Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 51


__ADS_3

Juve mencari disekelilingnya dan juga dikerumunan orang banyak. Ia sama sekali tidak bisa menemukan jejak putranya.


Ketakutan memenuhi hatinya. Ia berharap kalau Jeyve tidak kenapa-kenapa sebelum dirinya tiba disitu.


Sihir pelacak yang dibuat Juve diarea tempat yang sepi dan gelap, ada yang mendeteksi Jeyve. Mengetahui itu, Juve berlari menuju tempat dimana Jeyve berada.


"Tunggu ibu, Jeyve!" Kata Juve dalam hati.


Dalam perjalanannya, ia dan Heli berpapasan tapi Juve tidak mempedulikan hal tersebut dan terus berlari menuju lokasi Jeyve.


Sementara Heli merasakan ada sesuatu yang sangat dikenalnya melintas melewati dirinya. Ia menengok kebelakang dan tidak melihat siapapun di sana. Meskipun rasanya ada yang tidak asing baginya, ia tidak bisa mengingat siapa.


Jeyve ditahan dan tidak bisa melakukan perlawanan apapun. Ia hanya bisa menangis karena takut.


"Andaikan aku punya kekuatan untuk melawannya, aku tidak akan berakhir begini. Aku juga tidak ingin merepotkan ibu dan ayah" kata Jeyve dalam hati.


Baru saja memikirkan hal itu, orang yang menangkap dan menahannya itu terpental jauh darinya dan pria tersebut menabrak tembok dibelakangnya dengan punggungnya.


Buuk..


"Ibu!" Panggil Jeyve.


Jeyve melihat ibunya yang tampak marah dan aura penuh kemarahan menyelimuti dirinya.


Juve melihat ke arah Jeyve dengan tatapan seakan langsung membunuh orang yang ada dihadapannya.


Jeyve sama sekali tidak berani untuk berbicara apalagi menatap ibunya. Beberapa waktu yang lalu, ayahnya memberitahu bahwa ibunya akan menjadi sangat mengerikan jika ada yang membahayakan sesuatu yang menurut sang ibu sangat berarti.


Juve memegang kerah baju pria tersebut. Dan ia melihat kearah wanita didepannya ini, tatapan mata seperti itu tidak pernah ada yang menunjukkannya.


"Kau siapa sampai berani menyentuh anakku?" Tanya Juve yang penuh dengan amarah yang membara.

__ADS_1


"Dan kau lagi siapa? Selama ini tidak ada yang berani menyentuhku!" Tanya pria itu berbalik pada Juve.


"Ratu Algeria, Juve Athelinda Algeria. Aku adalah ibu dari anak laki-laki yang kau sentuh barusan" jawab Juve.


Dan dibantingnya pria tersebut dengan sangat kuat.


"Sepertinya kau ini adalah seorang pendatang baru dari negara lain. Ingatlah, Algeria mempunyai aturan. Tapi melihatmu seperti ini, berarti kau itu adalah orang yang ditakuti dinegaramu. Tidak dengan Algeria" kata Juve sambil menaruh kakinya di atas perut pria tersebut dan menekannya dengan sepatunya.


Ia pun menyeret pria tersebut karena kesadarannya hilangnya akibat dibanting keras oleh Juve. Sementara Juve memegang tangan Jeyve dan membawanya untuk ikut serta keluar dari tempat gelap tersebut.


Semua mata orang-orang tertuju pada Baginda ratu mereka dan pangeran putra mahkota kerajaan. Serta pria paruh baya yang diseret dan dilepaskan oleh Juve dari tangannya.


"Kalian mulai sekarang harus lebih waspada dengan pendatang asing dari negara lain. Karena, biasanya pendatang tersebut memiliki niat tidak baik. Awasi anak-anak kalian untuk tidak berkeliaran di tempat yang gelap dan sepi, karena mereka bisa saja diculik bahkan dibunuh oleh orang yang merupakan pendatang tersebut" kata Juve.


"Dan untuk kalian juga, gadis-gadis dan wanita-wanita sekalian. Berhati-hatilah jika bertemu dengan seorang pria maupun wanita. Karena bisa saja kau dijebak oleh mereka dan kemudian di perk*sa" lanjut Juve.


Setelah mengatakan hal tersebut, Juve menyerahkan pria tersebut untuk ditangani oleh rakyat dan tentunya untuk dipenjara di penjara rakyat.


Juve dan Jeyve segera pulang ke istana setelah peristiwa tidak terduga tersebut terjadi.


