
"hari ini kenapa Baginda tidak keluar dari kamarnya?".
"entahlah, kudengar kalau semalam ada bunyi dentuman keras diruangan Baginda. mungkin saja Baginda melatih tuan putri cara menggunakan sihir".
Lucas yang berjalan dari kamar menuju dapur hanya bisa menguping pembicaraan 2 pelayan barusan.
karena peristiwa semalam cukup mengerikan juga.
matahari pagi menyinari Algeria dengan kehangatannya. aktivitas rakyat Algeria mulai bergerak.
Juve juga tampak sedang bersantai di tamannya. ia duduk sambil menyusun kembali barangnya semalam yang dibuat berantakan oleh ayahnya.
"haah.. aku tidak bisa menyusunnya kembali" kata Juve yang mengeluh.
"aku harus minta bantuan siapa untuk menyusunnya?" tanya Juve.
"kenapa tidak minta tolong pada Haast saja" pikir Juve.
Juve menyusun itu sebelumnya juga bersama Haast. kali ini, dia juga akan menyusunnya kembali bersama Haast.
Ditempat Haast~
"U20 \= 20.000 + (20-1) 30.000 \=20.000 + 19 x 30.000 \=20.000 + 570 \= 590".
Haast tampaknya sedang mengerjakan hitungan agar ia tidak bosan dan tidak hanya tidur setiap saat. sebuah cahaya yang terang tampaknya menyinari masuk ke dalam sangkar Haast, ia melihatnya dan tampak Juve yang datang membawakan barang antik itu lagi.
"ada apa, Juve?" tanya Haast.
"bisakah kau membantuku menyusun ini lagi?" tanya balik Juve.
"baiklah".
25 menit lamanya, Juve dan Haast berhasil menyusun barang itu lagi.
"aku ingin bertanya 1 hal" kata Haast.
"apa?" tanya Juve.
"kenapa itu bisa berantakan dan tidak beraturan begitu? kalau kau yang melakukannya, mustahil sekali" tanya Haast sembari berpikir bahwa tidak mungkin Juve membuat berantakan.
"ayah yang melakukannya" jawab Juve.
"kuharap kau tidak melakukan apa-apa pada ayahmu karena marah" kata Haast.
"tanpa sadar aku hampir membunuh ayah semalam".
"apa?!".
berpindah tempat, kali ini tampaknya keluarga Victory sedang tidak baik-baik saja.
"Adelio! Adelia!".
Duaakk...
satu pukulan keras menghantam tanah hingga membuat lubang yang besar diarena latihan. Adelio dan Adelia yang melihat itu menjadi murung.
Adelio menatap sedih ke arah ibunya dan Adelia berkaca-kaca seakan ingin menangis.
Kayla tidak henti-hentinya menatap penuh amarah kepada kedua anak kembarnya.
Sebelumnya~
hari ini, Kayla dimintai oleh Andy untuk menggantikan dirinya melatih anak-anak. Andy harus pergi melakukan pertemuan dengan bangsawan dari negara tetangga yang meminta pengajuan kerja sama.
keadaan saat ini masih jam 5 pagi. Andy harus cepat karena jika dia berangkat jam 9 maka sampainya jam 4 sore, hal itu dikarenakan ia harus berangkat menggunakan kereta kuda kemudian menaiki kapal.
pada akhirnya, ia meminta agar Kayla mau melatih anak-anak. tapi Kayla mengatakan kalau dia ada urusan lain.
"tapi Andy! aku ada urusan lain, aku tidak bisa menyempatkan waktuku untuk melatih mereka" kata Kayla.
"Kayla, kau kan jarang meluangkan waktumu dengan anak-anak karena kesibukanmu. ini adalah kesempatanmu untuk mendekatkan dirimu dengan keduanya" kata Andy yang mencoba agar Kayla tidak jadi pergi.
"lalu apa gunanya prajurit kita? mereka kan bisa diandalkan untuk melatih anak-anak!" Kayla tetap bersikeras untuk pergi dan tidak ingin melatih Adelio dan Adelia.
Andy menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah Kayla. ia pun membalikkan badannya dan melayangkan pukulannya.
Andy tidak berniat untuk memukul Kayla, tapi sebagai peringatan, ia memukul tembok. Kayla yang melihat itu menjadi gemetar ketakutan.
