Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 44


__ADS_3

Heli menatap sedih ke arah Juve, memang ada benarnya perkataan Juve barusan. ia harus menyerah untuk segalanya apalagi jika Juve memiliki orang lain.


tapi, Heli tetap kokoh pada perkataannya. meskipun ia harus menderita karena itu.


Juve tiba-tiba saja tersungkur di tanah dan lingkaran sihir dimatanya juga hilang.


"ugh" rintih Juve yang kesakitan.


Azel berlutut sambil memegang kedua lengan Juve dan menanyakan kondisinya.


"anda baik-baik saja, Putri?" tanya Azel yang khawatir.


"tidak, tubuhku tidak kuat untuk menahannya" jawab Juve yang gemetaran.


"pasti karena efeknya" kata Azel.


"bukan, aku menggunakan sihirku sejak pagi tadi terlalu banyak hingga itu meluap" sahut Juve yang menolak perkataan Azel.


"kalau begitu, saya bawa anda kembali ke istana" kata Azel yang menggendong Juve.


Azel membuat sihir teleportasi dan segera masuk kedalamnya. kini, hanya Heli yang sendiri di hutan.


beralih, di istana semua orang tampak bolak balik masuk ke dalam kamar Juve Sambil membawa kain bersih dan air bersih.


"darahnya tidak berkurang" kata Nadia sambil mengelap disekitar mulut Juve yang terus mengeluarkan darah.


"anehnya lagi, sihir saya bahkan tidak mempercepat kesembuhannya" kata Azel sambil menggenggam tangan Juve dan sihir penyembuhnya.


"berusahalah sekali lagi, tuan muda" kata Nadia sambil menyemangati Azel.


"kainnya" kata Nadia yang menaruh kain kotor di bak air.


seharusnya dia bisa pulih dengan cepat, ini tidak. untuk kasus seperti ini, aku harus membuat jantungnya terus berdetak.


tiba-tiba saja, dada sebelah kiri Juve mengeluarkan cahaya yang terang. semua orang menutup matanya karena silau.


darahnya berhenti keluar dari mulutnya, Azel dan yang lainnya mulai lega.


"perang!" teriak prajurit yang sepertinya datang dari perbatasan.


"ya ampun..".


"berarti Baginda sudah memutuskan untuk memulai peperangan".


"tapi bagaimana dengan tuan putri? bukankah tuan putri juga harus ikut perang?".


Juve membuka matanya dan pengelihatannya masih buram.


"aku akan ikut" kata Juve.


semuanya kaget karena Juve yang tiba-tiba sadar dan Azel terus menggenggam tangan Juve sejak tadi.


"anda harus beristirahat dulu dan lagi lebih baik jangan" kata Azel.

__ADS_1


"tidak, tidak, tidak. aku harus ikut" kata Juve yang tidak mau menuruti perkataan Azel.


"kalau begitu, siapkan baju perang untuk tuan putri da juga tuan muda Azel" kata Nadia.


meskipun kondisinya yang belum benar-benar pulih, Juve berusaha cukup keras untuk mengikuti pertempuran ini.


Azel tidak punya pilihan lain selain membantu Juve untuk mengeluarkan Haast dari dalam pegunungan untuk mempercepat perjalanan mereka menuju lokasi.


prajurit lain berangkat menggunakan kudanya masing-masing, dan Juve dari atas mengawasi mereka yang ada dibawah.


'tunggu aku, ayah!' kata Juve dalam hatinya.


Di padang~


Juven menghunuskan pedangnya dan berhasil membunuh musuhnya hanya dalam satu kali. setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Juven menunggangi kudanya untuk berjalan ke markas musuh.


namun, ia berhenti karena jalur untuk mencapai tujuannya terputus karena terdapat belahan ditanah.


sebuah panas melesat ke arah Juven. Juven yang peka terhadap itu, berhasil menghalau dengan pedangnya dan ribuan panah ditembakkan dari segala penjuru.


Tririring...


lingkaran sihir muncul di sekitar Juven yang digunakan untuk melindunginya. Juven memandang ke arah langit dan melihat Juve, Azel serta Haast yang datang menuju ke arahnya.


Haast membuat ledakan lewat matanya dan mengendalikan akar tumbuhan yang mati untuk menahan musuh.


Duup..


Juve dan Azel turun dari tubuh Haast, lalu menghampiri Juven.


Juven mengusap kepala Juve dan mencium keningnya.


"maafkan aku yang tidak bisa mengirimkan mu pada ibumu" bisik Juven.


