
Malam harinya, perasaan Juve masih kacau. Pikirannya juga bagaikan benang kusut. Mengingat kejadian siang tadi, Juve menyesali perbuatannya yang sampai membuat Azel terluka, sementara Azel hanya membuat Juve menjauhinya.
"Aku harap bisa bertemu dengannya di mimpi" pikirnya yang penuh dengan harapan yang tinggi.
Jam telah menunjukkan pukul 10 malam, ia benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan itu.
"Mau tidak mau harus menggunakan cara itu" pikir Juve yang turun dari kasurnya.
Ia pun berjalan keluar kamar menggunakan piyamanya dan berjalan menuju ruang tempat dirinya serta Jeyve berlatih.
Begitu sampai disana, ia menggunakan sihirnya agar bisa bertemu dengan Azel lewat mimpi.
"Aku harap bahwa ini cara satu-satunya membuatnya kembali" kata Juve yang memejamkan matanya dan menggenggam tangannya seperti orang berdoa.
Sriing..
Lingkaran sihir berwarna putih muncul dibawah dirinya yang sedang berlutut. Ini adalah sihir yang sangat langka karena tidak seorang keturunan Algeria yang memiliki kemampuan untuk mendatangi orang lewat mimpi layaknya lucid dream, hanya saja kekuatan ini bertuju kepada titik alam bawah sadar seseorang dan membuat orang tersebut tergerak hatinya untuk kembali, mendekati, atau mungkin menjauh.
Juve sampai di titik alam bawah sadar Azel dan dilihatnya juga kegelapan yang menyelimuti tempat itu. Juve merasa bahwa tempat ini dipenuhi oleh ketakutan dan trauma, tidak ada satupun cahaya berwarna putih terang yang ada disitu. Semuanya dipenuhi oleh warna gelap dan ungu yang bergerak bergelombang.
Juve keringat dingin melihat pemandangan itu. Ditambah lagi, ia juga mendengar suara jeritan yang terdengar begitu sangat menderita dan juga tersiksa.
Ia tetap berjalan maju mencari Azel meskipun tubuhnya gemetaran akibat mendengarkan jeritan penuh penderitaan tersebut.
"Ayolah! Kau ada dimana?" Tanya Juve dalam hatinya.
"Aku pikir hanya jiwaku yang ke sini, tapi tidak disangka kalau badanku juga ikut. Kalau tahu begini, aku akan mengganti pakaianku. Padahal ini bukan pertama kalinya aku menemui Azel dengan menggunakan piyama. Malahan keseringan sampai melakukan hubungan itu" kata Juve pada dirinya sendiri dengan wajahnya yang memerah karena mengingat tindakan yang dilakukannya bersama Azel.
♪♪♪♪
Juve mendengar suara senandung kecil didepannya dan ia kenal sekali dengan suara itu. Memangnya siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri, Azel.
__ADS_1
"Azel!" Panggil Juve yang berlari menuju Azel.
Azel yang sedang berdiri menatap gelombang yang menyakitkan itu sambil bersenandung kecil, membalikkan badannya dan melihat Juve yang ada didalam dirinya.
"Ayo kita pulang! Jangan berada disini.. ini bukan tempatmu!" Kata Juve yang berhenti dan menjaga jaraknya dengan Azel karena ada kemungkinan kalau Azel akan menyerangnya.
"Buat apa aku pulang? Toh Aku hanya akan melukai hati orang itu" kata Azel yang menundukkan kepalanya dan tersenyum.
Juve mengepalkan tangannya dan ingin sekali dirinya menghajar Azel, ditambah lagi ia juga merasa sedih karena melihat senyuman Azel yang penuh kesedihan dan juga rasa bersalah sebesar itu.
"Haaah, aku terlalu lelah karena memikirkan itu sampai lupa kalau yang ku lihat ini hanyalah mimpi" kata Azel yang mengangkat kepalanya sambil menghela nafas.
Juve menentang perkataan Azel bahwa yang dilihat oleh Azel itu bukanlah mimpi.
"Ini bukan mimpi, Azel! Ini benar-benar aku! Aku menggunakan sihir ku untuk mendatangimu karena aku benar-benar salah! Dan ingin membawamu kembali pulang kepadaku!" Kata Juve yang tidak peduli jika dirinya membongkar rahasia tersebut.
