
serangan pun dilancarkan dari segala arah. tusukan pedang terdengar jelas ditelinga semua orang.
Dahlia mengendalikan air dengan sihirnya dan Joyce membuat lingkaran sihir untuk menyempurnakan pengendalian Dahlia.
beberapa musuh berhasil ditaklukkan dengan membuat mereka terkurung di dalam air layaknya terjebak di dalam es yang membekukan mereka. prajurit yang lain melawan musuh dari arah lain.
Adelio dan Adelia berpencar ke kanan dan kiri agar musuh mengikuti mereka. begitu sampai di tempat tujuan, mereka akan dikalahkan oleh prajurit, lalu dikalahkan kembali oleh si kembar.
Juve berhasil menaklukkan banyak musuh dengan pedang dan juga strategi yang dibuatnya. ia menaklukkan begitu banyak karena kemarahan yang meluap-luap.
Azel menyatukan dirinya dengan alam sekitar karena dari situ ia mendapatkan sihir alam secara langsung.
kini, ketiga tim berhasil bergabung kembali.
"dengan ini kita memiliki tekad yang bulat. kita akan melindungi negara ini dan juga desa serta warga kecil yang tinggal ditempat ini" kata Juve.
semua mengangkat tangannya dan menyatukan kekuatannya. namun, Juve hanya sendirian tanpa Azel. berkat gabungan itu, terciptalah sebuah lingkaran sihir yang sangat besar di atas langit.
maka makin membesar lingkaran itu, penduduk di kota yang melihat cahaya yang bergerak pelan, menjadi takjub dengan pemandangan itu. ditambah lagi karena saat itu keadaannya malam hari.
"sekarang, kita akan menuju tempatnya" kata Juve.
kini perjalan menuju peperangan yang sesungguhnya hampir tercapai. Azel juga pergi menuju lokasi perang. prajurit Algeria diluncurkan besar-besaran, begitu pula dengan lawannya.
Haast terbang di langit malam melancarkan serangannya yang membuat angin berhembus kencang. kelima bersaudara menunjukkan kehebatan berpedang, sihir, dan juga kepintarannya membuat strategi serta dapat mengetahui lokasi musuh berada.
deru air dapat terdengar dari bawah tanah. komandan pasukan meletakkan telinganya ditanah untuk mendengarkannya.
tanah perlahan-lahan retak dan air mulai keluar. ia segera menjauh dari tempat ia meletakkan telinganya tadi. Lena sempat khawatir dengan Dahlia, namun, ia dikejutkan dengan munculnya Dahlia dari bawah tanah serta air yang juga menjulang tinggi, tidak tumpah.
"itu benar-benar Dahlia?" tanya Lena.
lamunan nya buyar ketika lengannya terkena pedang dari musuh. Dahlia yang melihat itu dari dalam air, menumpahkan airnya ke arah musuh yang berada disekitar ibunya.
Lena terkejut karena air itu sama sekali tidak menuju arahnya, justru membuat lingkaran. Lena kebingungan karena disekelilingnya dipenuhi oleh air.
Lena melihat dari dalam air tampak ada seekor duyung yang berenang-renang didalamnya dan menari dengan indah.
Lena memandang ke atas dan mengetahui bahwa anaknya yang dianggap tidak dapat berguna, justru membuatnya terlindungi dari serangan musuh.
prajurit sihir dari lawan juga menunjukkan kehebatannya sihirnya. ia menciptakan ilusi yang membuat prajurit Algeria kewalahan menghadapinya dan pada akhirnya jatuh terbaring karena masuk kedalam ilusinya.
bahkan Juven beserta saudaranya juga ikut tumbang karena itu. Joyce menangkap Dahlia yang terjatuh dari atas langit dan airnya perlahan memudar.
Dahlia juga terkena ilusi itu.
"apa yang terjadi?" tanya Juve yang terkejut mendapati pemandangan itu.
Juve berlari ke arah Juven yang terbaring tak sadarkan diri.
"ayah! bangunlah!".
__ADS_1
Juve mencoba untuk membangunkan Juven, namun usahanya sungguh sia-sia. bahkan Adelia menangis karena orang tuanya yang tidak dapat dibangunkan, Adelio juga menyerah untuk itu.
"Juve" panggil Haast.
Juve melihat ke arah Haast. ia melangkah mendekati Haast.
"ada apa?" tanya Juve.
"akan kukirim kau ke ibumu" jawab Haast dan dibuatnya lingkaran sihir dibawah kaki Juve.
"tapi ini bukan waktunya!" kata Juve.
