Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 41


__ADS_3

"hmm".


Juve memandangi ayahnya yang sedang tidur di sofa kamarnya.


"kalau ayah tidur disini, berarti ayah tidak tahan untuk baring di kasurnya karena panas" pikir Juve.


Juve mengeluarkan suatu ikat rambut yang terdapat bunga ditengahnya, ia dengan keisengannya mengikat rambut ayahnya.


kiri dan kanan sekarang sudah terikat. dan itu benar-benar terlihat seperti Juve yang baru berumur beberapa bulan saat rambutnya diikat dua keatas.


"hihihi" tawa kecilnya.


Krieet...


pintu tiba-tiba saja terbuka dan tampak pelayan yang sedang membawakan teh serta biskuit.


"Baginda, ini teh anda" panggil pelayan.


bahu Juve terangkat karena kaget, ia melihat bahwa ayahnya bangun. pelayan ikut kaget melihat Juven dengan rambut yang terikat.


Juve menyilangkan tangannya dengan maksud agar pelayan itu tidak memberitahu ayahnya bahwa rambutnya sedang diikat.


"bawalah kemari" perintah Juven.


'kalau kutarik ikatan rambutnya, bisa gawat' kata Juve dalam hatinya.


"kau ada disini juga rupanya" kata Juven yang menoleh ke belakang.


"i-iya.." sahutnya.


"ini, aku bawakan bunga sesuai dengan yang ayah minta tadi" kata Juve yang menyerahkan bunga-bunga itu.


"kau pergilah ambilkan vas bunga" perintah Juven.


"butuh berapa?" tanya pelayan.


"5".


setelah selesai mengantarkan vas bunga, Juve menaruhnya satu persatu dan juga membedakan bunganya.


"ternyata kurang lagi vas nya" kata Juve.


"biarkan saja sisanya. ada ingin ku buat dengan itu" kata Juven.


"...".


Juve pergi keluar untuk berlatih pedang seperti biasanya. kali ini, latihannya sedikit diperkeras. yakni menggunakan pedang asli.


"aku harus berhati-hati ketika menggunakannya. bisa gawat kalau sampai aku melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatannya" pikir Juve.


"lebih baik aku harus berhati-hati. kalau tidak, nyawaku bisa melayang" pikir prajurit, orang yang membantu Juve latihan.


Klang..


Juven yang berada di kamarnya sedang asyik membuat mahkota bunga dari sisa-sisa bunga yang dibawa Juve tadi.


"aku akan mengirim anak itu beberapa hari lagi, aku juga harus beristirahat dulu" pikir Juven.


perhatiannya teralihkan oleh boneka kelinci bewarna hitam milik Juve.


Juven bangkit dari tempat duduknya dan pergi mengambil boneka itu.


"usang dan sobek begini. pantas saja dia lebih suka bermain dengan boneka orang-orangan" pikir Juve.


"Baginda" panggil Lucas dari balik pintu.

__ADS_1


"aku suruh saja dia yang pergi mengambilkan benang dan jarum" pikir Juven.


"masuklah".


"Lucas, pergi ambilkan benang dan jarum" perintah Juven yang langsung saja.


Jedaar...


"baru saja masuk sudah disuruh" pikir Lucas.


Juven menatap datar ke Lucas, mau tidak mau saja ia harus pergi mengambil benang dan jarum.


Beberapa menit kemudian~


setelah mendapatkan benang dan jarum, Juven fokus untuk menjahit Boneka yang sobek itu. karena suasananya aneh, Juven membuka percakapan.


"ada apa?" tanya Juven.


"itu, anda mendapatkan surat lagi" jawab Lucas sambil menyerahkan sebuah surat.


ia berhenti sejenak untuk menjahit. Juven mengambil surat itu dan membukanya. ia melihat surat itu ditulis dengan rapi namun berwarna merah, tentunya itu adalah darah.


"sialan, memaksa untuk berperang sementara pasukan mereka sendiri cuma seberapa" umpat Juven.


"perintahkan sekitar 50 prajurit untuk dikerahkan ke masing-masing lokasi. 10 dan 10 prajurit" perintah Juven.


"tapi Baginda, bukankah ini terlalu mendadak?" tanya Lucas yang sebenarnya kurang setuju.


"kalau kita biarkan bisa jadi masalah. kalau mereka mengincar ku, aku tak masalah. tapi kalau mereka menyentuh warga negara ini, aku tidak akan tinggal diam" jawab Juven.


"aku akan mengatur para prajurit terlebih dahulu, kau pergilah memerintahkan 50 prajurit yang kusuruh tadi. 10 prajurit dari pasukan Elang, dan pasukan-pasukan lainnya" kata Juven.


Juven dan Lucas menuju tempat lokasi para prajurit. kebetulan sekali, Juve sudah selesai berlatihnya. ia melihat ayahnya dan Lucas sedang pergi menuju suatu tempat.


