Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Kabar yang terlambat


__ADS_3

Keesokan harinya raja di istana memerintahkan pengawal nya untuk memberitahu kepada semua orang yang ada di dalam istana, untuk berkumpul di aula kerajaan.


Quinne yang sudah bangun sejak tadi, tiba-tiba saja mendapati suara ketukan di pintu kamar, itu adalah pengawal yang di perintahkan sang raja.


Tok Tok Tok


Quinne langsung membuka pintu nya, dia sempat mengira itu adalah Ella, dan ternyata bukan melainkan orang itu adalah seorang pengawal.


"Eh, paman ada apa ya?" Tanya Quinne sembari melihat ke arah pengawal tersebut.


"Raja memerintahkan untuk berkumpul di aula, harap segera kesana " ucap pengawal itu.


' Pergi ke aula, hmm.... Zennya ternyata mulut kompor, mengadukan aku pada ayah memangnya ayah ingin cara seperti apa menyelesaikan masalah, sampai menyuruh semua orang di istana berkumpul ' batin Quinne.


" baiklah saya akan segera kesana " ucap Quinne dengan senyum nya.


Lalu Pengawal itu pergi ke kamar Ella. ' hmm...aku saja yang beritahu Ella ' gumam Quinne.


"Paman biar aku saja yang beritahu dia, Paman kembali saja "


"baiklah, permisi " ucap pengawal kemudian.


Quinne berjalan mendekati pintu kamar Ella dan mengetuk pintu nya. Tetapi Ella tidak membuka pintu padahal Quinne sudah mengetuk pintu nya dari tadi.


Tok Tok Tok


"Ella buka pintu, ini aku Quinne "


Pintu kamar Ella tidak terkunci, Quinne cemas dan langsung masuk ke dalam kamar si Ella. Setelah masuk Quinne melihat Ella masih tertidur, dia merasa bingung padahal dari tadi dia berteriak memanggil Ella. ternyata Ella masih saja tidur.


Lalu Quinne menggoyang kan tubuhnya Ella. "Ella bangun ". Ella masih saja tidur. ' ..... terpaksa, maaf ya Ella ' gumam Quinne. Entah apa yang akan di lakukan nya dia sudah minta maaf terlebih dahulu.


Quinne kemudian mengambil sebuah gelas yang berisikan air, terletak di atas meja. Kemudian dia menyiramkan air itu ke wajah Ella.

__ADS_1


"aduh.. maaf ya Ella, terpaksa "ucap Quinne sembari melakukan aksi nya.


Langsung saja Ella bangun dari tidur nya yang lelap. "astaga banjir " ucap Ella. Ella merasa kaget saat wajah nya tiba-tiba basah. Lalu dia menoleh dan melihat Quinne.


"Putri!! apakah kamu baik-baik saja?" cemas si Ella.


'ahhaha memangnya aku kenapa ' gumam Quinne. " maaf Ella sudah membuat kamu khawatir, saya baik. Ella maaf ya jadi basah wajah kamu "


"tidak apa-apa " ucap Ella sembari mengusap wajah menggunakan sebuah lap.


"Ella kita harus ke aula sekarang "ucap Quinne.


"Eh.. memangnya ada apa?" jawab Ella.


"Sudah aku juga tidak tahu" ucap Quinne sambil berjalan keluar dari kamar Ella.


......................


Di aula istana semua orang sudah berkumpul, Hendrik sang raja menyuruh putrinya Zennya untuk mencari gadis yang kemarin bertemu dengan nya.


" Ayah, dia yang aku maksud " Zennya bicara.


'Oh.... rupanya begini wajah ayah ku ' gumam Quinne sembari melihat wajah Hendrik.


"Ayah! Apa kabar?" tanya Quinne yang membuat semua orang terkejut termasuk Zennya.


"Kamu!! berani sekali memanggil raja menjadi ayahmu" ucap Zennya yang tampak emosi.


"memangnya kenapa raja itu ayah ku " ucap Quinne.


Melihat hal itu Hendrik memanggil asisten pribadi nya "hmm... Forgan, Kemari lah" ucap Hendrik kepada Forgan yang berada di belakang barisan anak kecil tadi.


Forgan yang mendengar itu seketika berjalan ke arah sang raja, sesampainya di depan raja dia memberi hormat dengan membungkuk kan sedikit badannya.

__ADS_1


"Ada apa yang mulia?" tanya Forgan.


"Bangun lah ada yang ingin aku tanyakan!!"


Forgan langsung membenarkan diri dan berdiri tegap. "Silahkan yang mulia ".


"Forgan aku ingin tahu siapa ibu dari anak itu " Anak itu adalah Quinne.


"Dia..."


' Jangan bilang Paman ini tidak ingat padaku, aku harus bertindak cepat ' gumam Quinne melihat Forgan yang kebingungan.


"Eh... Paman yang kemarin membawa ku kesini ya?" ucap Quinne dengan senyum nya.


'Kemarin.... astaga..!!!' batin Forgan yang baru saja ingat akan sesuatu.


"yang mulia maafkan saya karena belum memberitahu bahwa putri sudah kembali "


"Tidak apa-apa, kamu jawab saja siapa ibu gadis itu," Hendrik masih menanyakan hal itu.


"yang mulia putri yang saya maksud ada di depan mu, putri Quinne. " Forgan bicara.


Semua orang yang berada disana sangat terkejut apalagi Zennya yang berada di samping Quinne.


"..... Forgan


Belum selesai Hendrik bicara tetapi Forgan memotong pembicaraan nya.


"yang mulia saya siap menerima hukuman dari anda, karena sudah melakukan kesalahan " ucap Forgan dengan nada rendah.


"Tidak ada hukuman untuk mu, anggap saja ini keberuntungan. dan saya harap kamu bisa menjadi pengawal pribadi putri Quinne "


"terimakasih yang mulia, saya pasti akan menjaga putri dengan sepenuh jiwa "

__ADS_1


Ucapan Forgan hampir membuat Quinne tertawa, untungnya dia bisa menahan nya.


' Aduh seharusnya dia tidak mengatakan sepenuh jiwa entah mengapa itu terdengar lucu' gumam Quinne....


__ADS_2