Juve menyentuh dahinya dan masih terasa ciuman tadi. meskipun ia sempat merasa sedih, melihat ayahnya yang tersenyum lebar padanya, membuat dirinya bersemangat kembali.


"tubuhku yang lemah tadi langsung hilang" pikir Juve.


matahari mulai terbenam, Juven membagikan kelompok prajurit. disitu juga sudah hadir keluarga Alpha dan juga Victory.


Juve dan Azel memimpin pasukan 1, Dahlia dan Joyce memimpin pasukan 2, Adelio dan Adelia memimpin pasukan 3.


awalnya sempat terjadi pertengkaran antara Juven dan adik-adiknya, namun Juven mengatakan:


"mereka harus memiliki yang namanya kerjasama. baik itu dengan adiknya atau kakaknya, ataupun dengan penjaga mungkin juga pengawalnya".


Juve dan Azel diminta untuk pergi ke desa kecil tempat dimana Azel pernah menangkap prajurit yang tidak menjalankan tugasnya. Dahlia dan Joyce diminta untuk pergi ke desa kecil tempat kelahiran Joyce. Adelio dan Adelia diminta untuk pergi menuju desa kecil tempat dimana ibu dan ayah mereka pertama kali melakukan kencan ( agak aneh tapi harus dilaksanakan).


Juve, Azel dan pasukannya beristirahat jauh dari pemukiman warga setempat. kayu bakar mereka hampir habis, tak ada yang bisa pergi mengambil kayu.


"salah satu dari kalian harus ada yang pergi mengambil kayunya lagi. kayu kita akan habis" kata Juve.


"....".

__ADS_1


keadaan menjadi sepi sunyi. Juve yang jengkel karena tak ada yang bisa disuruh, menghajar pohon di samping kiri prajurit yang sedang mengasah pedangnya.


**Duaak..


Kretek tek tek..


Dumm**...


semua prajurit tercengang melihat pohon sebesar itu tumbang karena pukulan Juve.


"daripada kalian sibuk bercerita yang tidak jelas, potong kayu-kayu itu" kata Juve sambil tersenyum penuh amarah.


"cepat!" katanya.


semua prajurit segera pergi memotong dahan-dahan pohon itu. selain takut, mereka teringat kembali dengan pukulan yang pernah dibuat oleh Lily ketika sedang marah pada mereka yang gagal memperlihatkan bakat terbaik mereka.


yakni, ketika Lily untuk kali pertamanya memukul tanah dengan sekali tinjunya hingga membuatnya sebuah lobang yang bahkan dapat digunakan untuk mandi.


"sekarang pedang kalian pun ada gunanya juga" kata Juve.


selesai memotongnya, kayu api pun dapat terpenuhi dan tidak kekurangan lagi.


beralih kepada Dahlia. Dahlia dan Joyce sedang membuat bola lingkaran sihir yang tujuannya untuk membuat perisai demi melindungi desa.


namun, Dahlia masih tidak sanggup untuk melakukannya dan ia hampir terjatuh, untungnya Joyce menahannya.


"gunakan saja kedua tanganmu untuk membuatnya" kata Joyce.


Dahlia mengganguk perkataan itu, ia menggunakan kedua tangannya dan berhasil membuat perisai untuk desa kecil ini.


orang-orang dan juga prajurit melihat itu sangat kagum dengan kerjasama mereka yang membuat desa ini aman.


kemudian beralih kepada Adelio dan Adelia. Adelia duduk di pinggir sungai bersama sekitar 10 prajurit yang menemaninya.


Adelio mengejar Adelia yang kabur dari pengawasannya. wajar saja jika ia itu kabur, karena sebelumnya ia dan Adelia bertengkar.


tubuhnya berlumuran darah dan juga bau amis dari darah. sepanjang perjalanannya, Adelio melawan musuh menggunakan pedang sihir pemberian ibunya.


"Adelia.." pikir Adelio.


Duum...


ada bunyi keras dari arah pedesaan. Adelio menggunakan sihir teleportasinya untuk pergi kembali menuju pedesaan.


Sriing..


disitu, ia melihat Adelia yang menggunakan pedang sihir seperti miliknya. Adelia membunuh musuh yang berusaha untuk menghabisi nyawa warga kecil itu.


bersamaan juga, keenam nya mengatakan hal yang sama kepada musuh-musuh didepannya.


"kalau ingin menghabisi mereka! lewati kami dulu!".


kini, musuh perang telah muncul di depan semua orang bahkan dipadang tempat pertempuran juga iya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED~


__ADS_2