan kepada orang lain. Apalagi jika orang tersebut memiliki istri atau suami" kata Edy yang menunjukkan ekspresi tidak sukanya.
"Kita tutup pertemuan ini. Apa yang sudah disampaikan tadi, laksanakan dengan hati-hati".
Pertemuan tersebut diakhiri oleh Juve karena ia mengkhawatirkan Azel yang tampaknya tidak nyaman karena perkataan yang dilontarkan oleh Ian.
"Menurutmu bagaimana?" Tanya Juve sambil menunjukkan sebuah gantungan kunci pada Azel.
"Cantik, akan sangat cocok untuk Lhy dan Lhya" jawab Azel sambil tersenyum.
__ADS_1