"ini waktunya. setelah bertemu dengan ibumu, mintalah pada penyihir istanamu untuk menarik jiwa ibumu dan minta juga padanya untuk membuat boneka yang sama persis seperti ibumu. tapi ingat, jangan sampai kau mengungkapkan identitasmu sebagai anaknya" kata Haast.
"lalu kau sendiri apa gunanya?!" tanya Juve.
"aku akan menghentikan waktu" jawab Haast.
"berapa lama kau akan menghentikannya?" tanya Juve yang akhirnya bisa berbicara santai.
"24 jam. tentunya itu tidak akan mempengaruhi Algeria karena kita diposisi diluar Algeria" jawab Haast.
"pergilah".
Juve berhasil dibawa Haast pergi menemui ibunya. Haast mengepakkan sayapnya dan memancarkan cahaya yang membuat waktu terhenti di lokasi perang.
beralih kepada Juve.. Juve tiba di tempat ia bertemu dengan ibunya saat itu.
"ibu, aku sesak nafas" kata Juve dengan halus.
Lily melepaskan pelukannya dan ia melihat Juve yang berlumuran darah di bajunya. Lily khawatir melihat hal itu dan menanyakannya.
"apa yang terjadi? kenapa kau berlumuran darah begini?" tanya Lily sambil memegang lengan Juve.
"kami berperang" jawab Juve secara singkat.
Lily ingat mengenai perkataan Juven mengenai perang. Lily menatap sendu ke Juve.
"ayo kita bicara banyak" ajaknya sambil tersenyum
Juve duduk disamping Lily dan Lily membuka pembicaraannya.
"apakah sejak kecil kau dirawat dengan baik oleh ayahmu?" tanya Lily.
"iya, ayah memperlakukanku sangat baik meskipun ia selalu membuatku jengkel" jawab Juve.
"kalau dia membuatmu jengkel, kau pukul saja dia" kata Lily.
"itu namanya tidak menghormati orang tua dong" kata Juve yang membuat Lily tertawa kecil.
"siapa yang membawamu ke sini?" tanya Lily yang penasaran.
__ADS_1
"penjagaku yang membawaku ke sini" jawab Juve.
"pantas saja tadi rasanya berbeda sekali" kata Lily.
"maksudnya?" tanya Juve yang bingung.
Lily menggaruk tengkuknya dan cengengesan.
"itu, ibu bisa merasakan sihir ayahmu. kalau ada sihir lain tapi ibu tidak merasakannya, maka sudah pasti itu lain dari ayahmu" jawab Lily.
Lily berhenti menggaruk dan mulai menanyakan berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi hingga sampai-
"apa kau punya pacar, Juve?" tanya Lily sambil tersenyum.
"ti-tidak ada kok!" jawab Juve yang kaget karena pertanyaan yang dilontarkan ibunya terlalu aneh.
"padahal putri ibu secantik ini, mana mungkin belum punya pacar" kata Lily yang mengejek Juve.
"damainya... kau tahu, ibu tidak selalu berada disini" kata Lily sambil meregangkan tubuhnya dan berbaring.
"kenapa?" tanya Juve.
"kami para jiwa sulit untuk keluar dari tempat kami. makanya, karena kebetulan sekali kami bisa keluar, ibu juga menggunakan kesempatan ini untuk bisa menemui ayahmu dan juga dirimu" jawab Lily.
"jadi sesulit itu rupanya.." pikir Juve.
"kadang, ibu sangat menginginkan bisa hidup bertiga dengan ayahmu. seandainya saat itu ibu mematuhi perkataan ayahmu untuk jangan keluar, pasti itu tidak akan terjadi" kata Lily yang tampak menyesali perbuatannya.
"yah, apa gunanya juga menyesalinya. semuanya sudah terlambat" lanjut Lily.
"sekarang umurmu berapa?" tanya Lily.
"17 tahun" jawab Juve.
"ibu kan sudah pernah menanyakan itu, kenapa malah bertanya lagi?" tanya Juve.
"saat itu, ibu tidak terlalu mendengarnya" jawab Lily.
"bukankah ibu juga tidak mengenaliku?" tanya Juve.
Lily mengedipkan matanya tidak percaya. ia tersenyum dan tertawa terbahak-bahak melihat Juve memasang ekspresi wajah yang sama seperti Juven.
"hahahaha hahahaha" tawa Lily.
"kau ini... hahahaha... sama seperti ayahmu" kata Lily yang terus tertawa terbahak-bahak.
"ibu hanya bercanda kok. ibu sudah lama tahu siapa dirimu. kau dan ayahmu sama-sama gampang tertipu" kata Lily sambil mengelap air matanya karena tertawa tadi.
"sungguh tipuan yang sangat berefek" pikir Juve.
TO BE CONTINUED~
__ADS_1