Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Siapa dia ?


__ADS_3

Setelah memasuki perusahaan itu, Meery berjalan menghampiri dua orang Resepsionis. Dengan rambut di kuncir kuda dan lengkap dengan kacamata bulat nya. Berjalan kesana membuat nya gemetar entah apa yang dikatakan orang-orang.


" Permisi kak saya boleh tanya? " ucap Meery.


" ... eh kakak mau melamar kerja? kebetulan dari 2 hari lalu ada peluang dari perusahaan yang membutuhkan karyawan, tetapi magang kak ! " ucap seorang resepsionis.


" Tapi kan itu .... " seorang wanita disamping nya berbisik.


" hm... boleh kak " ucap Meery kemudian. yang di inginkan nya pekerjaan magang seperti ini, yah dia pikir nanti saat pergi ke ibu kota dia tidak seperti orang tidak mengenal fashion, hanya memakai beberapa dres itu itu saja.


" Anu... kak.. ehm pekerjaan nya ngga ada kak " ucap wanita kemudian, padahal baru saja ia katakan ada !.


" Ha... ? " Meery bingung dengan apa yang dibicarakan resepsionis itu. sebentar ada sebentar lagi tidak ada.


" Mengapa? " tanya nya penuh selidik.


"Itu ... sebenarnya hanya tinggal 4 hari lagi... jadi... " ucap wanita disamping wanita yang tadi.


" Kalau di izinkan saya akan menerima nya dengan penuh tanggung jawab juga saya bisa pastikan pekerjaan nya berjalan lancar. " ucap Meery meyakinkan kedua resepsionis itu.


Kedua nya saling pandang hingga akhirnya menyetujui nya. Mereka berdua kemudian mengangguk kecil.


" Baiklah kak kalau begitu kakak bisa langsung pergi ke tempat pekerjaan nya, saya akan memberitahu manajer Zi dulu. Anda bisa menunggu di ruang tunggu dulu. "


...****************...


Di sebuah ruang yang menggunakan kaca transparan di sisi nya. Meery sedang menulis sesuatu. Ia membaca kembali tulisan di kertas itu.


" Baik... ini cukup " Meery mengangkat tangannya yang sedang memegang kertas.


Drap... Drap...


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Wajah tampan nan berseri itu kembali muncul dalam pikiran nya. Pria yang hampir satu bulan tidak bertemu dengan nya, suaminya.

__ADS_1


Wajah serius dan tegas terpancar dari dirinya. Meery memandang lekat suaminya dia ingin mengingat momen ini. hah andai saja mereka menikah karena cinta mungkin dia akan melewati hari yang bahagia. Arkkhh ...mana mungkin itu terjadi. Meery melihat Alvin berjalan tanpa sadar seseorang berada di belakangnya.


Plak...


Seseorang menepuk bahu nya membuat dirinya kaget bukan main.


" Ahkh... " Meery segera berbalik. Seorang wanita yang terlihat lebih tua berada di hadapan nya.


" hm... maaf nona saya hanya mengingat kan sebaiknya jangan terlalu intens menatap tuan direktur, beliau tidak akan menyukai nya " ucap wanita paruh baya itu.


" Ah. saya tidak bermaksud begitu, permisi " Meery segera mengambil kertas di meja itu kemudian pergi melewati wanita itu.


Pikiran nya sungguh kacau, mengapa rasanya ada yang mengganjal di hatinya. ucapan tidak suka yang baru saja dikatakan wanita itu masih belum di lupakan nya. Hingga tiba di ruangan HRD . Tenaga nya dibutuhkan, dia sudah pasti di terima.


...****************...


Meery berjalan begitu langkah seorang karyawan dan akhirnya berhenti pada suatu ruangan. " Nona ini ruang kerja anda, saya permisi " ucap nya kemudian pergi.


Ruangan ini terletak pada lantai tiga. Rasa penasaran menjalar di pikiran Meery, ia langsung membuka pintu tersebut. Di lihat nya ruangan itu banyak tanaman yang menghiasi ruangan nya. Dan tiba-tiba saja kursi di sana berbalik dan menampilkan sosok seorang pria.