Air matanya juga tidak dapat ditahannya. Juve sangat kuat untuk menyakinkan bahwa ia mendatangi Azel.
"Aku akan membuktikan kalau ini bukan mimpi" kata Juve.
Juve mengumpulkan semua rambutnya, kemudian diarahkannya perhiasan setajam pisau tersebut ke rambutnya.
Sreek...
Rambutnya yang panjang berubah menjadi sebahunya. Ia memegangi potongan rambutnya yang panjang dan juga hanya bisa memandangi rambutnya yang berjatuhan di bawah kakinya.
Azel diam mematung dengan wajah terkejut melihat Juve memotong rambutnya hingga sependek itu.
Juve berlari memeluk Azel sambil menangis dalam pelukannya.
"Aku menyesal karena berbuat seperti itu. Jadi, kumohon kembalilah kepadaku dan pulanglah, Anak-anak mencari mu" mohon Juve sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Kau terluka karena aku, makanya aku datang kemari untuk meminta maaf secara langsung kepadamu dan tolonglah pulang" kata Juve.
"Aku katakan sekali lagi kalau ini bukanlah mimpi, aku datang secara langsung ke alam bawah sadarmu dan kau bisa membuktikannya sendiri besok karena buktinya ialah rambutku ini. Potongannya juga harus kau perhatikan sebaik-baiknya" kata Juve.
Juve melepaskan pelukannya dan menatap Azel. Ia terkejut melihat Azel menitikkan air mata, baru kali ini ia melihat orang yang sangat kuat, tegar dan dicintainya bisa menangis seperti itu.
"... Kau itu kuat" senyum Juve.
Perlahan-lahan, dinding dengan warna bergelombang itu menghilang dari pandangan keduanya. Juve kagum melihat pemandangan itu.
Dan juga, warna putih terang mulai terlihat. Juve merasakan adanya angin yang menerpa wajahnya dan membuat rambutnya yang pendek itu bergerak.
Kelopak bunga berterbangan diatas keduanya. Pijakannya juga berubah menjadi tanah yang dihiasi oleh rerumputan dan bunga-bunga yang bermekaran dengan cantiknya.
"Uwooh" kagum Juve dengan mata yang berbinar-binar.
Juve kembali menatap Azel yang diam mematung.
"Aku tidak tahu masa lalu seperti apa yang kau lewati. Kau sangat menderita melewati semua itu dan jeritan mu meminta pertolongan dengan putus asa selalu terngiang-ngiang di benakku" kata Juve yang duduk di tanah tersebut.
Ia menarik tangan Azel agar mau duduk dan berbaring di pangkuannya. Azel melihat dengan mata kosongnya dan ia menurutinya seperti apa yang diinginkan oleh Juve.
"Begitu kau keluar dari tempat penderitaan itu dan bertemu denganku, apa yang kau rasakan?" Tanya Juve sambil memainkan rambut Azel.
"Apa yang aku rasakan?" Tanya Azel berbalik padanya.
"Iya~".
"Aku merasa seperti kehidupan baru telah muncul padaku. Begitu aku melihatmu, aku berpikir bahwa mungkin ini adalah kesempatan bagiku untuk mengubah masa laluku yang kelam dan penuh dengan ketakutan itu. Hingga akhirnya, kita menikah dan memiliki anak, aku merasa bahwa memang inilah kehidupan yang aku dambakan dalam kurungan kegelapan itu" jawabnya sambil tersenyum.
"Begitu rupanya. Aku harap setidaknya kau bisa melupakan itu karena sekarang ini ada aku, Jeyve, Azelhy dan Azelhya di sisimu yang akan selalu berada di dekatmu dalam suka maupun duka" kata Juve.
__ADS_1
"Saat kehidupan ku di dunia modern, mantan ku pernah mengatakan hal yang sama bahwa aku memiliki dirinya yang akan selalu bersama denganku baik suka maupun duka. Padahal dia juga yang pada akhirnya meninggalkan ku" kata Juve dalam hati.
"Ingatlah, kita adalah pasangan suami istri dan ibu ayah. Kita ini adalah keluarga" kata Juve yang mengecup kening Azel.