"Seharusnya kau tunggu saja bersama anak itu. Memang bagus dan baik perbuatanmu menolongnya untuk bertemu keluarganya, tapi pikirkan nasibmu dulu. Jika diarea perkotaan tidak diberikan sihir, apa yang akan terjadi padamu?" Juve memarahi Jeyve dan tentunya tidak ada niatan untuk memarahinya tapi karena dirinya masih terbawa emosi, ia sulit untuk mengontrolnya.


"Orang lain selamat tapi kau tidak. Kalau begini, bagaimana caranya ibu bisa melepaskanmu?" Tanya Juve yang menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Jeyve hanya bisa duduk berdiam diri dan menundukkan kepalanya. Ia ingin sekali menjawab pertanyaan dari ibunya, tapi ia juga tahu bahwa dikondisi seperti ini bukan hal yang tepat untuk menjawab pertanyaannya.


Juve bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Jeyve. Dipeluknya erat-erat Jeyve, rasa bersalah karena sudah memarahinya juga menyelimuti hati Juve, tapi ia tidak punya pilihan lain karena Jeyve memiliki sifat keras kepala seperti dirinya.


Ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Jeyve.


"Sudahlah, persiapkan barangmu untuk dibawa esok. Minta pada pelayan untuk membantunya".

__ADS_1


Juve mengakhiri percakapannya dengan Jeyve untuk menenangkan dirinya. Ia juga tidak ingin dirinya meledak karena hal yang tidak terduga.


"Besok, aku akan meminta Azel untuk mengantarnya. Karena aku tahu, Azel pastinya yang akan maju paling depan untuk mengantarnya sampai ke akademi" pikir Juve.


Seperti yang sudah seharusnya. Esoknya, Jeyve telah siap untuk berangkat ke akademi. Awalnya Juve sama sekali tidak merelakan kepergian Jeyve karena kejadiannya kemarin, tapi ia juga harus tahu bahwa ada kalanya dirinya harus melepaskan Jeyve agar bisa tumbuh sesuai dengan keinginannya tanpa dikekang oleh siapapun tapi tetap dalam pengawasan yang tidak menggangu zona kenyamanannya.


Azelhy dan Azelhya sama sekali tidak ingin membiarkan kakaknya pergi meninggalkan mereka, tapi karena tahu bahwa kakaknya akan terlambat, mereka hanya bisa menangis dalam pelukan Juve.


"Selama disekolah, patuhilah aturan yang ada. Jangan berkeliaran sembarangan tanpa pengawasan orang lain apalagi berniat kabur. Jika ada yang mengajakmu untuk kabur dari asrama, jangan kau turuti kemauannya" kata Juve sambil mengelus rambut sekaligus menasehatinya.


"Aku pergi!" Kata Jeyve yang melambaikan tangannya kepada ibu dan 2 adiknya.


"Bersekolah lah yang baik. Lain halnya jika ini dunia modern, aku akan mengandalkan supir pribadi seperti aku dulu" pikir Juve.


"Ibu, kita akan melakukan apa hari ini?" Tanya Azelhy sambil menarik dress Juve.


"Kita latih sihir kalian bagaimana?" Tanya Juve tentang pendapatnya.


"Baik!".


Meskipun masih berumur 8 tahun, Azelhy dan Azelhya merupakan anak yang cukup berbakat dalam bidang sihir.


Azelhy yang memiliki sihir alam dan juga kekuatan ibunya dalam hal memukul.


Azelhya yang mewarisi sihir teleportasi dan sihir untuk membuat suatu ilusi yang diinginkan manusia.


Hanya Azelhya seorang memiliki sihir yang merupakan gabungan dari ibu dan ayahnya. Yakni sihir ilusi. Karena sihir ini memerlukan 2 orang untuk melakukannya.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya" pikir Juve.


Azelhy adalah anak yang lahir dengan masalah kesehatan pada tubuhnya. Sihir alam yang dimilikinya merupakan pemberian Azel, karena begitu lahir ia hampir saja mati. Mau tidak mau, Azel harus mentransfer sihirnya kepada Azelhy agar dapat bertahan.

__ADS_1


Dokter kerajaan sempat memperkirakan bahwa Azelhy akan mati di umur ke 16 tahun, bahkan Harry juga mengatakan hal tersebut. Karena belum tentu, kekuatan alam bisa bertahan selamanya untuk menghidupi nya.


TO BE CONTINUED~


__ADS_2