" Maaf kan saya " Meery menundukkan kepalanya.


" .... bacalah berkas itu . Tugas pertama mu akan mempresentasi kan proyek ini kepada tuan direktur. Ini biasa dilakukan, meeting mingguan . " ucap pria dengan ketus.


" Saya manajer bagian A di perusahaan ini, Rion Zi . Tuan direktur mempercayakan proyek ini kepada saya. Saya memiliki tanggung jawab besar akan proyek ini, jadi lakukan lah tugas mu dengan baik jangan seperti asisten lama yang sedang libur itu. Ingat lah aku manajer bagian A " ucap pria bernama Rion itu.


Meery diam-diam mulai berpikir bahwa sifat pria itu terlalu semena mena padahal ada orang yang lebih berkuasa darinya, dia malah seperti sedang membanggakan jabatan manajer nya itu.


Meery hanya mengangguk pelan kemudian mengambil berkas tersebut. " Sebentar! " ucap pria itu kemudian . Meery menatap bingung.


" Ini .... " ucap pria itu menyerahkan sebuah berkas. Meery bertanya tanya pada dirinya apakah ini juga yang harus di presentasi kan nya ?.


" Baik pak " ucap Meery kemudian mengambil berkas lainnya.

__ADS_1


" Berikan itu kepada tuan direktur " Meery langsung terkejut mendengar nya. Berarti berkas ini untuk ditandatangani atau apa .


" Jangan membuat kesalahan! ingat itu! " Meery sempat berpikir bahwa pria ini sedang mengingatkan nya betapa mengerikan nya suami yang ketampanan nya selalu di puja-puja oleh Meery.


Meery berjalan keluar sembari membawa dua berkas tersebut. pikiran nya kacau, bagaimana dia harus menyerahkan berkas itu tanpa bertemu dengan si direktur? bagaimana kalau pria itu tahu dia istri nya? bagaimana jika ... Arkkhh. Kacau sudah.


" Jika tidak salah ingat tadi kan si direktur sedang keluar, jadi aku hanya perlu meletakkan berkas ini kemudian pergi " batin Meery.


......................


Benar dugaan nya Si Direktur belum kembali. Dengan santai nya Meery berjalan dan meletakkan berkas itu di meja sebelum itu ia sempat memeriksa bahwa apakah benar berkas ini yang harus diberikan nya atau tertukar.


Melihat tidak ada siapapun disana Meery jadi ingin duduk di kursi kebesaran suaminya itu. Kepalanya mulai celingak celinguk memastikan benar-benar tidak ada orang disana. Setelah itu dia mulai duduk perlahan di kursi itu.


" Kursi ini bisa berputar kan ? " gumam Meery kemudian mulai menjalankan aksi nya itu. berputar dan berputar membuat penglihatan sedikit kabur hingga akhirnya ia menghentikan putaran kursi itu tepat di depan pintu.


Pintu segera terbuka sebelum kursi itu berhenti bahkan Meery pun tidak mengetahui nya. Sosok pemuda itu berdiri di hadapan nya. Wajah nya memerah karena malu. Perlahan lahan Meery beranjak dari kursi itu kemudian menundukkan kepalanya.


" Maafkan saya tuan, saya sudah Lancang " ucap Meery sedikit bergetar. Air bening mulai mengintip dari sudut matanya. Sungguh hal ini tidak di nantikan ya, tadinya ia berpikir untuk duduk sejenak namun karena kursi itu malah terbawa suasana.


" Siapa kau !! " ucap asisten nya Alvin.


Alvin memberi isyarat agar asisten nya meninggalkan nya. Tanpa Penolakan akhirnya sang asisten itu pun pergi dan menyisakan kedua orang tersebut. Alvin berjalan mendekat kemudian memegang tangannya Meery. Sehingga wajah nya terlihat.


" Mengapa kamu ada disini? " tanya Alvin. Juga tatapan yang penuh selidik menyertai nya.


" Aku ... " .....


Maaf atas update yang tidak pasti. 🙏🏻


Jangan lupa beri like dan komen nya ya untuk penyemangat Author. Terimakasih


~Michael Nelisa

__ADS_1


.....................


__ADS_2