"hiiy".
__ADS_1
Andy dikatakan sebagai seorang prajurit setia semasa ia belum menjadi Marquis dan raja sekarang ini. di peperangan, ia dikenal sebagai si tinju mematikan.
jika Andy melayangkan pukulannya ke arah musuh, pukulannya sanggup membunuh 500 orang.
"apa yang kukatakan terkait dengan anak-anak harus kau patuhi, Kayla. anak-anak yang sudah lama tidak kau temui, ini adalah waktumu untuk meluangkan waktu dengan berlatih dan bermain bersama Adelio dan Adelia" kata Andy yang tidak bisa lagi menahan emosinya.
Andy segera berangkat menuju tempat yang ditujunya. Kayla terpaksa menunda kedatangannya ke Algeria karena Adelio dan Adelia.
Kayla menoleh ke belakang dan mendapati keduanya sudah bangun.
"selamat pagi, bu" sapa Adelia.
Kayla hanya diam membisu seribu bahasa, ia sama sekali tidak menjawab sapaan Adelia.
"Adelia, lebih baik kita pergi saja dari sini".
Adelio telepati dengan Adelia dan segera membawanya pergi.
"sialan... padahal aku sudah merencanakan hari ini.." gumam Kayla.
"Yang Mulia Ratu.." panggil pelayan.
"apa?" tanya Kayla.
"anda diminta untuk segera ke kota, karena ada yang harus anda urus" jawab pelayan.
"baik, tapi aku harus pergi menemui anak-anak dulu" kata Kayla yang setuju untuk pergi, tidak seperti biasanya ia menolaknya.
pelayan itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Kayla sendirian.
setelah berganti pakaian, Kayla benar-benar pergi pada Adelio dan Adelia. dikamar keduanya, Kayla mendapati bahwa anak-anaknya sedang membaca buku-buku.
ia memberanikan diri untuk bertanya kepada keduanya.
"kalian latihan biasanya jam berapa?" tanya Kayla.
"kami latihan jam 9 pagi" jawab Adelio.
"mereka tidak menanyakan 'kenapa'. itu artinya mereka tahu kalau Andy tidak ada disini?" pikir Kayla.
"tumben sekali ibu menanyakan hal itu, biasa acuh saja pada kami berdua. yah, tidak penting sih" kata Adelio dan perkataannya membuat Kayla tidak bisa berkata-kata lagi.
"ibu ada urusan di kota kan, jadi pergilah dan harus datang sebelum jam 9" kata Adelia.
"aku heran dengan ibu. bukankah sebelumnya dia perhatian pada kita? kenapa sekarang berbeda?".
"*aku rasa ibu sedang stress saja".
"apa mungkin karena ibu ingin pergi menemui paman Juven tapi tidak jadi karena ayah menyuruh ibu untuk melatih kita?".
"ibu adalah seorang wanita yang hebat dalam menggunakan pedang, terlebih pukulannya yang sangat kuat".
"akan lebih baik kau berhenti sementara mengagumi ibu, Adelia".
"kenapa?".
"bukan apa-apa, untuk sementara kita cari aman dulu*".
Jam 9 Kemudian.
ketiganya sudah menggunakan pakaian latihannya masing-masing. Adelio dan Adelia nampaknya sudah menyadari bahwa ibunya akan melatih mereka dengan keras dan tanpa ampun.
"*Adelio, aku takut..".
"jangan takut, Adelia. tetaplah ingat kita siapa".
"maksudmu kita berdua harus menggunakan teknik kasar itu? bagaimana kalau ibu terluka?".
"jangan khawatir, aku jamin itu tidak akan terjadi*".
Klaang..
ketiganya berlatih menggunakan pedang asli, latihan ini hanya terjadi jika bersama ibunya, tapi kalau dengan ayahnya pastinya akan menggunakan pedang kayu.
"mereka sekuat ini?!" tanya Kayla dalam hati.
Kayla tidak menyadari selama ini mengenai kekuatan Adelio dan Adelia.
Kayla menyerah untuk melanjutkan latihannya, Adelio dan Adelia menunjukkan wajah ketidakpuasannya. biarpun ayahnya juga sering dibuat kewalahan oleh kekuatan fisik mereka, itu tidak menyurutkan langkah ayahnya yang ingin menjadikan keduanya sebagai bintang harapan Victory.
