Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 40


__ADS_3

Juve membuat sebuah mahkota bunga yang indah, tujuannya pun diberikan kepada ibunya sebagai hadiah.


"ng?".


ia melihat ke arah ibu dan ayahnya yang sepertinya sedang berdebat.


"mereka berdua sedang membicarakan apa ya?" pikirnya.


"ya apa peduliku" gumamnya.


tubuh Juve mengeluarkan cahaya dan juga tubuhnya tampak memudar. mengetahui hal itu, ia langsung berlari menuju Juven.


Sementara Juven~


"perkataanmu barusan itu tidak bisa dijadikan candaan. jika Juve mendengarkannya, perasaannya akan hancur lebur" kata Juven.


"iya, aku janji tidak akan melakukan itu lagi" sahut Lily yang tersenyum.


Sriing...


"kau sudah mau pergi?" tanya Lily.


"ayah!" teriak Juve.


Drap... Drap...


Juve berlari cukup cepat dan sudah sampai di tempat ayah dan ibunya.


"kau juga?" tanya Lily.


"tapi, tidak bisakah kau membiarkan Juve disini dulu?" tanya Lily lagi.


"tidak bisa, Lily. aku dan Juve datang kemari bersamaan. karena itulah, aku dan Juve sama-sama memiliki waktu terbatasnya" jawab Juven.


"padahal, aku belum berbicara banyak dengan Juve. tapi kalau sudah begini, mau bagaimana lagi".


Juven juga sebenarnya tidak rela untuk pergi, ia juga ingin membiarkan Juve disini untuk berbicara dengan ibunya.


namun—


"aku akan mengirim Juve kemari lagi nanti, tapi aku tidak akan ikut bersamanya" kata Juven.


"apa itu benar?" tanya Juve.


"iyaa".


Juven memeluk Juve dengan erat. tapi, Juve melepaskan pelukannya dan pergi memeluk Lily.


"Juve, ibu akan menunggu kedatanganmu untuk yang kedua kalinya nanti" kata Lily yang meneteskan air matanya dan itu dilihat oleh Juven serta dirasakan oleh Juve.


tubuh kedua orang itu langsung menghilang begitu saja. Lily yang memeluk Juve, hampir saja jatuh karena tidak ada lagi orang di pelukannya.


Lily tersungkur dan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"aku sangat senang bisa bertemu denganmu. bahkan pada akhirnya bisa melihatmu tumbuh besar dalam asuhan ayahmu. betapa senangnya hatiku melihatmu" kata Lily yang berusaha tersenyum.


meskipun demikian, tangisannya tetap saja tidak dapat ditahannya.


Di dunia JJ~


"tuan putri" panggil Nadia.


"sudah lama ya.. bagaimana keadaan keluargamu?" tanya Juve.


"mereka baik-baik saja. uang bulanan saya, diberikan kepada keluarga saya disana" jawab Nadia sambil tersenyum lebar.


Nadia baru saja kembali dari kampung halamannya dan juga ia harus menjenguk ibunya yang sedang sakit, sekaligus mengunjungi makam ayahnya.


"syukurlah kalau mereka baik-baik saja. keadaan ibumu juga bagaimana?" tanya Juve.


"ibu sudah sehat dan juga sudah bisa beraktivitas seperti biasa" jawab Nadia.


"ya sudah, kembalilah melakukan pekerjaanmu. aku mau pergi ke suatu tempat dulu".


Juve pergi bersama Azel ke sebuah padang bunga. pemandangan bunga-bunga yang bermekaran dari berbagai jenisnya.


"ng? itu Heli?" pikir Juve.


"tuan putri, saya pergi petik bunga di sana dan putri disini" kata Azel sambil menunjuk ke tempat ia akan pergi.


"iya iya, sesuai perkataan kutadi" sahut Juve.


Azel pergi ke tempat yang ia tunjukan tadi. Juve mulai memetik bunga yang ingin ia petik.


"aku bebas berada dimana saja, apa yang kulakukan disini bukan urusanmu" jawab Juve.


"ingatlah, dia bukan milikmu lagi" pikir Juve yang berusaha untuk menenangkan dirinya.


"aku sudah berpisah dengannya" kata Heli.


"lalu apa urusannya denganku?" tanya Juve.


"aku ingin kita kembali lagi seperti dulu" jawab Heli.


"ck, kau yang meninggalkan ku duluan. lebih baik, lupakan aku" kata Juve yang langsung berlari.