"mereka mau kemana?" tanya Juve.


"tuan putri, ayo pulang!" teriak Nadia dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.


Juve menuruti perkataan Nadia, ia segera pergi pulang menuju istana. tinggal sedikit lagi langkahnya menginjak lantai istana, tangannya ditarik oleh Nadia.


Juve melihat wajah Nadia yang terlihat panik.


"ada apa, Nadia?" tanya Juve yang bingung melihat Nadia yang panik.


"anda harus masuk, musuh mulai menuju istana. pergerakan mereka diketahui oleh prajurit yang sedang berjaga" jawab Nadia.


"ba-baiklah" sahutnya.


Juve segera mengganti pakaiannya, pikirannya mulai kacau. ia terus kepikiran mengenai musuh yang sedang menuju istana.


Juve juga sudah menyiapkan pedang di kamarnya untuk berjaga-jaga. ia melihat ke arah mejanya, terdapat mahkota bunga beserta boneka kelinci miliknya yang sudah bersih dan terjahit rapi.


"cantiknya" pikir Juve sambil tersenyum.


disamping itu, ada sebuah surat yang ditulis oleh ayahnya.


..."*Juve, ada beberapa masalah yang membuatku tidak ada di istana untuk beberapa hari kedepan. jadi, aku minta padamu memimpin istana untuk sementara waktu....


...maaf, aku hanya bisa memberikan mahkota bunga itu. tolong anggap bunga itu sebagai tanda permintaan maafku*"...


"beberapa hari itu... sampai kapan?" tanya Juve.


"ternyata ini putrinya".


dari belakangnya, tampak seseorang yang berpakaian tertutup dan hanya terlihat matanya saja. ia muncul dari balik pintu kamar Juve, karena memang pintu kamar Juve tidak ditutupnya.

__ADS_1


"siapa kau?!" tanya Juve yang berjalan mundur.


kekhawatirannya akan kedatangan penyusup benar-benar terjadi. kini, dihadapannya.


"aku tidak perlu memberitahu hal itu" jawabnya.


"ck".


Juve berlari dan melompat keluar dari kamarnya. ia langsung terjun di tempat ia berlatih.


"aku harus mencari pedang" pikirnya sambil celingak-celinguk mencari pedang.


Juve menemukan pedang yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. namun, 1 tembakan panah hampir mengenainya.


"panah?" tanya Juve sambil menoleh ke belakang dan terus berlari.


Juve berhasil mendapatkan pedangnya dan dihadapannya sekarang sudah ada 2 penjahat yang hendak mencelakainya.


"hiyaaa".


orang itu berlari menuju Juve dan mengarahkan pedang itu padanya.


ada sedikit untungnya, baju tidur Juve tidak sampai tumitnya, jadi ia bisa berlari tanpa terhalang oleh bajunya yang kepanjangan.


Klang..


terdengar bunyi pedang yang saling beradu itu. mata keduanya sangat dekat, bahkan nafas kedua pun dapat dirasakan.


"bagaimana bisa kekuatannya sebesar ini?" pikir orang itu.


Juve mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil membuat orang itu terjatuh beserta pedangnya yang hampir melukai teman rekannya.


"aku tidak akan membiarkanmu menyakiti temanku!" katanya.


ia berlari menuju Juve dan meninggalkan panahnya. sebelum memulai pertarungan yang sesungguhnya, lebih baik melakukan pemanasan dulu.


Juve mengernyitkan dahinya dan tampak lingkaran sihir muncul di kedua matanya. itu artinya, Juve sudah mulai serius untuk memulainya.


Sementara itu~


"entah kenapa aku merasa seperti ada yang sedang terjadi pada Juve" pikir Juven yang sejak tadi merasa gelisah.


"Azel" panggil Juven.


Azel yang mendengar dirinya dipanggil, pergi menuju Juven.


"ada apa, Baginda?" tanya Azel.


"pergilah kembali ke istana, aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi disana" jawab Juven yang memerintahkannya untuk kembali.


"Baginda!" teriak seorang prajurit yang masuk kedalam tenda.


"ada 7 penyusup berhasil masuk ke istana! mereka mengincar tuan putri berniat untuk membunuhnya!" lanjutnya.


"Baginda, saya yang akan pergi dan percayakan ini pada saya" kata Azel.


Azel segera keluar dari tendanya dan langsung berubah menjadi elang. ia terbang dengan cepat menuju istana.


dimalam hari seperti ini, memang sangat cocok untuk dijadikan sebagai cara untuk menyusup ke dalam istana dan mengincar sang bintang istana.


TO BE CONTINUED~


info:


ikat rambut Juven sudah dilepas, ketika ia mendengar prajurit mengatakan mengenai ikat rambut yang mengikat rambutnya.

__ADS_1


Lucas tidak terlalu memperhatikan itu tadi.


__ADS_2