__ADS_1
"aku tidak percaya kalau latihan dengan ibu jadi begini" kata Adelia yang menunjukkan rasa kecewanya.
"kalau latihan dengan ayah pasti tidak begini" kata Adelio dan diangguki Adelia yang setuju dengan perkataan Adelio.
"ibu tidak sanggup melawan kekuatan fisik kalian yang sekuat itu" kata Kayla yang memberikan alasannya.
"bukankah ibu kuat? kenapa malah tidak sanggup?" tanya Adelia.
"aku jadi ragu..." kata Adelio.
"apakah ibu ini benar-benar ibu yang kami kenal?" tanya Adelio.
hal ini membuat emosi Kayla terpancing. ia menatap sinis pada kedua anaknya.
Kayla melayangkan pukulannya, sama seperti Andy, Kayla tidak berani memukul anak-anaknya.
"Adelio! Adelia!".
Duuakk...
pukulan keras itu, dibenturkannya ke tanah sehingga membuat lubang besar diarena latihan.
"diamlah sialan!".
"ibu ini benar-benar ibu kalian! jadi jangan berbicara yang tidak-tidak!" kata Kayla yang meluapkan amarahnya.
Adelio menatap sedih kearah ibunya dan Adelia berkaca-kaca ingin menangis karena hal itu.
Kayla dibuat sadar oleh tatapan Adelio dan Adelia. Kayla pun menyesali perbuatannya itu terlebih perkataannya tadi.
"maafkan ibu. ibu terlalu marah pada kalian dan maaf sudah berbicara kasar pada kalian berdua" kata Kayla yang meminta maaf.
"kami akan memaafkan ibu kalau ibu melakukan 'itu' seperti yang ayah lakukan jika dia berbuat salah pada kami" kata Adelio.
"'itu'?" bingung Kayla yang berpikir.
Kayla mencoba mengingat kembali saat ia dan Andy masih berpacaran. hari itu, Andy mengatakan perkataan kasar di depan Kayla ketika ia sedang berdebat dengan orang tuanya.
ketika ia melihat Kayla yang menatap sedih dan berkaca-kaca, Andy meletakkan tangannya di kepala Kayla sambil tersenyum lebar.
"maafkan aku, Kayla".
Kayla pun meletakkan tangannya diatas kepala kedua anaknya dan tersenyum sambil mengatakan permintaan maafnya.
"maafkan ibu, Adelio".
"maafkan ibu, Adelia".
keduanya menanggapi hal itu dengan tersenyum.
tiba-tiba saja aura api yang membara terasa dibelakang Kayla. yakni, api kemarahan.
Kayla menoleh ke belakang dan membalikkan badannya.
"Andy, kenapa kau pulang?" tanya Kayla yang takut.
Kayla tidak berani marah dihadapan Andy, karena dia tahu sekali dirinya marah dan membuat Andy marah, maka habislah sudah dirinya.
"aku tidak jadi ke negara tetangga karena ternyata mereka menunggu di penginapan dan aku menerima pengajuan kerja sama itu" jawab Andy.
"Kayla.." panggil Andy.
"ya..?" tanya Kayla yang sudah merasakan amarah pada Andy.
"selama ini, aku tidak pernah marah Adelio dan Adelia karena mereka adalah anak yang patuh. tapi kenapa kau malah membuatnya marah?!" tanya Andy yang menatap tajam kearah Kayla.
"apa karena kau tidak jadi pergi?" tanya Andy lagi.
"ti-tidak, Andy.. bukan karena itu" jawab Kayla.
"sebagai hukumannya, kau dilarang tidur bersamaku selama 1 Minggu" kata Andy yang memberikan hukuman pada Kayla.
"apa?!" tanya Kayla yang tidak percaya.
"Andy! tidak tidur denganmu selama 1 malam saja sudah membuatku menderita! aku tidak mau menerima hukuman ini" kata Kayla yang berusaha meluluhkan hati Andy.
Adelio dan Adelia yang melihat itu menjadi syok dan malu. bahkan mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan ayah dan ibunya.
"*Adelio, mereka itu sedang bicara apa sih?".
__ADS_1
"mana aku tahu. tapi kurasa mereka sedang mabuk cinta saja*".
TO BE CONTINUED~