Heli juga turut mengejar Juve. Azel yang sedang asik memetik bunga, teralihkan oleh Juve yang berlarian. ia melihat bahwa Heli turut mengejarnya.


Juve yang terus berlari tanpa sadar bahwa ada batu didekatnya. ia tersandung batu itu, Heli hendak menangkap Juve terlebih dahulu, tapi itu gagal karena Azel yang berhasil menangkap Juve terlebih dahulu.


"anda baik-baik saja?" tanya Azel.


wajah Juve menjadi merah, baru kali ini ia ditangkap oleh Azel. meskipun sudah beberapa kali, tapi itu di gendong.


"a-aku baik-baik saja" jawab Juve yang terbata.


Azel membantu Juve berdiri dengan benar. Juve melihat ke arah Heli, karena kejadian barusan terlihat bahwa Heli cemburu.

__ADS_1


"Juve, kenapa kau selalu tampak dekat dengannya?" tanya Heli yang menahan emosinya.


"bukan tampak, tapi memang dekat sejak lama" jawab Juve sambil tersenyum.


"aku memilih orang yang akan tetap ada di sampingku selamanya. kau kan bukan orang yang bisa tetap berada di sampingku untuk selamanya, lebih baik aku memilihnya saja" kata Juve.


perkataan yang sempurna, namun menyakitkan bagi Heli.


"tapi, aku bisa memberikan harapan baru! aku meminta berbaikan sebagai permohonan maaf ku. jadi kumohon, kembalilah" kata Heli.


'apa-apaan ini?! kenapa cara bicaranya sepertinya orang-orang muda di duniaku yang lama?' tanya Juve dalam hati.


'eh lupa kalau dia juga orang yang datang dari dunia modern' katanya dalam hati.


"perkataanmu itu bisa menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang baru berpacaran tapi dihentikan, lalu kembali lagi. tapi aku, tidak semudah itu untuk dipermainkan" kata Juve.


Juve menjentikkan jarinya.


Tik..


Juve menjentikkan jarinya di kepala Heli untuk membuatnya sadar.


"ingatlah Heli. sekali kau meninggalkan seseorang, jangan harap ia juga akan kembali padamu apabila suatu saat nanti kau memohon untuk kembali padanya" kata Juve.


"kau yang memutuskan hubungan denganku. jadi, mau aku dekat dengan laki-laki manapun, itu bukanlah urusanmu lagi dan kau tidak pantas cemburu atas perbuatanku itu" kata Juve.


"aku tidak akan pernah kembali padamu".


setelah selesai mengatakan perkataan terakhirnya, ia menarik tangan Azel dan membawanya pergi.


"akhirnya aku tidak lagi jadi pengusir nyamuk, lalat dan serangga menjengkelkan lainnya" pikir Azel sambil tersenyum.


Azel menoleh ke belakang dan melihat ke arah Heli yang diam mematung.


"entah kenapa, setiap kali kita pergi ke tempat yang menyajikan pemandangan indah begini, selalu saja ada dia" kata Azel.


"aku juga tidak tahu tapi yang pastinya, selama ada kau, aku Akan merasa aman selalu" sahutnya.


Juve dan Azel memutuskan untuk pergi ke bukit. dari atas bukit, tampak begitu indah pemandangannya karena mencakup seluruh area.


Juve menaruh kepalanya dipaha Azel. sementara Azel hanya diam saja.


"alangkah indahnya jika kita dapat menumbuhkan perasaan yang mendebarkan lagi bahkan lebih lagi" pikir Juve.


"jujur saja, aku sangat senang karena kau dipilih oleh ayah sebagai penjagaku ditambah lagi kau sangat cocok dijadikan sebagai temanku. yah, meskipun terkadang kita sibuk dengan urusan kita masing-masing" kata Juve sambil tersenyum.


Juve memandangi langit-langit dan awan dengan berbagai bentuknya yang unik.


"aku ingin seperti ini, untuk selamanya" kata Juve yang memejamkan matanya.


"aku yakin, kita benar-benar akan bersama. hanya tinggal menunggu waktunya untuk menyatakannya saja" pikir Azel.


angin berhembus sepoi-sepoi, membuat dedaunan berterbangan dan juga membuat rambut Azel bergerak.

__ADS_1


“sungguh ketampanan imajinasi yang indah“ kata author.


TO BE CONTINUED~


__ADS_2